Gus Yahya Rontok, Tekanan Muktamar Memanas: NU di Titik Kritis

MRp

Dentuman mitraliur paling dahsyat terjadi dalam sejarah NU. Setelah Gus Yahya mencopot Gus Ipul dari kursi Sekjen pada 28 November 2025, Sabtu malam sekitar pukul 21.00 Rais Aam menendang balik sang Ketua Umum dari posisinya.

‎Turbulensi ekstrem dalam dua hari itu merontokkan reputasi NU. Dua pucuk yang seharusnya menjadi penyangga keteduhan justru terbelah, membuat tubuh organisasi bergetar—bisa saja membuat arah jamiyah kehilangan keseimbangan.

‎Di rapat harian syuriyah, kronologi memuncak: langkah Gus Yahya menyingkirkan Gus Ipul tanpa musyawarah terbaca sebagai tantangan frontal terhadap kewenangan syuriyah—sebuah pukulan terbuka yang menyalakan bara di puncak kepemimpinan. Keputusan sepihak itu langsung memantik respons tegas Rais Aam.

‎Dalam hitungan jam, syuriyah bergerak brutal, menjatuhkan Gus Yahya dan menutup dua hari paling gelap dalam tubuh NU.

‎Rais Aam kemudian mengambil alih kendali penuh pasca-kejatuhan Gus Yahya.

‎Jabatan Ketua Umum PBNU dinyatakan kosong, sementara seluruh otoritas strategis berpindah ke tangannya, menegaskan dominasi syuriyah.

‎Langkah ini menegaskan bahwa pucuk kepemimpinan kini sepenuhnya berada di tangan kubu yang selama ini sejalan atau dipengaruhi oleh Gus Ipul.

‎Segera setelah pencopotan, publik NU terpecah. Pendukung Syuriyah dan kubu konservatif menyambut keputusan ini sebagai langkah tegas untuk menjaga marwah dan stabilitas organisasi, mendukung penuh Rais Aam dalam mengendalikan pucuk pimpinan.

‎Sementara itu, loyalis Gus Yahya menunjukkan kekecewaan yang tajam.

‎Mereka mempertanyakan legitimasi keputusan sepihak yang menyingkirkan Ketua Umum tanpa Muktamar, dan Gus Yahya sendiri menolak mundur, menegaskan bahwa mekanisme Syuriyah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketua Umum secara sepihak.

‎Kekecewaan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengurus dan santri, antara mereka yang mempertahankan keputusan Syuriyah dan pihak yang menuntut prosedur kolektif sesuai tradisi NU.

‎Di tengah dua kubu yang bertolak belakang itu, kelompok netral dan masyarakat luas memilih menunggu.

‎Mereka menilai langkah selanjutnya — termasuk proses pemilihan Ketua Umum definitif — akan menentukan arah NU. Jika organisasi mampu menunjukkan stabilitas dan transparansi, kepercayaan publik dapat segera dipulihkan; jika tidak, reputasi NU berisiko tergerus.

‎Kemungkinan terburuk yang bisa muncul pasca-pencopotan Gus Yahya adalah fragmentasi internal yang lebih parah.

‎Jika loyalisnya menolak legitimasi kepemimpinan Rais Aam dan menolak prosedur kolektif, ada risiko terbentuknya kubu tandingan yang menentang setiap keputusan strategis PBNU. Hal ini bisa memicu konflik berkepanjangan, menurunkan kredibilitas organisasi, dan mengaburkan arah kebijakan NU di tingkat pusat maupun wilayah.

‎Di sisi lain, Syuriyah PBNU memiliki opsi muktamar dipercepat untuk menegaskan legitimasi Ketua Umum definitif.

‎Langkah ini bisa menjadi pedang bermata dua: jika proses berlangsung transparan, akurat secara prosedural, dan melibatkan semua elemen pengurus serta kiai sepuh, organisasi dapat cepat kembali stabil.

‎Namun jika percepatan muktamar dianggap tergesa-gesa atau mengabaikan aspirasi loyalis Gus Yahya, hal itu justru dapat memperdalam gesekan internal dan menimbulkan keretakan permanen dalam jamiyah.

‎Dengan tekanan waktu dan dinamika politik internal, arah NU dalam beberapa bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan Rais Aam dan Syuriyah menjaga keseimbangan antara kekuasaan struktural dan legitimasi moral, agar konflik ini tidak menjadi luka panjang yang membekas pada reputasi jamiyah di mata publik dan umat.

‎Kini, seluruh mata tertuju pada langkah berikutnya PBNU dan Syuriyah.

‎Keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa minggu ke depan akan menentukan apakah NU mampu meneguhkan stabilitas internal sekaligus menjaga legitimasi moralnya, atau justru terjebak dalam dinamika politik yang memecah-belah.

‎Publik menunggu dengan cermat, sadar bahwa arah jamiyah terbesar di Indonesia ini akan mencerminkan kekuatan organisasi sekaligus kedalaman tradisi kolektif yang selama ini menjadi pondasi utamanya.

KEPUNAHAN ENDEMIK
Baca Tulisan Lain

KEPUNAHAN ENDEMIK


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *