musim cabul mencabul yang muda maupun tuabangka siapapun mereka gila mencabul-cabuli wanita di bawah umur pembantu rumah tangga perawan muda belia wanita hamil maupun nenek-nenek jadi obyek cabul mencabuli betapa bejatnya, tak bermoral
musim cabul mencabuli yang nganggur maupun guru ngaji guru sekolah maupun para dosen siapapun mereka bahkan para pejabat anggota dewan para direksi maupun tokoh agama gila bermain cabul gila mencabul-cabuli wanita di bawah umur pembantu rumah tangga perawan muda belia wanita hamil maupun nenek-nenek betapa kejinya mencabuli
musim cabul mencabul terus menjalar di mana-mana makin banyak wanita dirusak masa depannya dicabuli kehidupannya tetap seberat apa hukuman bagi pencabul tak dapat merubah dan bersihkan dirinya dari noda pencabulan
Diro Aritonang, lahir 3 April 1957 di Kota Kalianda, Lampung Selatan, penyair progresif ini mantan watawan Pikiran Rakyat. Adalah pelopor haiku di Indonesia, kini sebagai Presiden HaikuKu Indonesia. Alumini Fak. Sastra Unpad dan Sekolah Tinggi Filsafat Suryagung Bumi Bandung ini, telah menerbitkan Buku Puisi tunggalnya: “Kesadaran” (1980), “Penyair Bawah Tanah” (1981), “Akar Rumputan” (1996), “The Song of Krakatoa” (Deepublish, Yogyakarta 2014), “The Sound of Silence” (Bandung, Postaka HaikuKu, 2016), “Puitika Hitam” (Bandung Pustaka HaikuKu, 2020), Kumpulan tulisan “Jagat Haiku” (Bandung, Pustaka HaikuKu, 2017) dan puluhan antologi puisi bersma. Serta buku laporan jurnalistiknya “Runtuhnya Rezim daripada Soeharto, Rekaman Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1998” (Pustaka Hidayah, 1999).
Dalam wacana pendidikan, viralnya ungkapan “guru beban negara” memicu perdebatan publik. Jika dicermati secara netral, istilah kata “beban” tidak selalu…