Judul: “Lurus atau Keras”

wartawan 41

Di sebuah kota kecil yang tumbuh di antara gunung dan arus berita, dua sahabat jurnalis duduk berhadapan di sebuah warung kopi sore hari. Namanya Raka dan Dimas. Sama-sama alumnus jurusan komunikasi, sama-sama idealis saat lulus, tapi kini berdiri di dua sisi yang berbeda.

Raka memilih jalur lurus. Ia percaya bahwa berita harus disajikan apa adanya, tanpa bumbu, tanpa tendensi. Ia menulis dengan hati-hati, menimbang setiap diksi seperti seorang perajin ukir memilih kayu terbaik. Ia tak ingin berita yang ia tulis menjadi pisau yang melukai, walau faktanya tajam.

Dimas sebaliknya. Ia percaya bahwa dunia tak cukup ditulis dengan datar. Suara rakyat harus digemakan keras, bahkan kalau perlu memukul meja. Baginya, fungsi jurnalisme adalah mengguncang kekuasaan yang diam, menggugat kebijakan yang beku. Maka, ia menulis dengan amarah, menyodok dan menyengat.

Hari itu, mereka berdebat lagi. Tentang satu berita korupsi dana desa yang baru saja mereka liput bersama. Raka ingin menulis dengan presisi: memuat pernyataan dari semua pihak, bahkan mereka yang dituding. Tapi Dimas merasa, itu hanya akan membungkus api dalam kapas.

“Kalau begini terus, kita cuma jadi perpanjangan humas,” gerutu Dimas sambil menyeruput kopinya yang mulai dingin.

“Dan kalau kamu terus seperti itu, kita bisa kehilangan kredibilitas,” sahut Raka, tak kalah tegas.

Dilema tak hanya datang dari pilihan gaya penulisan. Relasi di lapangan pun memperumit segalanya. Narasumber, pejabat, bahkan LSM yang dulu sering mereka bantu sorot kasusnya, kini bersikap dingin. Mereka menginginkan berita yang menguntungkan, bukan yang membongkar. Tidak ada simbiosis mutualisme. Hubungan hanya baik ketika media menguntungkan mereka.

“Kadang gue capek, Rak,” keluh Dimas. “Kita bela suara mereka, tapi mereka maunya cuma dipuja. Begitu kita kritik, kita dianggap musuh.”

Raka mengangguk pelan. “Aku juga merasakannya. Tapi mungkin memang tugas kita bukan untuk disukai, melainkan dipercaya. Dan kepercayaan itu, ya, jalannya beda-beda. Ada yang percaya karena keras, ada juga yang karena lurus.”

Dimas terdiam. Ia tahu Raka tidak salah. Tapi ia juga tak merasa dirinya salah. Keduanya hanya memilih jalan berbeda menuju tujuan yang sama.

Sore itu, mereka tak sampai pada kesepakatan. Tapi ada satu hal yang tetap utuh: saling hormat. Karena dalam dunia yang terus bergerak ini, dua cara berjalan bisa berbeda arah, namun tetap memandang ke langit yang sama: kebenaran.***

JALAN SINDANG SIRNA
Baca Tulisan Lain

JALAN SINDANG SIRNA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *