UANG DAN KEBAHAGIAAN

bahagia

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, melemparkan pernyataan yang sekilas kontroversial: “Bahagia itu bisa dibeli dengan uang.”

Dalam kultur kita yang masih alergi terhadap materialisme, kalimat itu terdengar seperti bid’ah. Namun, bukannya menolak mentah-mentah, saya justru tergelitik untuk menelusuri lebih dalam. Ternyata, di balik pernyataan itu ada landasan ilmiah yang kokoh, sekaligus resonansi spiritual yang telah berabad-abad terucap sebelum laboratorium modern lahir.

Elizabeth W. Dunn, Lara B. Aknin, dan Michael I. Norton dalam makalah klasik mereka tahun 2008 di jurnal Science berjudul “Spending Money on Others Promotes Happiness” membuktikan secara empiris: bahwa mengeluarkan uang untuk orang lain (prosocial spending) terbukti meningkatkan kebahagiaan secara signifikan lebih besar ketimbang membelanjakannya untuk diri sendiri. Eksperimen berulang dapat dilihat dari pemberian bonus tak terduga kepada karyawan hingga uang saku mahasiswa ternyata menghasilkan pola yang sama. Orang yang mengalokasikan sebagian uangnya untuk orang lain memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi.

Temuan ini bukan sekadar statistik kalkulatif. Studi cross-sectional dan longitudinal di berbagai benua menguatkan korelasi positif yang konsisten. Sains, dengan segala ketelitiannya, akhirnya memiliki kesimpulan yang telah lama diucapkan oleh para sufi dan kitab suci: bahwa memberi adalah pintu menuju kebahagiaan yang autentik.

Jalaluddin Rumi, tujuh abad sebelum Dunn menulis rumusnya itu, berkata: “Ketika engkau memberi kepada yang membutuhkan, sesungguhnya engkau memberi kepada Tuhan.” Bagi Rumi, memberi bukan sekadar transaksi sosial, melainkan ibadah ontologis, sebuah pengakuan bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya bukan milik kita. Allah sendiri berfirman dalam QS. Al-An’am: 127, “Bagi mereka (orang-orang yang beramal saleh) darussalam (tempat kedamaian) di sisi Tuhan mereka, dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” Janji ini bukan sekadar imbalan akhirat; ia juga menjelaskan mengapa orang yang gemar berbagi tampak lebih tenang, lebih lapang dada, lebih “bahagia” dalam pengertian yang paling duniawi sekalipun.

Di sini kita menyaksikan sebuah linieritas yang menakjubkan, agama bukan hanya memberikan tuntunan moral, tetapi juga menjadi rahim bagi penemuan ilmiah. Apa yang diwahyukan kepada Nabi, dirangkai ulang oleh para sufi dalam bahasa cinta, lalu dikonfirmasi oleh psikolog positif dengan metode eksperimental. Sains tidak menyangkal agama; ia justru menjadi saksi bisu atas kebenaran yang telah lama diucapkan.

Maka, ketika Stella Christie mengatakan bahagia bisa dibeli dengan uang, ia tidak sedang memuja materialisme. Ia sedang mengajak kita membaca ulang konsep kepemilikan, uang memang netral, tetapi arah aplikasinya menentukan apakah ia menjadi racun atau obat. Memberi bukan pengurangan, melainkan memperbanyak kepemilikan, sebuah paradox yang hanya bisa dipahami oleh hati yang telah terlatih dan mampu melihat pesan sains, filosofis, dan agama, melampaui pemahaman dirinya sendiri.

Di tengah masyarakat yang semakin individualis, penemuan ini sekaligus menjadi kritik tajam. Bahwa selama ini kita terlalu sering mengejar kebahagiaan lewat akumulasi, padahal data—baik data laboratorium maupun keyakinan dalam spiritualitas, menunjukkan jalan sebaliknya. Bahagia yang sejati bukanlah yang kita simpan di rekening, melainkan yang kita lepaskan ke tangan orang lain.

Maka, jika hari ini anda masih ragu untuk berbagi, ingatlah: setiap rupiah yang anda keluarkan untuk kebaikan orang lain adalah investasi pada kebahagiaan anda sendiri. Hal ini dibuktikan oleh sains, ditulis oleh para filsuf, dan disabdakan oleh Tuhan, serta dirasakan oleh hati yang jernih sejak zaman para nabi.

ALLAH MAHA MENGGEMASKAN
Baca Tulisan Lain

ALLAH MAHA MENGGEMASKAN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *