Pulau Kera: Tanah Air di Atas Karang

penulis bersama warga Pulau Kera 1

Tanah air tidak selalu berupa hamparan hijau, air tawar, dan sawah yang tenang. Kadang ia hanya segenggam karang putih di tengah laut: tempat manusia belajar tinggal di antara keras dan lembut, asin dan panas. Di Pulau Kera, yang tampak dari Kupang sebagai garis pasir di tengah laut biru, tanah air dibangun bukan dari tanah, tapi dari kesetiaan. Di sini, rumah berdiri di atas batu karang, bambu direndam dulu di laut agar menjadi tenang, dan satu pohon pepaya tumbuh seperti penanda bahwa hidup, betapapun kering, selalu mencari cara untuk bertahan.

Bagi pemerintah, Pulau Kera hanyalah lokasi transit: tempat yang terlalu jauh dari listrik, air, dan jalan. Tapi bagi mereka yang lahir dan mati di atas karang ini, laut bukan tempat singgah, laut adalah rumah yang sesungguhnya. Mereka punya KTP Kecamatan Sulamu, punya alamat, punya mushala, punya halaman yang setiap paginya dibersihkan dari sampah laut. Mereka bukan pengembara. Mereka bagian dari tanah air yang hanya kebetulan tidak bertanah.

Saya datang ke Pulau Kera bersama tujuh nelayan dari Wakatobi. Dari laut terbuka, pulau itu tampak sunyi, tapi begitu perahu merapat, kehidupan kecilnya terasa nyata: suara anak-anak di beranda bambu, tawa nelayan yang menambatkan perahu, aroma kayu bakar bercampur garam dan minyak tanah. Hari mulai naik, pasir putih sudah panas di kulit kaki. Pasirnya kasar, tapi di situlah mereka menanam hidup.

kami menolak relokasi2

Di depan rumah, batu karang disusun rapi. Yang besar untuk pondasi, yang kecil untuk halaman. Saya pikir semula itu kebetulan, tapi tidak, mereka menata karang seperti menata doa, agar rumah kuat tapi tetap bernapas. Di dinding papan dan anyaman bambu, cat hijau pudar menyimpan sisa tangan-tangan lama. Satu pintu menuliskan kalimat besar: KAMI MENOLAK RELOKASI.

kupang dari pulau kera

Pemerintah menyebut mereka “warga transit.” Istilah itu terdengar sopan di rapat, tapi di pulau ini terasa seperti penghapusan perlahan. Bagaimana bisa disebut transit jika mereka sudah lahir dan mati di sini? Di tangan mereka ada KTP Kecamatan Sulamu, tanda resmi dari negara yang mengakui bahwa mereka bagian dari wilayah ini. Mereka tidak datang semalam, tidak menumpang. Mereka tinggal. Mereka hidup. KTP itu, sekeping kartu plastik sederhana, adalah bukti bahwa negara tahu mereka ada. Tapi entah mengapa, pengakuan itu berhenti di data, tidak sampai pada kebijakan. Mereka diakui di sistem, tapi dihapus di darat. Sementara di sini, mereka membangun rumah, mushala, halaman, dan kehidupan. Mereka tidak menunggu belas kasih, mereka hanya menunggu keadilan yang sepadan dengan keberadaan. Transit bagi siapa? Bagi orang darat yang menatap dari jauh, mungkin iya. Tapi laut tidak mengenal transit. Laut tidak meminjamkan ruang, laut menerima atau menolak. Dan Pulau Kera sudah lama menerimanya: dengan pasir panas, dengan bambu yang direndam laut, dengan pepaya satu-satunya yang masih tumbuh di tanah karang.

kolong rumah yang bersih

Di sekitar rumah, pasir bersih sampai ke kolong-kolongnya. Tak ada sampah, tak ada plastik, tak ada sisa laut yang membusuk. Mereka menjaga rumah seperti menjaga napas. Kebersihan di sini bukan pekerjaan, tapi cara hidup karena laut hanya memberi kepada yang menjaganya tetap bersih. Di belakang rumah, ada gudang kecil yang dipakai tiga atau empat keluarga, tempat menyimpan air, kayu bakar, dan peralatan laut. Kayu-kayu itu bukan hasil tebang, melainkan kayu mati yang terdampar di pantai. Disusun rapi, seolah setiap batang masih punya nama. Itulah sebabnya kolong rumah mereka bersih: karena barang yang bisa berserakan dikumpulkan bersama. Di sini, keteraturan bukan perintah, tapi kesepakatan diam. Mungkin itulah arti paling jujur dari kata “berbagi” bukan kebijakan, tapi cara hidup.

malam hari

Rumah tempat saya tidur terbuat dari bambu yang telah direndam di laut selama sepekan. Warnanya gelap dan dingin. Kata mereka, bambu yang sudah direndam laut akan menenangkan saat tidur. Bambu yang tidak direndam dipakai di beranda, tempat mereka menumpuk pukat, dayung, dan tali. Beranda bukan tempat tidur hanya tempat singgah. “Kalau tidur di beranda,” kata mereka, “ombak bisa memanggilmu sebelum pagi.” Saya percaya, sebab malam itu, saat saya berbaring di atas bambu yang direndam laut, tidur terasa tenang seperti laut pasang yang pelan.

pohon pepaya di samping gudang

Di tengah kampung ada satu-satunya pohon pepaya. Daunnya jarang, batangnya kurus, tapi semua orang tahu di mana ia tumbuh. Mereka menyebutnya pohon obat: daunnya untuk demam, getahnya untuk luka, buah mudanya untuk perut yang nyeri. Di tempat tanpa apotek, satu pohon bisa jadi penyelamat. Mungkin akar pepaya itu tumbuh di antara pasir dan karang, mencari air asin yang tak pernah benar-benar segar seperti hidup orang-orang di sini, tumbuh di tempat yang tak menjanjikan, tapi tetap memberi.

jemuran pagi jam 9

Menjelang magrib, ibu pemilik rumah berdiri di beranda dan berteriak pada dua nelayan di perahunya di bibir pantai. Suaranya tegas tapi akrab, seperti bagian dari percakapan sehari-hari dengan laut. “Carikan ikan untuk malam ini!” katanya. Ia tak menunggu jawaban. Tangannya sudah menyiapkan kayu bakar, panci, dan bumbu yang sebagian besar ia simpan di kaleng susu bekas. Bau serai dan daun jeruk mulai menyebar sebelum ikan datang. Dua jam kemudian, seorang nelayan membawa tiga ekor ikan sori, sepanjang dua lengan orang dewasa. Di mulut ikan masih ada sisa benang biru halus, tanda umpan yang baru saja ditarik. Nelayan lain datang membawa dua cakalang sebesar guling. Mereka tidak melaut jauh, hanya memancing di depan rumah, di atas perahu yang masih ditambatkan tali di pasir. Ibu itu membersihkan ikan sori, tangannya cepat tapi tidak tergesa, seperti sudah hafal urutannya sejak lama. Air asin membasahi lengannya, tapi ia tak mengelapnya. Ia memasak parende, kuah bening khas Buton yang harum serai dan asam. Di sisi lain, dua nelayan menyalakan api di depan rumah, di samping perahu yang sedang mereka kerjakan. Asap ikan cakalang naik bercampur bau solar dari perahu. Ada dua versi: bakar matang dan bakar setengah matang. Yang terakhir itulah yang paling saya sukai, lembap, asin, dan masih menyimpan rasa laut. Malam datang perlahan, dan rumah menjadi ruang antara laut dan langit. Ibu itu menyajikan ikan di piring seng. Saya melihat matanya memantulkan nyala api kecil, bukan cahaya lampu, tapi cahaya dari sesuatu yang lebih tua: cara bertahan hidup. Di laut, lelaki mungkin yang melaut. Tapi di rumah, perempuanlah yang menjaga laut tetap hidup.

Pagi terakhir sebelum saya pulang, anak-anak duduk di beranda bambu tempat saya biasa menulis catatan. Mereka tertawa, menirukan suara ombak dengan tangan di mulut. Saya teringat kata orang tua di sini: beranda bukan tempat tidur, hanya tempat singgah. Tapi saya pikir, mungkin di situlah masa depan sedang belajar duduk, memandang laut, dan menunggu waktunya berlayar.

Sebelum perahu kembali ke Kupang, saya berpamitan. Beberapa lelaki menyalami saya, perempuan mengangguk pelan, anak-anak melambai dari pasir. Tak ada tangis, tak ada kalimat panjang. Hanya kesunyian yang jernih, seperti laut yang tahu bahwa setiap perpisahan hanyalah gelombang kecil di antara musim. Di Pulau Kera, hidup tidak pernah berhenti hanya berganti arus.

Malam terakhir sebelum saya meninggalkan pulau, satu rumah menyalakan genset solar. Suara mesinnya bergetar lembut seperti napas. Di atas meja kayu, kabel-kabel putih menjalar seperti akar laut, menghubungkan puluhan ponsel ke satu sumber tenaga. Sekali mengecas dikenai tiga ribu rupiah, uang untuk membeli solar agar cahaya kecil itu tetap hidup. Tak ada yang mengeluh. Bau solar bercampur udara asin laut, tapi di tengah gelap, lampu hijau kecil di kepala kabel itu tampak seperti jantung kampung. Di kota, tiga ribu rupiah hanya cukup untuk permen. Di sini, nilainya setengah hari keterhubungan: dengan keluarga di darat, dengan kabar cuaca, dengan dunia yang mungkin tak tahu mereka ada.

Saya tidur di lantai bambu yang dingin, suara ombak masih terdengar pelan. Laut tidak pernah jauh di sini, ia hadir di bambu, di rumah, di udara, bahkan di listrik yang berputar dari genset kecil. Segalanya berasal dari laut dan kembali ke laut.

kami menolak relokasi

Saya teringat tulisan besar di pintu rumah itu, kalimat sederhana yang terdengar seperti doa: menolak pergi dari laut yang sudah menjadi hidup mereka. Di tempat yang bagi banyak orang tampak keras, mereka sudah lama belajar hidup dengan lembut, menjaga rumah, menata batu, menenangkan bambu, menyalakan genset, menyambung arus kecil agar dunia tahu: Pulau ini masih hidup.

Dan saya bertanya dalam hati: berapa lama lagi Pulau Kera bisa bertahan dengan pasirnya yang panas, airnya yang asin, dan keyakinan yang seteguh bambu yang direndam laut?***

Adhy Rical, Tukang jalan yang menyukai sastra, film, dan seni pertunjukan.

PENGALENGAN YANG HILANG
Baca Tulisan Lain

PENGALENGAN YANG HILANG


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *