GODOT MENUNGGU aktor Dede Dablo & Mohammd Wail Irsyad. sutradara Rachman Sabur. Dok. Foto TPH
Teater Payung Hitam, sutradara Rachman Sabur kali kedua, kembali pentaskan “Menunggu GODOT” dalam bentuk yang berbeda. Dalam event 4 tahun Invitation to The Theatre 2019 yang digelar Jurusan Teater Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung akhir November 2019 lalu.
Rachman Sabur tahun 1991 pernah menampilkan karya sangat bagus dalam wujud verbal. Kali ini kesempatan, ia mencoba hal yang berbeda, yakni dengan membalik judul menjadi “GODOT Menunggu”, dan dalam bentuk teater tubuh.
Menunggu GODOT karya Samuel Beckett merupakan sebuah naskah drama yang sudah berulangkali dipentaskan. Naskah aslinya berbahasa Perancis dan pertama kali dipentaskan di Paris pada tahun 1953. Kemudian naskah ini diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Menunggu Godot terdiri dari dua babak. Babak I dan babak II, menunjukkan setting tempat dan waktu yang sama, yaitu di suatu jalan di desa, pada suatu senja. Tokoh yang terdapat pada naskah ini 5 orang Diantaranya : Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky, serta Boy. Sedangkan GODOT sendiri hanya dalam ucapan para tokoh yang membicarakannya. Ia dibicarakan terus menerus, namun ia tidak muncul. Menunggu GODOT sebuah penantian yang tak kunjung usai. Gambaran tentang manusia yang tak bisa menentukan hidupnya dan hanya bergantung pada GODOT itu sendiri. Sebuah kisah tentang eksistensi manusia yang kerdil.
Godot tidak pernah muncul, tak pernah menjadi penyelamat. Godot sang penyelamat ada dalam diri tiap pribadi dan bukan berada di luar dirinya. Lewat teater tubuh yang ditawarkan Rachman Sabur, Godot yang sarat dengan bahasa verbal dan menjelimet, seutuhnya dirubah ke dalam bahasa tubuh. Godot pun diungkapkan menjadi tokoh nyata, bukan halusinasi. Godot tidak lagi ditunggu. Tapi Godotlah yang menunggu Godot nyata adanya, 4 orang (Wail Irsyad, DD Dablo, Chandra, dan Christy), adalah mereka yang sedang dinantinya. Absurditas tidak ada. Semua kehidupan benar-benar ada dan pasti menemukan titik akhirnya.
Menurut Rachman sebenarnya kita bukan sedang menunggu, tapi kita sedang ditunggu. Waktulah yang sedang menunggu kita. Tuhanlah yang sedang menunggu kita. Dalam hidup kita ditugaskan untuk menanam. Jika menanam kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan hasil yang ditanam kita, itu yang ditunggu dipenghujung kehidupan dunia.
Realitas hidup itu tidak di atas, tapi dibawah. Maka orang yang baik itu adalah orang yang semakin banyak pengalaman hidupnya dan semakin merindukan dirinya.
Hal itu disimbolkan Rachman dalam pertunjukan “Godot Menunggu” dengan penempatan pohon yang di balik mengarah ke bawah, dan tiga buah pintu yang dibuka ke atas dan melihat ke bawah.
konsep barat oleh Rachman Sabur diputar-balik. Cerita Godot ia pinjam alurnya saja dan selebihnya cerita mengalir dalam konsep hidup dimana ia berpijak. Kata-kata diwujudkan dalam gerak tubuh. Sebuah kolaborasi yang saling mengisi dan tidak saling menyisihkan antara budaya yang telah menyatu dengan dirinya.
Bicara tentang teater bagi Rachman, teater adalah kehidupannya sendiri. Sekian lama ia mencoba memberikan energi positif buat teater, walaupun pilihannya berbeda dengan yang lain, termasuk dengan institusi tempat dirinya mengabdi sebagai pendidik seni teater. Baginya perbedaan itu merupakan buah dari proses yang cukup panjang.
“Saya melakukan pencarian spiritual teater Payung Hitam dan konsisten menentukan pilihan pada teater tubuh karena ” tubuh” Sebagai media utamanya. Teater kata-kata pun sama pentingnya untuk memahami hal-ihwal ketubuhan. Kita jangan menjadi asing dengan tubuh kita sendiri”, ujar Rachman. Lalu menambahkan : “kita terlalu dominan menggunakan dalil-dalil, teori-teori teater Barat yang hanya berkutat di hal-hal semata teknis dan kita mengabaikan kedalamannya. Untuk mengenal ruh kita, tentunya harus memahami pula kontruksi tubuh kita. Di dalam kontruksi tubuh ada latar belakang kelokalan tradisi, budaya kita. Jika teater kita menjauh dari spirit tradisi, budaya kita, teater kita seperti hidup jauh di awang-awang. Terasing dari realitas masyarakatnya. Perkembangan teater modern Indonesia akan stagnan. Sepi di percaturan teater dunia.
Mempelajari tubuh sendiri bukan hanya untuk berkesenian. Bukan hanya untuk ber teater tapi juga untuk mempelajari hidup. Menjadikan hidup yang lebih baik, bermakna, bermanfaat.
Perkembangan teater kita dibanjiri metoda-metoda dari luar. Itulah yang menjauhkan tubuh kita dari realitasnya. Tubuh teater kita menjadi tubuh teater Eropa tubuh teater Ametika, tubuh teater Jepang” jelasnya.
Ditambahkannya : ” Harusnya kita mencontoh para Empu teater kita, seperti ; Arifin C Noer, Suyatna Anirun, Rendra, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, dan lainnya. Mereka mempelajari teater Barat, tapi bisa kita lihat karya-karya mereka sangat Indonesia sekali. Spirit teaternya sangat Sunda, sangat cirebon sangat Jawa, sangat Bali, sangat tionghoa-melayu. Sangat-sangat beragam sekali teater modern Indonesia. Mereka tidak menjadi asing dengan tubuhnya sendiri.
Spirit teater tubuh Payung Hitam yang saya lakoni memberikan ruang kolaborasi dengan tubuh-tubuh lintas kultural. Teater tubuh sebagai teater universal. Kolaborasi yang pernah dilakukan bersama pelaku-pelaku teater tubuh dari Belanda, Amerika, Australia, Prancis, Jepang, Taiwan.
Penting sekali kita kembali pada kesadaran tubuh sendiri. Mengenal dan memahami tubuh sendiri, tubuh orang lain, dan tubuh lingkungan” pungkasnya.



