SURAT PUTIH UNTUK WIRA
: Agastya Imdan Wiradinata
Seperti pertapa yang tak nampak membaca
Hari-hari lewat begitu saja, sejak kau terlahir
Dari rahimku. Tumbuhlah diasuh ragam kata
Lama-lama berani melontar pendapat ke hilir
Khawatirku mulai merasuki pikir, tapi inilah
Hidup. Sungai. Kebun. Sawah. Jalan dan rel
Kereta engkau jelajahi tanpa sepengetahuan
Pulang sekolah langsung bermain katapel
Layang-layang putus dikejar. Terkenangku
Di masa kecil bersepeda menyisir tepi laut
Sepertimu pulang-pulang menjelang senja
Tubuh basah kuyup penuh ceria. Tak kuasa
Marah. Detik bergeser. Gigil tubuh. Selimut
Tebal. Terbaringmu di ranjang putih. Pautan
Buah hati begitu terasa ikut merasakan kalut
Meski tak ada kemelut, langkah terasa rentan
Waktu terus bergulir. Sadarku sekadar batu
Loncatan. Berlarilah sejauh keyakinanmu
Anakku. Sujudlah pada sesama dan semesta
Sebab itu kunci dalam meretas ruas makna
Tunduklah pada Pencipta sampai kembali
Jangan engkau lupakan renung di saban hari
Sebab itu titik diri yang harus bisa diperbaiki
Ada banyak rupa jalan yang harus engkau lalui
Duli-duli di kaki senantiasa harus dibersihkan
Sebagaimana engkau yang memungut buah
Di halaman rumah, sebelum engkau memakan
Hidup harus bisa merasakan sebelum petuah
Menyusup ke ulu hati. Jangan berhenti baca
Dan berkaca sebelum matamu berkaca-kaca
Mengembaralah ke segenap arah mata angin
Tapi harus bisa lepaskan ingin dengan dingin
Percaya pada Tuhan yang akan menggantikan
Jangan rakus seperti tikus. Jangan pula tamak
Ingat selalu pada gugurnya angka di almanak
Sebab datang dan pergi itu tak bisa terjudikan
Aku tuliskan wasiat panjang ini di hari keramat
Sebagai penanda bahwa hidup begitu terasa
Singkat, tapi penuh sekat yang harus terangkat
Kelak, engkau akan mengerti di kala merasa
030824

PUISI Harris Priade Bah
SURAT PUTIH UNTUK ATMA
: Adiba Humaira Atmawinata
Engkau yang kubaca sebagai pelipur lara
Hari-harimu penuh dengan napas bahagia
Sedikit bicara pitik bapakmu yang lentera
Kata-kata tak pernah ditebar jadi euphoria
Tapi selalu nampak bahagia hingga banyak
Orang salah menerka padahal hatinya lara
Kala engkau berkata-kata entah dengan siapa
Awalnya aku kira? Lama-lama mengerti banyak
Bumi dicipta bukan untuk makhluk kasat mata
Saja. Terkadang engkau bawa makanan entah
Dari mana. Padahal uang jajan masih utuh saja
Di kantung celana. Tajam sorot mata memecah
Waktu. Selalu ada saja penanda yang diberikan
Seperti di kala itu bilamana aku ikut rombongan
Tentu sudah lain gambaran. Nyamanmu dalam
Menyepi tak jadi khawatir ini diri, meski kelam
Terasa mencekam di sebalik dada. Engkaulah
Pelipur hatiku yang selalu mengerti. Tumbuhlah
Dengan penuh kesadaran dalam tiap langkah
Sebab hidup itu tak bisa lepas dari jejak patah
Baca selalu apa saja yang ada di hadapanmu
Guna lebih berfungsi telinga, mata dan hatimu
Di depan, banyak sudah alamat yang samar
Dan kita tak bisa menghindar dari lelaku camar
Tapi ketika hati sudah terpaut dengan Pencipta
Tak ada yang bisa rudapaksa. Senantiasa tata
Akan terasa arahnya ke mana. Petiklah apa pun
Yang ingin dipetik tapi jangan lupa pengampun
Untuk diri dan sesama. Sebab Tuhan punya
Segudang rencana dari yang tak bisa dipetik
Tunduk dan patuhlah pada semua putusanNya
Nikmati alur sebelum sampai pada makna titik
Satu-satu gigiku tanggal seperti gugur daun
Satu-satu engkau mulai hafal alamat-alamat
Jadikan sebagai gudang keramat bahan tenun
Sebab kunci buka pintu itu lincah melompat
Dalam rajut solusi dengan pondasi berserah diri
Pada Sang Hyang Widhi. Terasa kemarin isakmu
Menjadi-jadi kala kali pertama terlahir ke bumi
Sakit di selangkangan sudah hilang. Mekarmu
Seperti bunga. Jaga indahnya sampai tamu
Datang meminang. Aku tuliskan gelisah ini
Sebagai wakil rasa yang tak bisa dijabarkan
Sepenuh makna. Penanda-penanda mini ini
Bisa engkau cerna kala rasa dibaca rasakan
Masak-masak dalam tetimangan dedah kata
Kala ucapkan janji, sebab adanya kegelisahan
Hati, bermula dari jumawa. Rusaklah data kita
180924









