Mela

MELA

            Cinta terkadang aneh dan tak kenal waktu, kadang ia datang terlalu cepat, tapi seringkali ia datang terlambat, seperti siswa baru yang di hari pertama telat masuk sekolah. Dan yang belakangan itulah yang terjadi kepadaku. Dan entah mengapa tiba-tiba saja dengan alasan yang tak jelas aku jatuh cinta kepada perempuan itu, perempuan yang memukulku sambil tersenyum.(Source: kosapoin.com/mela)

Perempuan itu bernama Mela. Melawati, sudah. Ia mengaku berasal dari Rangkasbitung, Banten. Dan di dalam kepalaku, orang-orang Banten itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan mistis, seperti kebal bacok, kulitnya tahan api, mereka kuanggap memiliki ilmu kanuragan dan ajian rawarontek; suatu ilmu yang bisa membuat seseorang menjadi abadi dan tak bisa mati. Aku mengira bahwa orang Banten itu merupakan keturunan para pendekar dan orang sakti. Itulah kesan pertamaku pada Mela. Dan ketika semua hal di kepalaku terkait orang Banten  kusampaikan padanya, ia malah tertawa terpingkal-pingkal, bahkan sampai air matanya keluar.(Source: kosapoin.com/mela)

Mungkin aku tidak akan pernah melupakan perempuan yang satu ini dalam hidupku. Seorang gadis dengan pipi cubby, mata sipit seperti orang Tionghoa, dan cara bicaranya dengan logat Sunda, wajahnya mengingatkanku pada lukisan putri dari kerajaan Banten atau Sundayang kulihat di buku-buku sejarah. Bagi orang lain mungkin wajah Mela biasa saja, tapi bagiku ia cantik, menawan, dan menyenangkan, sedap dipandang mata. Aku pertama kali bertemu dengannya dalam acara PMR, JUMBARA. Dan waktu itu, entah mengapa ia dengan cepat menjadi pusat perhatianku. Bagaimana cara ia bicara, bagaimana cara ia bersikap, terlebih bagaimana cara ia tersenyum dan tertawa; itu tidak bisa kulupakan, dan sungguh membuatku bahagia.(Source: kosapoin.com/mela)

Waktu itu aku menjadi juri dalam lomba berkisah antar siswa selama tiga hari, dan Mela menjadi pendampingku. Bukan pendamping hidup maksudnya (tapi aku pernah berharap ini benar-benar terjadi), tapi pendamping juri. dan dari situlah kami mulai saling memperkenalkan diri, dan  perlahan saling mengenal lebih dalam antara satu dengan yang lain. Ia bercerita latar belakangnya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Orangtuanya bercerai. Ibunya seorang pedagang, sedangkan ayahnya adalah seorang petani. Dan dia berkuliah di jurusan komunikasi di sebuah universitas islam terbesar di kota ini.(Source: kosapoin.com/mela)

Aku rasa, Mela adalah seorang perempuan yang sangat mudah untuk dicintai. Ia memiliki semacam daya tarik tersendiri, khususnya bagiku. Waktu itu kukira aku dipelet oleh pesonanya. Bagaimana tidak, ketika kami sedang berdebat untuk menentukan siswa mana yang layak untuk menjadi juara dalam lomba berkisah, kami beradu argumen dengan sengit dan seru. Lalu kemudian aku sedikit berkelakar dalam perdebatan itu, tapi kemudian ia menabok lenganku dengan sekuat tenaga sambil tertawa-tawa. Namun aneh, bukannya muntab atau marah, aku malah jatuh cinta karena pukulan keras di lenganku itu. Sinting memang. Ini benar-benar tak masuk di akal (memang sejak kapan cinta masuk akal?) tapi ini benar-benar terjadi kepadaku.(Source: kosapoin.com/mela)

Maka saat perjalanan pulang dari acara, di dalam kepalaku terus terngiang-ngiang dengan Mela, senyumnya, tawanya, marahnya, caranya bicaranya, percakapan kami, dan kejadian pemukulan yang dilakukan olehnya kepadaku. Jangan-jangan pukulan di lenganku itu adalah semacam gendam, semacam pelet, agar aku jatuh cinta padanya. Bukan begitu? Kau setuju denganku bukan?(Source: kosapoin.com/mela)

Maka keesokan harinya, di hari kedua lomba. Aku semakin intens berbincang dengannya. Hal apapun kuceritakan, dan kutanyakan. Dan dia dengan senang hati melayaniku. Lalu saat hari terakhir perlombaan, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengajaknya jalan melihat Pentas Rakyat di lapangan kecamatan. Alamak, entah setan apa yang sedang merasukiku waktu itu. Tapi seperti pepatah mengatakan pucuk dicinta ulampun tiba, bak gayung bersambut. Ajakanku itu diterimanya, ia menyetujui rencana pertemuan kami selanjutnya.(Source: kosapoin.com/mela)

***(Source: kosapoin.com/mela)

            Malam itu aku masih ingat pertemuan pertama kami di luar acara lomba, setelah sebelumnya kami mengatur janji. Aku masih ingat baju apa yang ia kenakan, parfum apa yang ia pakai, dan makanan apa yang kami makan. Semuanya masih aku ingat dengan jelas, bahkan ada satu peristiwa yang tak akan pernah aku lupakan di malam itu, dan akan aku simpan sampai aku mati nanti. Peristiwa yang membuatku jadi tahu siapa Mela sebenarnya.(Source: kosapoin.com/mela)

            Peristiwa itu terjadi minggu malam, ketika kami bersama-sama menghadiri sebuah acara Pentas Rakyat di lapangan kecamatan, Malam itu ketika kami berjalan bersama ke tempat parkir sambil bersenda gurau, tiba-tiba kami dihadang oleh lima orang lelaki rese yang sedang mabuk dan mungkin saja mau memalak kami. Sebagai seorang lelaki sejati yang kodratnya adalah melindungi, tentu saja aku tidak mau terlihat culun dan menahan malu karena tidak berani menghadapi beberapa cecunguk yang beraninya main keroyokan itu. Aku dengan nekat maju menghadapi mereka, tapi karena kalah jumlah, mau cecunguk selemah, seculun, semabuk apapun, kalau jumlahnya seperti orang bubaran jumatan maka akan berbahaya juga. Maka aku dikeroyok oleh mereka, dan dijotos berkali-kali hingga babak belur, tubuhku begitu lemas dan sakit semuanya, aku hanya bisa terbaring di dekat parkiran. Orang-orang dalam acara festival yang kebetulan melihat kami dipukuli hanya diam di tempatnya masing-masing, begitu juga dengan Mela ia hanya diam dan melihat apa yang selanjutnya terjadi.(Source: kosapoin.com/mela)

            Mereka kemudian mendekati Mela, mungkin akan melakukan hal yang tak senonoh, hal yang tak diinginkan, aku dengan sisa kesadaran dan tenaga terakhirku segera menarik salah satu kaki dari mereka, dan menjatuhkannya. Aku berhasil menghantam rahang salah satu gerombolan itu, tapi gerombolan yang lain segera kembali ke arahku, dan menendangiku yang masih terbaring dengan membabi buta.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Mela, lari” teriakku. Tapi kulihat raut wajah Mela tenang saja, ia hanya diam bergeming, tidak ke manapun, ia malah seperti menunggu dan menantang gerombolan begundal itu untuk mendekatinya, mengganggunya. Dan tepat saat tangannya dipegang oleh salah satu dari mereka, tiba-tiba lelaki itu segera terpelanting di tanah, dengan suara krkkk yang begitu memilukan. Dan adegan selanjutnya adalah sebuah perkelahian yang tak seimbang.(Source: kosapoin.com/mela)

            Mela dengan gerakan pencaknya begitu cepat dan gesit, semua gerakannya begitu terukur, sangkil dan mangkus. Sapuan, tendangan, terjangan, tinjuan, lompatan harimau, semuanya ia kuasai dengan sempurna. Sontak 5 lelaki itu semua terjungkal tanpa terkecuali. Aku yang melihat gerakan indah dan mematikan itu hanya bisa terdiam dan terheran-heran, ternyata Mela yang selama ini kukenal tidak hanya cantik, menawan, dan menyenangkan, tapi ia begitu mengerikan dan berbahaya ketika sedang berkelahi. Dan perempuan yang bisa berkelahi adalah perempuan yang bisa berkelahi. Tak salah jika saat pertama kali bertemu dengannya aku menyangka dia adalah keturunan seorang pendekar.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Orang-orang brengsek seperti kalian ini memang sesekali harus diberi pelajaran” kata Mela sambil tetap memasang kuda-kudanya. Di tengah tubuh-tubuh gerombolan yang terbaring tak berdaya(Source: kosapoin.com/mela)

            “Masih mau melawan?” gertak Mela dengan gerakan dan mata penuh ancaman. Sedangkan lawan-lawannya hanya merintih kesakitan. Rintihan itu menandakan bahwa mereka menyerah. Mela kemudian mendekati tubuhku yang sudah tidak karuan rasanya.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Mas, tidak apa?” katanya bertanya padaku seperti tidak terjadi apa-apa.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Kalau kau bisa berkelahi, mengapa kau tidak melakukannya dari tadi Mela?” kataku sambil nyengir kesakitan. Ia hanya tertawa, sambil mencoba untuk memapah tubuhku. Saat Mela mencoba memapahku, salah seorang dari gerombolan itu bangkit dengan wajah memerah penuh amarah lalu ia mengeluarkan pisau lipat dari pinggangnya, aku melihatnya ia akan menusuk Mela dari belakang. Aku berteriak tapi terlambat, pisau lelaki itu sudah mengenai punggung Mela.(Source: kosapoin.com/mela)

Tapi sedetik kemudian aku dibuat terkejut sepenuhnya. Pisau itu bengkok, dan Mela tidak merasakan apa-apa. Mela kemudian berbalik ke arah pria itu, dengan tatapan penuh amarah, dan dengan tendangan samping setengah melayang, kaki Mela menghantam kepala lelaki itu hingga pingsan. Aku & keempat begundal yang tersisa  hanya terbengong-bengong melihat kejadian itu, kejadian yang tak akan pernah kulupakan untuk selamanya.(Source: kosapoin.com/mela)

            Setelah perkelahian yang tak seimbang itu, kami kemudian minggir mencari udara segar. Untung saja di dekat lapangan itu, ada apotek, Mela segera membeli obat merah, alkohol, kapas, perban, hansaplas. Ia kemudian mengobatiku, mengurusku seperti seorang ibu yang sedang mengobati anaknya yang baru saja terjatuh dari berlatih bersepeda.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Sakit, Mas?” katanya sambil tersenyum menyentuh mataku yang bengap, dan pelipisku yang robek.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Tidak” kataku sok kuat, sambil meringis menahan sakit.(Source: kosapoin.com/mela)

            “Jangan sok kuat” katanya sambil tersenyum, lalu ia meniup pelipisku yang sedang dibersihkan dengan kapas dan alkohol. Harum napasnya saat meniup lukaku seperti napas yang keluar dari mulut bayi, dan mulutnya yang menguncup, astaga.(Source: kosapoin.com/mela)

Astaghfirullah” kataku lirih(Source: kosapoin.com/mela)

“Kenapa Mas? Aku menyakitimu?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Tidak, tidak, lanjutkan” kataku kikuk. Perlahan suasana hening, kami tak saling berbicara.(Source: kosapoin.com/mela)

“Kau mengapa tak bilang kalau bisa berkelahi Mel?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Mengapa memang kalau aku bisa berkelahi Mas?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Ya tidak apa-apa, bagus. Tapi kenapa menunggu aku babak belur terlebih dahulu sih” kataku sambil meringis. Ia hanya tertawa lagi.(Source: kosapoin.com/mela)

“Kau belajar silat dari mana?” tanyaku lagi(Source: kosapoin.com/mela)

“Kakek”(Source: kosapoin.com/mela)

“Kalau ilmu kebal?” kataku, ia hanya diam, sambil terus mengurus lukaku.  “Kakekmu seorang pendekar?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Bukan, Kakekku seorang petani biasa. Dia belajar dari Kakeknya lagi”(Source: kosapoin.com/mela)

“Berarti turun temurun?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Mungkin”(Source: kosapoin.com/mela)

“Berarti leluhurmu bisa pencak silat semua?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Ya tidak semua”(Source: kosapoin.com/mela)

“Kakekmu belajar dari mana?”(Source: kosapoin.com/mela)

“Ya aku tidak tahu, tapi yang jelas, aku pernah diceritai Kakek tentang kisah leluhurnya. Kalau Mas pernah baca sejarah, tahu tentang Pemberontakan Petani Banten? Atau Geger Cilegon?(Source: kosapoin.com/mela)

“Ya aku pernah dengar”(Source: kosapoin.com/mela)

 “Nah, salah satu dari para pemberontak itu adalah leluhurku”(Source: kosapoin.com/mela)

“Berarti kau keturunan pahlawan Mel?” tanyaku sambil nyengir. Mela hanya mengangkat bahunya.  (Source: kosapoin.com/mela)

“Kata Kakek kalau sudah bisa silat, aku tidak boleh melukai orang, kecuali untuk melindungi diri, dan melindungi apa yang berharga bagi kami”(Source: kosapoin.com/mela)

“Berarti aku sesuatu yang berharga bagimu dong?” kataku menggodanya. Mela hanya tersenyum sambil memukulku, dan menekan lukaku dengan sengaja. Aku meringis kesakitan setengah tertawa. Pukulan itu bukannya membuatku marah dan terluka malah membuatku jatuh cinta dan tertawa. Gila, cinta memang benar-benar gila.(Source: kosapoin.com/mela)

Banyumas, 2025(Source: kosapoin.com/mela)

Game Over
Baca Tulisan Lain

Game Over

Juli Prasetya

Apakah artikel ini membantu?
IP: 216.73.216.11
Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *