Sajak Tukang Wartawan pada Istrinya
Aku ini cuma tukang wartawan,
penyambung kata di antara jeda dan kesunyian, berlari dari kabar ke kabar, mencatat luka, menyalin harapan dalam berita yang tak semua orang sudi baca.
Kau, istriku, adalah matahari
tak hanya bersinar tapi menghangatkan langkahku yang kadang pulang dengan lelah, kadang tak pulang sama sekali
karena harus mengejar suara yang tenggelam di balik suara-suara yang lebih keras dan lebih dianggap.
Aku ini kumbang liar,
menyusuri ladang peristiwa yang penuh debu dan kadang diludahi karena tulisan dianggap tak penting, karena aku bukan penyair, bukan pahlawan, hanya pencatat yang nyaris dilupakan.
Tapi kaulah bunga matahariku,
yang setiap pagi membuka kelopak tanpa mengeluh, meski aku lebih sering membawa kabar buruk daripada sekotak martabak atau seikat senyum.
Kau tahu?
Cintaku bukan pada dunia yang riuh ini,
tapi padamu yang diam-diam memetik sabar saat aku sibuk mewawancarai derita orang lain, padahal luka sendiri belum sempat kuseka.
Kita bukan kisah yang viral,
tapi kita nyata. Kau setia di ujung doa,
dan aku setia menulis, agar dunia tahu:
ada cinta yang tumbuh dari peluh dan debu, bukan dari pujian atau panggung semu.
Istriku, jika nanti aku tak sempat pulang
karena tertimbun tugas atau tenggelam dalam kejar tayang, ingatlah:
hatiku selalu menulis namamu
di lembar paling sunyi dalam hidupku.
2024



