Metafora Heraklius menyebut, “kita tak dapat masuk sungai yang sama dua kali, karena airnya terus mengalir dan berubah”. ia percaya tidak ada yang konstan kecuali perubahan.
Benar, zaman berubah, setiap generasi mengukir narasinya sendiri. Baby Boomers dan Gen X misalnya, terikat pada imperatif bertahan hidup, kerja sebagai benteng kekayaan, gaji menjadi nadi, dan kemapanan itu tujuan.
Kaum Milenial, yang lahir era 80 hingga 90-an, hadir mendobrak dogma itu. “Hidup bukan soal bertahan, tapi tentang makna,” passion menjadi kompas, work-life balance jadi harga diri.
Lalu, generasi Z muncul; passion saja tak cukup; perlu purpose. pekerjaan berdampak, fleksibel, dan memberi ruang ekspresi.
Tetapi kebosanan datang menghantui, jadi musuh laten, karena monoton, dan mendorong mereka pergi.
Kini, Generasi Alfa menyusul, mereka lahir bersama AI dan dunia virtual, menorehkan babak baru, passion bukan lagi pilihan, melainkan standar hidup.
Bayangkan, di ekosistem creator economy, anak 12 tahun jadi YouTuber, remaja belasan tahun bangun startup, mereka kaya, hidup untuk mencipta, bukan sekadar ada.
Jean-Paul Sartre, pernah berkata, “Manusia adalah apa yang ia buat dari dirinya sendiri. ”Milenial mencari makna dalam kebebasan, Gen Z mengejar tujuan, dan Alfa mengukir identitas melalui karya.
Ini bukan sekadar tren, tapi manifestasi eksistensial: dari bertahan demi ada, menuju mencipta demi menjadi sesuatu.
Pertanyaannya, apakah kita mampu merangkul kebebasan mereka, atau menyesatkan dengan dalil-dalil masa lalu menakutkan?
Kata Kahlil Gibran “Forget the past, for it is gone. Think of the present, for it is all you have.” Lupakan masa lalu karena sudah berlalu, pikirkan masa kini, karena itu yang kamu miliki.









