Bagian 3 SD Swasta Laea
Di bagian paling belakang sekolah itu, berdiri deretan pot kecil dari batok kelapa. Masing-masing anak memiliki satu. Di dalamnya tumbuh bawang, cabai, atau tomat, atau setidaknya tumbuhan palawija yang dicoba untuk tumbuh. Tak semuanya berhasil. Tapi tak ada yang dicemooh.
Setiap pagi, anak-anak akan mengambil air dari sumur dangkal di belakang sekolah yang hanya digali tiga jengkal. Airnya bening dan tak pernah kering. Mereka menyiram tanaman dengan botol bekas atau tempurung kelapa. Tidak ada yang mengganggu pot-pot itu. Bahkan sapi yang dibawa ke sekolah tahu ke mana harus melangkah agar tidak menginjaknya.
Jika tanaman tumbuh, anak-anak boleh membawanya pulang. Jika tidak, guru akan datang membawa bibit baru dari dalam kantong plastik di atas meja. Guru itu tidak bertanya banyak. Ia hanya meletakkan benih ke tangan murid, lalu kembali duduk. Seolah waktu dan kesabaran lebih penting dari semua penjelasan.
Ada satu anak yang sering gagal. Tiga kali bibitnya tak tumbuh. Tanah dalam potnya tetap sunyi. Ia tetap datang setiap pagi, tetap menyiram, tetap menunggu. Tapi tak pernah membawa pot itu pulang. Ia menyembunyikannya di belakang sekolah, di dekat sumur, di balik kayu tua dan semak kecil. Ia menaruh harap, bahwa tanah yang sama mungkin masih bisa menyelamatkan bibit baru jika diberi kesempatan lagi.
Aku sempat bertanya kepada Gu, mengapa anak itu terus diberi benih baru.
“Karena di sini, tanah dan anak-anak sama-sama tak bisa dipaksa,” ujarnya pelan. “Yang sabar, pasti tumbuh.”
Ketika jam pulang tiba, anak-anak yang berhasil akan membawa pot mereka di atas kepala. Dijunjung dengan dua tangan, hati-hati seperti membawa mahkota kecil. Mereka melewati pagar beluntas, pohon gamal, dan jalan tanah dengan langkah ringan. Pot itu akan diletakkan di depan rumah. Tanpa pelukan, tanpa pujian, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa anak itu berhasil.
Mereka yang membawa pot akan diajak ke kebun. Karena di kampung ini, anak yang bisa menanam pantas menggembur tanah. Yang tak membawa pot, tetap pulang. Tapi tidak diajak ke mana-mana. Tidak ada yang memarahi. Tapi semua tahu siapa yang belum dipercaya oleh tanah.
Anak yang gagal itu hanya membawa pulang buku. Ia pulang lebih pelan dari yang lain. Ketika sampai di ujung jalan tanah, terdengarlah suara: “aiii…”. Sorakan itu terdengar biasa saja, hanya satu kata, tapi lebih perih dari apa pun. Anak itu tidak membalas. Tidak menangis. Tapi aku tahu, luka yang dibawa ke rumah jauh lebih dalam daripada pot yang tidak tumbuh.
Sesampainya di rumah, ia tidak langsung masuk. Ia menuju kolong rumah, tempat paling teduh dan paling basah. Di sana ia duduk diam. Ia tidak menangis atau memanggil siapa-siapa.
Aku melihatnya menggali tanah dengan jari-jarinya. Pelan, seolah tak ingin mengganggu yang lain. Ia memasukkan batu kecil ke dalam lubang, menimbunnya lagi, lalu mengangkatnya kembali. Berulang-ulang. Entah permainan, entah semacam latihan menanam di tempat yang lebih mengerti keinginannya.
Ibunya datang dari sungai. Melihat anak itu masih di bawah rumah, ia hanya menepuk bahunya pelan. Tak berkata apa-apa. Tapi anak itu tetap diam. Tangannya kotor. Bukunya hampir jatuh dari pelukannya. Ia tak bergerak, seolah menunggu tanah menjawab lebih dulu.
Matahari siang jatuh tajam dari sela atap rumah. Suara rantang besi terdengar dibuka. Tutup hijau-putihnya berbunyi pelan. Wangi pandan dari dalam nasi naik samar ke udara, bercampur aroma air gentong yang hangat karena matahari. Ibu itu menyimpan sepiring nasi hangat, sayur, dan ikan sungai goreng di samping anak itu. Lalu pergi ke kebun. Bunyi rantang yang bergesek pelan mengiringi langkahnya menjauh.
Beberapa anak yang berhasil, tak lama tinggal di rumah. Mereka menyimpan buku, mengganti pakaian, lalu berlari ke kebun. Tak ada yang memuji. Tapi aku tahu, pakaian kebun mereka sudah disiapkan sejak pagi. Langkah mereka ringan, seperti telah diberi izin oleh pot kecil yang mereka bawa pulang.
Sementara itu, di bawah rumah, seorang anak masih memandangi batu kecil yang tadi ia tanam dan timbun lagi. Jika besok guru datang membawa bibit baru, aku yakin, ia akan tetap menjadi orang pertama yang menengadah tangan.***
![Batu Kecil di Bawah Kolong Sepotong Kue untuk Darwin[i]](https://kosapoin.com/wp-content/uploads/2025/06/Sepotong-Kue-untuk-Darwin-e1750314690584-80x80.png)








