MIMESIS SEBAGAI KUNCI PEMANGGUNGAN

panggung

Ketika seorang penulis membuat teks naskah drama, secara otomatis tidak sembarang asal jadi. Bahkan sampai menempatkan nama-nama tokoh pun terkadang menyimpan tanda dan atau penanda. Belum lagi dengan alur dialog yang sudah barang tentu menyimpan sandi dalam wara. Sebab para penulis menulis teks drama dikarenakan salah satunya ada kegelisahan yang ingin diungkapkan ke publik dari pecahnya konvensi di masyarakat.

Disinilah perlunya salah satu ilmu dramaturgi untuk bisa membedah teks, interteks dan konteks naskah itu. Studi Dramaturgi  berbicara tentang struktur drama dan bagaimana elemen-elemen drama ditampilkan di atas panggung. Secara lebih luas, dramaturgi juga dapat dipahami sebagai cara untuk menganalisis interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan metafora teater, di mana individu aKtor berperan memaikan peristiwa dan tokoh lain diluar dirinya diatas panggung dihadapan penonton.

Sebagaimana yang ditulis oleh Erving Goffman dalam “The Presentation of Self in Everyday Life” dan “Frame Analysis”, melihat kehidupan sosial sebagai sebuah panggung, di mana individu berperan dan memainkan tokoh atau karaker dalam cerita drama di hadapan orang lain. Mereka melakukan “impression management,” yaitu berusaha memainkan karakter sesuai keinginan penulis dengan tidak menghilangkan kesan realis dan natural layaknya diri mereka sendiri saat lepas dari frame panggung. Arti kata lain tidak ada jarak antara aktor dengan karakter yang dia bangun diluar dirinya. Sehingga tecipta kesan pola permainan yang terasa tidak jujur dan palsu.

Sebagai pakar sosiolog yang terkenal, ia berpendapat bahwa ilmu dramaturgi itu suatu pendekatan teoritis dalam sosiologi yang memandang interaksi sosial sebagai pertunjukan teater. Berpijak dari sudut pandang bagian itulah maka seorang seniman (tidak hanya aKtor) tidak bisa tidak untuk menggali sedalam dalamnya cerita tersebut hingga tuntas.

Sebab hal ini berkaitan erat dengan aspek-aspek yang ada di dalam tubuh teks lakon drama tersebut, dari mulai: Karakter tokoh, setting, kostum, dialog, dan bagaimana semua elemen ini bekerja sama untuk menciptakan pengalaman teater yang kohesif dan bermakna. Selama tiga tahun ke belakang, secara kebetulan saya kembali pindah ke sebuah kota yang membesarkan saya di dunia pemeranan.

Tanpa disadari saya menjadi pengamat terselubung dalam konteks menyaksikan ujian akhir penyutradaraan, keaktoran di sebuah Institusi Seni. Zaman boleh berubah dan memang itulah hukum alam adanya, tapi jangan pula keilmuan jadi semakin mundur. Suguhan-suguhan yang ditampilkan oleh penyaji ujian tak ubahnya pementasan sebuah sanggar hasil dari otodidak yang notabene kurang mendapatkan disiplin ilmu seperti yang seharusnya diberikan oleh para pengajar disebuah institusi perguruan tinggi seni. Bahkan yang terkesan oleh saya sebagai penonton adalah permainan seorang seniman otodidak justru mereka bermain lebih jujur dan sadar ruang ketimbang permainan seniman yang memiliki bekal keilmuan.

Kenapa bisa terjadi seperti itu? Apakah kualitas dosennya ataukah pemahaman ilmu yang diserap oleh para calon sarjana seni hanya sebatas itu pemahaman dalam mencerna dari segenap ilmu sinambung yang didapatkannya di ruang kuliah? Atau ada faktor lain yang menghambat imaji mereka dalam memecahkan sebuah isi teks naskah drama yang dipilihnya tersebut? Dari coppy paste, semisal; tanpa lagi memahami maksudnya.

Artinya secara konsep tulisan sudah benar, tapi secara pengaplikasiannya, sebenarnya mereka bingung dan dosen pembimbing melepaskannya dalam eksplorasi dengan melihat dari draf konsep garap sudah benar. Sehingga mereka hanya mengandalkan tafsir yang sudah di acc konsep garapnya oleh dosen pembimbingnya. Atau adakah kemungkinan lainnya sehingga bisa dikatakan seakan adanya pembiaran hal ini terjadi di ruang akademisi? Hilangnya Role model mungkin, atau karena kesombongan seniman intelek yang merasa bahwa dirinya sudah berbekal banyak ilmu yang menguap tidak terserap dengan baik? Entahlah.

Bisa jadi sudut pandang ini pun sebagai poin subjektif saya saja. Akan tetapi, kenapa pula para senior jauh di atas angkatan saya pun ikut merasakan hal yang serupa? Pun dalam kasus ujian penyutradaan sama saja: Para aktor yang digarapnya hanya menjadi sebuah permainan yang flat; secara intonasi, diksi, tone suara, etc; ditambah tidak ada pembeda antara aktor yang satu dengan aktor lain dalam memainkan ragam karakter diatas panggung.

Padahal, setiap karakter tokoh yang dibangun oleh penulis membawa iramanya sendiri. Katakanlah ketika naskah realis jadi pilihan untuk bahan ujiannya, apakah memang iya berbicara berhadapan dengan jarak kurang dari satu meter harus mengeluarkan ekspresi marah dengan berteriak yang tidak masuk akal? Jika pun tujuannya pembesaran, bukan berarti jadi terkesan seperti sedang bicara dibeda ruang yang sengaja dibuat berjarak. Seringkali justru seniman intelek tidak sadar ruang dan melupakan logika-logika bermain. Dianggapnya bahwa ruang panggung sama sekali lepas dari ruang kehidupan nyata sehingga mereka bermain seperti sedang bermain atau memainkan peristiwa yang ngarang dan membentuk permainan yang “ngekting”

Ukuran panggung yang besar dengan jarak penonton yang jauh, bukanlah faktor alasan, sebab sudah terbantu dengan generator yang menggantung di atas button panggung. Bukankah kunci utama dalam pemanggungan itu mimesis? Sebab dalam konteks pemanggungan teater, kita mengenal istilah “brain style” atau gaya berpikir tidak memiliki definisi atau istilah yang baku.

Namun, istilah ini bisa diartikan sebagai gaya atau pendekatan dalam berteater yang menekankan pada proses berpikir, eksplorasi ide, dan pengembangan karakter secara mendalam, bukan hanya pada aspek teknis atau penampilan belaka. Gaya ini mengutamakan bagaimana aktor atau sutradara memahami dan mengembangkan karakter melalui baground cerita dan psikologis karakter yang ditulis oleh dramawan.

Proses berpikir yang mendalam tentang motivasi, latar belakang, dan tujuan karakter menjadi kunci dalam membuat floor plan. Gaya ini menekankan pada penggalian karakter yang kompleks dan berlapis, bukan hanya karakter yang sederhana atau stereotype. Aktor dituntut untuk memahami karakter tokoh secara menyeluruh, lewat pemikiran, perasaan, dan pengalaman hidup mereka.

Benar adanya bahwa beberapa pendekatan teater kontemporer mulai mempertimbangkan neurologi dalam proses penciptaan, yang bisa disebut juga sebagai “brain style”. Misalnya, bagaimana otak merespon ruang, waktu, dan interaksi sosial di atas panggung. Sehingga harfiah dari “brain style” juga bisa merujuk pada pendekatan yang berani dalam bereksperimen dengan ide-ide baru dalam pementasan.

Memang tak bisa dipungkiri, bahwa hal ini pun atau makna lain dari “brain style” bisa melibatkan eksplorasi konsep-konsep abstrak, penggunaan simbolisme yang kompleks, atau pendekatan non-linear dalam narasi. Akan tetapi yang harus diingat oleh seorang sutradara, aktor dan segenap awak panggung itu cocokah “brain style” yang dipilihnya tersebut dengan naskah yang diputuskan untuk dipertanggung jawabkan dengan konsep garap yang sudah di acc oleh dosen pembimbing kala pemanggungan terjadi dalam ruang ujian? []


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *