Jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir dan jauh sebelum beliau diutus menjadi Rasul dan Nabi terakhir, bangsa arab pada saat itu, baik yang ada di Makkah maupun Madinah semuanya telah sama-sama mengaku dirinya sebagai Banu Ibrahim (anak keturunan Ibrahim). Dan pengakuan mereka memang sesuai dengan fakta dari catatan nasab yang mereka rawat secara turun temurun.
Namun, sayangnya, ajaran yang mereka amalkan sudah sangat begitu jauh dari ajaran kakek moyang yang mereka sebut itu. Hingga berbagai kesesatan dan penyimpangan tak segan mereka lakukan dan berlakukan dalam kehidupan mereka, bahkan dalam ritual keagamaan mereka.
Di Makkah, misalnya, orang-orang yang mengaku sebagai Banu Ibrahim dari jalur Isma’il kemudian membuat berhala-berhala sebagai sekutu Allah yang mereka sembah; kemudian ketika mereka menjalankan ritual haji mereka bertawaf tanpa busana sehelai pun; dan ketika mereka memiliki anak wanita, sebagian dari mereka pun tak segan membunuhnya karena menganggapnya sebagai aib.
Lalu, di Madinah, misalnya, orang-orang yang mengaku sebagai Banu Ibrahim dari jalur Ishaq tak segan mengubah isi dari kitab suci, atau membelokkan maksud dari kitab suci tersebut sesuai dengan kepentingan mereka. Hal tersebut tentunya sudah jauh menyimpang dari ajaran murni Nabi Ibrahim AS.
Dari fenomena inilah kiranya wajar jika Allah SWT ketika mengisahkan sejarah dari peristiwa qurban Ia tidak menyebut nama siapa anak Ibrahim yang diperintah untuk disembelih itu (Lihat QS As-Shooffaat ayat 100-111). Sebab, bagaimana pun, penyebutan nama dari anak Ibrahim yang disembelih akan melegitimasi kemuliaan antara kedua kelompok yang memiliki garis keturunan yang sampai pada dua anak Ibrahim tersebut.
Tapi, Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, lebih memilih untuk menyebut sifat yang melekat pada anak Ibrahim yang diperintah untuk disembelih itu. Ia tidak menyebut Isma’il ataupun Ishaq, tetapi Ia hanya menyebutnya Ghulamin Haliim (anak yang penyantun, penyabar, dan bijaksana).
Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan karena Allah ingin agar mereka yang mengaku sebagai Banu Ibrahim, baik dari jalur Isma’il ataupun dari jalur Ishaq tersebut bisa mencontoh dan mengamalkan sifat yang disebutkan dari anak Ibrahim yang disembelih itu, bukan sekedar mencatut kedua nama tersebut sebagai kebanggaan semata.
Dari cara Allah mengisahkan peristiwa penyembelihan anak Ibrahim yang tak disebutkan namanya itu, sudah semestinya kita paham dan sadar bahwa Allah ingin agar kita semua tidak hanya mencatut nama seseorang sebagai kebanggaan, atau mencatut sebuah nama dari sebuah lembaga, organisasi, atau kelompok lainnya sebagai legitimasi atau alat untuk mendapatkan privilage dan lain sebagainya.
Tapi Allah, ingin agar kita semua bisa mencontoh dan mengamalkan perilaku, amaliah, Sunnah, dan sifat sifat baik yang melekat pada nama yang seringkali kita catut tersebut.
Malulah kita yang mengaku sebagai orang yang memiliki keterkaitan dan keterikatan pada nama besar seseorang atau nama besar sebuah lembaga, organisasi, dan lain sebagainya, tapi tidak benar-benar menjalankan dan mengamalkan kebaikan yang telah melekat pada nama-nama tersebut.
Wallahu A’lam bis-Showaab.***
Depok, 6 Juni 2025









