“It’s not what happens to you, but how you react to it that matters,” kata Epictetus. Kalimat ini selalu terasa seperti tamparan lembut yang membuka mata.
Benar sekali.
Yang menentukan damai atau tidaknya hati kita bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan cara kita menyambutnya.
Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang datang, rencana yang sudah disusun rapi bisa ambruk dalam sekejap,
harapan yang dirawat bertahun-tahun bisa lenyap begitu saja, rezeki yang sudah di depan mata tiba-tiba berubah wajah menjadi musibah.
Namun, kita selalu punya kuasa atas respons itu.
Jalaluddin Rumi berkata, “Di luar gagasan benar dan salah, ada sebuah ladang. Aku akan bertemu denganmu di sana.”
Ladang itu adalah ruang luas tempat sukacita dan duka sama-sama menjadi guru.
Setiap kejadian, baik yang kita sambut dengan senyum maupun yang kita tolak dengan tangis—adalah undangan lembut untuk mendekat kepada hikmah yang lebih dalam.
Firman-Nya pun berbisik, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu sangat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu sangat buruk bagimu.
Allah SWT mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menilai buku dari sampulnya.
Kehilangan yang terasa seperti hukuman bisa jadi pembebasan. Penundaan yang menyakitkan bisa jadi perlindungan. Kesedihan yang datang bertubi-tubi bisa jadi proses pemurnian jiwa.
Tak ada yang sia-sia dalam skenario Sang Penulis. Setiap plot twist, setiap bab yang terasa kelam, pada akhirnya menguatkan, bukan melemahkan.
Karena di balik semua itu, ada rencana kasih sayang yang jauh lebih indah daripada yang bisa kita bayangkan.









