Hujan turun sejak subuh, menyelimuti kota kecil itu dengan dingin dan rasa sepi. Di sudut pasar yang becek, seorang wanita paruh baya berdiri dengan payung robek, menggelar dagangan seadanya—pisang goreng, ubi rebus, dan beberapa kue kering yang ia buat sejak dini hari.
Namanya Ratna sering disapa dengan bu Ratna. Usianya lima puluh tujuh, wajahnya penuh keriput, tapi matanya masih memancarkan semangat yang tak padam. Setiap hari ia berjalan kaki dari rumah petak di gang sempit menuju pasar, membawa dagangan di atas kepala. Meski tubuhnya ringkih, ia tak pernah absen, bahkan saat hujan seperti ini.
Dua belas tahun lalu, suaminya meninggal karena kecelakaan kerja. Sejak itu, ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Mereka pernah makan hanya dengan nasi dan garam, tidur beralaskan tikar tipis, dan belajar dengan lampu minyak karena listrik sering mati.
Putra sulungnya, Aldi, kini sudah kuliah semester akhir di salah satu universitas negeri, beasiswa penuh. Yang bungsu, Nia, duduk di bangku SMA, selalu juara kelas. Mereka adalah alasan bu Ratna terus bertahan.
“Hidup itu seperti hujan,” katanya pada Nia, menjelang shalat subuh. “Kadang deras, kadang gerimis, tapi kita tetap harus jalan, selangkah demi selangkah!” tandasnya.
Hari ini pembeli sepi. Dagangan masih utuh hingga hampir siang. Bu Ratna mengusap lengan yang mulai kaku karena dingin. Saat ia hendak merapikan barang dagangannya, seorang lelaki muda dengan jaket basah menghampirinya. Wajahnya tampak akrab.
“Bu Ratna?” Bu Ratna mengerutkan dahi. “Iya, Nak?”
“Aku Reza… dulu sering Ibu bantu waktu sekolah. Ingat?”
Mata bu Ratna membesar. Ia mengangguk pelan. Reza adalah anak tetangga, sewaktu kecilnya belajar ngaji dan ilmu agama pada bu Ratna.
“Saya sekarang kerja, bu. Dan saya selalu ingat segenap pelajaran ilmu agama dari Ibu. Oh ya, bu… Boleh saya beli semuanya?” Tanpa menunggu jawaban, Reza mengeluarkan sejumlah uang. Ia membeli semua dagangan bu Ratna dan memintanya pulang lebih awal. “Biar ibu istirahat hari ini,” katanya sambil tersenyum.
Bu Ratna menatap langit. Hujan masih turun. Tapi ada hangat yang mengalir di hatinya—bukan dari kantong yang penuh, tapi dari ingatan bahwa kebaikan tak pernah sia-sia.
Sepulangnya, di rumah kecil itu, ia membuka pintu dan melihat Nia tengah belajar, sementara Aldi sedang mencuci piring. Mereka menyambut ibunya dengan senyum dan secangkir teh hangat.
Dalam gemingnya bu Ratna meneteskan air mata. Perjuangannya belum usai, tapi hari ini ia tahu bahwa segala peluh, lelah, dan air matanya, tumbuh menjadi sesuatu yang nyata. Hidup memang keras. Tapi ia memilih untuk tidak menyerah.
Kedua anaknya yang soleh dan solehah itu cermin mutlak dari dirinya yang begitu keras dalam mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama. Bukan semata bu Ratna fanatik tentang ilmu agama yang harus diterapkan dalam menjalani alur hidup dan kehidupan. Hal ini pun sebagai wasiat dari mendiang suaminya yang harus membesarkan buah hati mereka dengan penuh cinta dan didikan agama semaksimal mungkin.
Selepas istirahat sejenak, seperti biasa bu Ratna pergi ke kamar mandi, sekadar untuk mandi dan mengambil air wudhu. Seperti biasanya, bu Ratna suka berlama-lama di atas sajadah, tapi bukan dalam keadaan bersujud melainkan dalam keadaan berdoa, dan kedua anaknya tak pernah berani mengganggunya, meski harus menunda makan. Sebab kebiasaan mereka yang selalu makan bersama.
Hujan, masih belum juga reda, meski siklusnya tak merata, sejak tadi subuh. Terkadang membesar. Terkadang mengecil. Reda sejenak. Kembali gerimis. Hujan lagi. Begitu seterusnya. Barangkali ini penanda alam yang hanya bisa dibaca oleh sebagian orang saja. Alam seakan turut berduka cita untuk kedua anaknya yang ditinggalkan pergi ke bilik hari oleh bu Ratna untuk selama-lamanya dalam posisi sujud pada Sang Pemilik Hidup! []

