Bilamana di detik-detik sangkakala hendak ditiupkan oleh malaikat Israfil, azazil dengan segenap keturunannya berbondong-bondong mengunjungi makam nabi Adam as, dan bersujud, adakah Allah mengampuni segenap kesalahannya, sebagaimana dikisahkan, iblis laknatullah datang kepada nabi Musa as., dan berkata: “Engkaulah yang dipilih Allah Ta’ala untuk risalah dan langsung berkata-kata kepadamu, sedang aku seorang makhluk biasa, yang ingin juga bertaubat kepada Tuhan, maka tolonglah aku semoga dapat diterima taubatku”.
Mendengar perkataan iblis itu, nabi Musa as., merasa gembira lalu beliau berwudhu’ dan salat kemudian berdoa kepada Allah: “Ya Rabb, ibkis (laknatullah) adalah makhluk-Mu. Ia akan bertaubat, maka terimalah tobatnya”. Maka turunlah wahyu kepada nabi Musa as., “Ya Musa, dia tidak akan bertobat”. Nabi Musa berkata: “Ya Rabb, dia minta taubat”. Maka wahyu turun lagi kepada nabi Musa as.,: “Aku telah menerima permintaamu Musa, maka suruhlah ia sujud ke kuburan Adam ‘alaihissalam, maka Aku akan menerima taubatnya”.
Nambi Musa as., sangat gembira dan menyampaikan wahyu itu kepada iblis, tiba-tiba iblis marah dan sombong seraya berkata: “Aku tidak sujud kepadanya di masa hidupnya, bagaimana akan sujud sesudah matinya?” Benar. Di itu waktu, iblis tidak mau melaksanakannya bahkan ia berkata; “Hai Musa, karena engkau telah menolongku kepada Tuhan, maka kini engkau berhak mendapat hadiah dariku. Maka aku berpesan kepadamu dengan tiga hal yaitu:
“Ingatlah aku ketika marah, sebab aku di dalam tubuhmu mengikuti aliran darah. Ingatlah aku ketika menghadapi musuh dalam perang sebab aku datang kepada anak Adam mengingatkan kepadanya keadaan istri dan anak keluarganya serta hartanya sehingga ia lari ke belakang. Jangan duduk sendirian dengan perempuan yang bukan mahram sebab aku menjadi utusannya padamu dan utusanku padanya.” tegas iblis.
Ya, sekali lagi; bilamana hal itu terjadi dan bilamana Allah memaafkan segenap kesalahannya; oh, betapa ruginya umat manusia. Betapa ruginya keturunan Adam as., dan Hawa, dalam perjalanan berikutnya. Ya, bukankah hidup dan kehidupan manusia bukan sekadar di bumiNya saja? Dan yang paling lebih menyedihkan bukan fenomena dalam kalang bilamana itu terjadi, tapi diamnya orang-orang yang tahu akan kisah percakapan antara Musa as., dan iblis. Apakah karena ketakutan? Ataukah karena sudah terbiasa dengan sistem yang tak masuk akal? Ya, sebagaimana kita masih sering menemui orang bakhil, pemarah dan pemabuk. Bukankah tiga hal itu yang disesatkan oleh iblis dalam menjerumuskan keturunan Adam as., dan Hawa?
Manusia apabila bakhil, maka ia akan enggan mengeluarkan hartanya untuk menunaikan kewajibannya. Apabila ia pemarah, maka iblis akan mempermainkannya seperti anak kecil bermain bola. Meskipun ia dapat menghidupkan orang mati dengan doanya, iblis tidak patah harapan untuk menyesatkannya. Sebab manusia membangun dan iblis akan merobohkan dengan satu kalimat saja. Demikian pula jika seseorang mabuk, maka iblis akan mudah menuntunnya kepada kejahatan sebagaimana kambing dituntun oleh penggembala.
Ah, rasanya ini pun hanya praduga saja. Bukankah di zaman kesempurnaan agama ini, mayor orang sudah tahu kuncinya dari arah mana saja kala iblis menggoda laku dirinya? Musabab dari itulah, jika kita hanya berpikir bahwa tugas iblis hanya sekadar menghasut umat manusia, untuk berbuat maksiat dan dosa, maka hal itu salah besar. Sebab tugas iblis pun menghasut umat manusia agar rajin beribadah dan berbuat baik. Sampai manusia itu merasa dirinya paling sempurna, dan merasa dirinya paling suci dari manusia lainnya.
Sebagaimana nabi Yahya as., bertemu iblis, lalu bertanya padanya; “Wahai iblis, beritahukan kepadaku, manusia yang paling engkau sukai?” Kemudian iblis berkata; “Manusia yang paling aku sukai adalah orang mukmin yang kikir. Manusia yang paling aku benci adalah orang fasik yang dermawan.” Nabi Yahya as., balik bertanya; “Kenapa?” Dan iblis menjawab; “Karena orang yang kikir sudah cukup bagiku sifat kikirnya. Sedangkan orang yang dermawan, aku khawatir Allah melihat sifat dermawan pada dirinya, lalu Allah menerimanya.” Kemudian iblis berpaling dan berkata; “Seandainya engkau bukan Yahya, sungguh aku tidak akan memberitahumu.”
Sepertihalnya yang sudah kita ketahui bersama bahwa pertanyaan di alam kubur dengan segenap jawabannya sudah kita ketahui. Namun, konon katanya; masih saja banyak yang tak bisa menjawab pertanyaan itu di alam kubur. Adakah ini penanda dari suksesnya iblis yang menggoda keturunan Adam as., dan Hawa, atau jangan-jangan kodrati manusia pun memiliki sifat pembangkang? Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama pula, ragam kasus hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam, yang merusaknya itu tiada lain berpijak dari ragamnya ingin manusia, hingga menjadi tikai sepanjang waktu, yang berujung di ranah hukum.
Bisakah simpulnya itu bahwa; kodrati manusia itu mencakup potensi untuk menjadi makhluk yang mulia, namun juga memiliki kelemahan dan kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan. Benarkah? Wallahu’alam. []









