SITI

Siti

(Di atas sehelai tikar, berselimutkan samping batik yang sudah lusuh, dan kepala tertopang bantal tampak Siti sedang tidur. Tampak pula ia sedang bermimpi buruk. Tubuhnya menggigil, otot-ototnya tegang, dan kesulitan bernapas. Lalu dengan cepat ia bangun sambil berteriak, “Meri!”. Dengan napas terengah-engah, dalam duduk ia berusaha menenangkan diri.)

(Berdiri) Meri adalah sahabatku sejak kami duduk dibangku Sekolah Dasar. Dia teman sebangku. Orang paling baik dan sangat peduli padaku. Ya, kenapa tidak? Dia tahu aku anak dari keluarga pemulung. Tapi dia tidak peduli walau tiap hari aku hidup diantara tumpukan sampah dan tinggal di rumah yang menurut orang-orang tidak layak huni. Padahal dia berasal dari keluarga kaya dan terpandang di Desaku. Dia bukan saja mau menjadi teman sebangku, tapi sering membagi jajanan yang dibelinya padaku. Bukan itu saja, dia juga sering mebelikan aku alat tulis jika alat tulisku sudah habis, meminjamkan buku bacaan, memberi seragam sekolah, bahkan sering mengajak aku bermain dan makan di rumahnya.

Sebagai balas budi atas kebaikan Meri, aku selalu membantunya menyelesaikan tugas yang diberikan guru padanya jika dia merasa kesulitan mengejakannya. Ya, karena menurut guru dan teman-teman, aku termasuk siswa yang memeliki kecerdasan diatas rata-rata. Tidak ada kesulitan bagiku menangkap semua pelajaran yang diterangkan guru dan mengerjakan setiap soal atau tugas yang diberikan. Meri juga merasakan aku punya kelebihan itu dan merasa dirinya lemah teruma dalam pelajaran menghitung atau memecahkan soal matematika. Maka aku sering dijadikan teman belajar bersama atau aku difungsikan seperti guru pendamping olehnya.

Persahabatanku dengan Meri berlanjut hingga ke bangku SMP dan SMA. Kami selalu bersekolah di sekolah yang sama. Aku sebenarnya tidak ingin melanjutkan sekolah terutama ke SMA karena orang tuaku merasa tidak sanggup membiayai kebutuhan sekolah. Beruntung aku punya Kartu Indonesia Pintar dan segala kebutuhan sekolahku ditanggung negara, juga kekurangannya selalu dibantu Meri.

Dalam kesunyian malam, dan purnama menerangi bumi aku senantiasa duduk di luar rumah, di atas tumpukan kardus bekas yang belum dijual ke bandar. Sambil menatap bintang-bintang, pikiranku jauh melayang pada masa depan. jika ada kesempatan dan ada yang membiayainya aku ingin meneruskan kuliah di jurusan kedokteran. Aku ingin menjadi dokter yang bisa mengobati orang-orang miskin seperti keluargaku. Tapi mimpi itu tidak mungkin tercapai.

Walau usianya terbilang masih muda ayahku sudah sakit-sakitan. Penyakitnya tergolong penyakit sulit disembuhkan. Maka sebelum berangkat sekolah aku harus membantu ibu mengurus 3 orang adik yang masih kecil dan ibu pagi-pagi sekali sudah keluar rumah menggatikan tugas ayah memungut sampah yang bisa dijual untuk memenuhi kebutan makan sehari-hari kami. Sepulang ibu aku baru bisa berangkat sekolah. Selama di sekolah pikiranku selalu tidak tenang, aku selalu ingin segara pulang membantu ibu mengurus keluarga. Bahkan aku sering bilang pada Meri, aku ingin berhenti sekolah, aku ingin konsentrasi membatu ayah dan ibu mencari nafkah. Aku ingin bekerja supaya bisa mengasilkan uang dan membatu mengurangi beban hidup keluarga.

Meri selalu memberi semangat agar aku tetap melajuntkan sekolah hingga lulus dan dapat ijzah.

Siti, kamu pintar. Sayang kalau kamu berhenti sekolah. Aku harap kamu bukan saja harus menyelsaikan sokolah, juga harus kuliah keperguruan tinggi dan meraih cita-citamu. Soal biaya, kamu jangan khawatir, aku akan membatumu. Aku sudah bilang pada kedua orangtuaku agar bisa membatumu membiayai pendidikanmu hingga lulus perguruan tinggi. Selain itu kata ayahku kamu bisa dapat beasiswa dari pemeritah. Kamu harus semangat Siti dan kamu bisa.

(Siti berdiam diri. Pandangannya kosong. Wajahnya tampak sedih. Tidak terasa dari kedua kelopak matanya keluar air mata.)

Meri kamu sahabat terbaikku. Aku kangen kamu. Aku kangen makan bersama dengan keluargamu. Aku kangen bermain lupur sambal hujan-hujanan bersamamu. Aku kangen ……

Tidak! Aku harus bisa melupakannya! Aku harus melupakannya! Aku harus melupakannya! … Tapi …. Kenapa kamu harus pergi duluan. Tuhan! Kenapa? Kenapa orang baik seperti dia harus segera menjemput takdirmu. Kenapa tidak aku, Tuhan?

(Siti berlari kesana kemari sambal memangil-manggi Meri. Lalu ia mengambil bantal dan dipeluknya. Sambil menangis ia tatap bantal seperti seperti sedang menatap wajah seseorang.)

Kamu kuat. Kamu sehat. Kamu bisa bangkit dan berlari. Kita akan selalu bermain bersama, kuliah bersama, lulus bersama, mengapai cita-cita bersama. Bukankah begitu katamu? ….. Ya Meri?

Tidak…aku sudah tidak kuat, Siti. Kamu yang harus kuat. Hanya kamu yang bisa membuat mimpi kita menjadi kenyataan. Haya kamu Siti. Aku titipkan semuanya kepadamu.

Kata-kata itu menjadi kata-kata terakhir perjumpaanku dengan Meri. ….. Meri menemui ajalnya di pangkuanku. ….. Peristiwa itu terjadi saat aku diajak berwisata ke Dufan bersama keluarganya. Di jalan tol menuju ke Jakarta, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan pecah ban dan dalam kecepatan tinggi kendaraan yang kami tumpangi mendadak oleng tak terkendali. Dengan penuh kesadaran, sambal tutup mata aku berteriak. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Tanganku berpegang erat-erat pada jok di depan. Mobil yang kutumpangi terguling, tubruk dan meloncati pembatas jalan tol sebelah kiri hingga tersungkur di tanah di luar jalan tol.

Dalam hening aku membuka mata. Kepala dan sekujur tubuhku terasa sakit. Di luar mobil yang sudah penyok-penyok terdengar suara erangan Meri minta tolong. Aku tak pedulikan rasa sakitku. Aku berusaha keluar dari mobil melalui bagian belakang yang kacanya sudah pecah…. Dengan badan terhuyung-huyung aku dekati Meri. Aku peluk dia. Aku letakan kepalanya di pahaku.

Sambil menahan rasa sakit yang tiada tara, Meri memaksakan diri bicara padaku. “Siti, kita dimana? Aku haus. Dadaku sakit. Aku ingin pulang”. (Siti memeluk bantal erat-erat)

(Berdiri) Ya, kami mengalami kecakaan tunggal di Jalan Tol. Ayah Meri, Ibu Meri, dan Meri meninggal di tempat kejadian. Hanya aku yang selamat.

(Siti berjalan dan duduk sambal memeluk kedua lutunya.) Meri, aku rindu. Aku rindu kamu. Aku rindu belajar bersama, menghitung angka, mengeja kata, menyelesaikan tugas sekolah bersama. (Berdiri) Aku berjanji padamu, dalam kondisi apapun aku harus kuat. Aku harus menggapai harapanmu. Menyongsong mata hari tiap pagi. Menjadi manusia yang bisa dibangkan dan bermanfaat bagi banyak manusia. Jika Tuhan berkehendak, pasti kita akan dipertemukan lagi. Selamat malam. Selamat tidur Panjang Meri

[TAMAT]

MAGNITUDO DOGOLO
Baca Tulisan Lain

MAGNITUDO DOGOLO


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *