Disuatu pagi saat teringat sabda Rasulullah tentang keutamaan Istighfar.
Sabdanya itu berbunyi :
“مَنْ أَكْثَرَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”
“Barang siapa yang memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (HR Ahmad).
Mari kita merespon sabda Rasulullah ini lebih dalam lagi pelan-pelan dengan kenikmatan proses belajar. Dari teks hadits diatas, saya coba menyelami kata istighfar yang diperbanyak itu.
Bisa jadi istighfar yang disarankan Baginda Rasulullah SAW itu tidak hanya sebatas mengucapkan “Astaghfirullah Al Adhim” di lisan semata, akan tetapi kita coba pelan-pelan masuk pada suatu kesadaran diri — menyadari bahwa aslinya diri kita itu tidak pernah luput dari yang namanya suatu kesalahan.
Entah itu disengaja ataupun tidak. Entah itu disadari ataupun tidak. Entah itu kelalaian, kecerobohan, kesembronoan dalam akal pikiran, perasaan ataupun tingkah laku kita yang selanjutnya hadir kadar kecil atau besarnya.
Berangkat dari kesadaran itu, bisa kita hayati, bahwa lisan kita berucap astaghfirullah Al Adhim itu tidak hanya sekedar ucapan lisan, melainkan energi kesadaran untuk meneguhkan komitmen diri dalam melakukan evaluasi terus menerus.
Seberapa sering kita meletakan kesedihan pada suatu kondisi yang seharusnya tak pantas kita untuk bersedih hati?
Seberapa sering kita membuat orang disekitarnya kita bersedih karena perbuatan kita?
Seberapa sering kita menyempitkan akal pikiran kita sendiri yang seharusnya harus kita buka lebar-lebar pintu alam pikiran kita ketika kita dihadapkan dengan yang namanya ujian?
Seberapa sering kita justru membuka lebar pikiran kita yang seharusnya itu bukan tugas pikiran kita melainkan sikap iman kita, ketika dihinggapi penerangan ‘lamunan’ di pikiran kita?
Seberapa sering kita menyempitkan jalan penghidupan saudara kita sendiri demi ketercapaian keinginan nafsyu ‘ambisi’ kita ini?
Seberapa sering kita menerima apapun saja bentuk rezeki yang Allah titipkan pada kita untuk kita kelola?
Ataukah cara berpikir kita terhadap konteks rezeki dari Allah itu masih kukuh memikirkan pada hal-hal materi atau finasial tok, berupa uang, jenjang karier dan atribut sosial lainnya?
Seolah-olah Tuhan harus tunduk pada apa yang kau bayangkan dalam pikiranmu sendiri yang mana aslinya itu keinginan nafsumu.
Dan memang saya pun selalu kalah oleh diri saya sendiri. Fokusnya pikiran ini sering terjebak pada suatu pengharapan hasil pada “rezeki yang tak disangka-sangka”, sedangkan saya enggan menghadapi tantangan dan ujian hidup dari-Nya.
Sebuah Hadist yang masyhur sering kita dengar,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Seluruh anak Adam itu bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang senantiasa bertaubat.”
Bisa jadi, langkah awal yang menjadi pijakan kita dari perkara istighfar ini adalah sadar diri bahwa kita itu makhluk banyak salah dan mudah tersesat sehingga kembali ke jalan yang Allah cintai dan ridhoi itu sebuah keharusan. [IhFa – Juli 2025]









