TEATER PAYUNG HITAM (TPH) BANDUNG, MASTERPIECE KONTEMPORER DAN “TEATER YANG HIDUP”

payunghitam 1 ta

Dokumentasi Pertunjukan Genjer Genjer (Lagu Yang Dikuburkan) Karya & Sutradara Rachman Sabur, Studio Teater ISBI Bandung, 2020. Produksi Teater Payunghitam. Dok. Tatang Macan.

Teater Payung Hitam Bandung sebagai Sikap Kebudayaan

Menelusuri tapak, sejak awal berdiri hingga keberadan hari ini yang kurang lebih telah 44 tahun. TPH Bandung eksistensinya dapat disebut sebagai “teater yang hidup”, ungkapan ini bukan berarti suatu sanjungan yang mengada-ada, namun merujuk terhadap konsistensi dan daya hidup dalam medan seni pertunjukan Indonesia. Teater Payung Hitam dianggap sebagai entitas yang terus hidup dan relevan. Geliat ini ditunjukan oleh konsistensi eksperimentasinya. Sejak awal berdiri, TPH tidak pernah berhenti mengeksplorasi bahasa tubuh, ruang, dan bunyi. Mereka dikenal dengan gaya teater fisik dan simbolisme visual yang kuat, di mana narativitas sering kali disampaikan melalui metafora gerak daripada sekadar teks verbal. Kepekaan Sosial-Politik: TPH adalah teater yang “bernafas” bersama isu-isu zamannya. Mereka sering mengangkat tema-tema sensitif seperti sejarah yang dibungkam, marginalisasi, hingga kritik terhadap kekuasaan. Bagi mereka, teater bukan sekadar hiburan, melainkan alat kritis untuk merespons kondisi bangsa. Meskipun sudah berusia lebih dari empat dekade, mereka tetap adaptif. Menunjukkan bahwa TPH terus memperbarui estetika dan dramaturgi agar tetap resonan dengan audiens masa kini. Memiliki kemandirian dan mobilitas prinsip panggung yang portable, menunjukkan daya tahan (survivability) mereka. Mereka mampu hidup di mana saja—di gedung teater megah, di gang sempit, hingga di ruang terbuka (outdoor)—menjadikan seni mereka sangat luwes dan dekat dengan masyarakat. TPH Bandung, bahkan berfungsi sebagai kawah candradimuka bagi banyak aktor dan praktisi teater di Bandung. Semangat kolektif mereka dalam berproses, banyak dilakukan secara mandiri, membuktikan bahwa motor penggerak teater ini adalah dedikasi manusianya. Teater Payung Hitam bukan sekadar kelompok drama; ia adalah sebuah sikap kebudayaan yang terus bergerak, menolak diam, dan tetap “hidup” di tengah perubahan zaman yang serba cepat. 

payung hitam 3 ta
Dokumentasi Pertunjukan Genjer Genjer (Lagu Yang Dikuburkan) Karya & Sutradara Rachman Sabur, Studio Teater ISBI Bandung, 2020. Produksi Teater Payunghitam. Dok. Tatang Macan.

Teater Payung Hitam (TPH) Bandung di bawah kepemimpinan Rachman Sabur bukan sekadar kelompok seni, melainkan manifestasi dari perlawanan simbolik yang menolak untuk tunduk pada setiap pembungkaman artistik. Hingga awal tahun 2026, TPH terus membuktikan vitalitasnya sebagai “sikap kebudayaan” melalui beberapa momentum krusial. Mereka konsisten dalam menyuarakan “penyadaran”. Memasuki usianya yang ke-44 (berdiri sejak 1982), TPH tetap setia pada fungsinya untuk memberikan penyadaran sosial kepada publik melalui bahasa teater yang kritis. Pada Februari 2025, TPH menunjukkan militansinya saat pementasan lakon Wawancara dengan Mulyono dilarang dan ruang pertunjukannya di gembok di ISBI Bandung. Alih-alih berhenti, peristiwa ini justru memicu gelombang dukungan terhadap kebebasan berekspresi dan menegaskan posisi TPH sebagai cermin jujur bagi kekuasaan. Bahkan karya terbaru mereka menggunakan metafora tubuh, bunga plastik, hingga “pot uang” untuk menyentil isu-isu kontemporer seperti politik bansos dan drama kekuasaan. Ini membuktikan bahwa di era digital yang serba cepat, TPH tetap mampu memotret kegelisahan masyarakat secara mendalam. Dengan semangat “menolak diam”, TPH terus beradaptasi. Jika gedung formal ditutup, mereka memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan ruang-ruang alternatif, menunjukkan bahwa teater bagi mereka adalah nafas yang tidak bisa dihentikan oleh tembok birokrasi. Melalui kegigihan Rachman Sabur dan para aktornya, Teater Payung Hitam tetap menjadi salah satu garda terdepan teater kontemporer Indonesia yang tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga menjaga marwah kemanusiaan.  

Saya membaca esai Jakob Sumardjo di Kosapoin.com berjudul “Teater Tubuh Merah Bolong dan Genjer-Genjer sebagai Terdakwa” (Januari 2026) dengan lakon Lagoe Jang Dikoeboerkan karya Rachman Sabur. Essai itu mempertegas posisi Teater Payung Hitam (TPH) sebagai teater yang “hidup”. Berikut simpulan saya atas essai tersebut: 

  • Teror Tanpa Wajah: Sumardjo menyoroti bagaimana Rachman Sabur memvisualisasikan penderitaan rakyat kecil (petani melarat) yang diteror oleh ketakutan yang tidak dipahaminya. Pintu yang digedor namun kosong saat dibuka merupakan metafora teror laten atau hantu sejarah yang terus menghantui masyarakat tanpa kejelasan siapa pelakunya.
  • Genjer-Genjer sebagai Simbol Penderitaan: Dalam pandangan Sumardjo, lagu Genjer-Genjer dalam lakon itu bukan sekadar musik, melainkan “terdakwa” sejarah. Meskipun lagu tersebut aslinya menggambarkan penderitaan rakyat di era pendudukan Jepang, stigma politik membuatnya menjadi lagu yang “dikuburkan” dan membawa petaka bagi siapapun yang bersentuhan dengannya.
  • Teater Tanpa Kata (The Silent Theatre): Sumardjo memuji kemampuan TPH dalam membangun ketegangan selama satu jam tanpa dialog. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan TPH terletak pada estetika tubuh dan visual simbolism yang mampu menyampaikan pesan politik yang lebih dalam daripada kata-kata.
  • Guru dan Murid Budaya: Sumardjo, sebagai begawan budaya yang tinggal di Bandung, melihat TPH bukan sekadar kelompok sandiwara, melainkan masterpiece kontemporer yang konsisten memotret ketidakadilan sosial melalui pendekatan filsafat seni yang kuat. 

Melalui esai tersebut, pementasan Rachman Sabur ditegaskan sebagai sebuah kesaksian sejarah yang menggunakan kesunyian untuk meneriakkan kebenaran yang selama ini dibungkam.

Ini menariknya dari jelajah, eksplorasi  teater tubuh yang terus hidup. Ketika elemen tubuh dalam teater tubuh (Post-dramatik) dibingkai oleh tema atau judul, tubuh tidak lagi sekedar menjadi objek fisik acak, melainkan menjadi “perfomer sebagai tema” itu sendiri. Artinya tubuh dan keberadaan aktor itulah yang menjadi substansi utama pertunjukan, bukan narrativitas. Batasan identitas personal dan performatif semakin tipis. Disinilah makna kebaruan semiotik hadir: Tubuh adalah pesan, Identitas Otentik dimana Performer membawa nilai historisitasnya tentang Performance itu sendiri, Subjektivitas Total dimana tema tidak lagi berada diluar diri aktor, Proses sebagai hasil yang menjadi konten atau isi dari pertunjukan. Singkatnya: Tema tidak lagi dibicarakan melalui dialog, tetapi ditunjukan melalui apa yang dialami secara biologis dan fisik oleh perfomer dihadapan publik penonton.

Daya artistik TPH Bandung ditangan Rachman Sabur terus hidup dan survivability,

Jakob dalam essainya menyampaikan bahwa “estetika Sabur adalah estetika hal-hal buruk”. Tetapi dari tangannya hal-hal buruk itu menjadi memikat, menuntun memasuki misteri dunia gelap manusia. Lagoe Jang Dikoeboerkan mencapai tingkat puitiknya, paradoks antara yang telah terjadi dan akan terjadi, historis dan futuristik, disini dan di mana-mana, ber waktu dan tidak berwaktu. Temuannya yang otentik dan genial, semacam penanda waktu yang jarumnya berderit menggores rasa sakit, ancaman menakutkan yang misterius karena berlangsungnya tidak bisa diduga. Dalam progresnya ke depan, TPH dibawah Rachman Sabur, bersama aktor-aktor yang terhimpun di dalamnya. Merencanakan ulang untuk menampilkan kembali nomor LAGU YANG DIKUBURKAN di Brisbane Festival 2026. Festival ini diselenggarakan dari tanggal 4 – 26 September 2026. Dan OzAsia Festival 2026 bulan Oktober – November.

payung hitam 2 ta
Dokumentasi Pertunjukan Genjer Genjer (Lagu Yang Dikuburkan) Karya & Sutradara Rachman Sabur, Studio Teater ISBI Bandung, 2020. Produksi Teater Payunghitam. Dok. Tatang Macan.

Rencananya pertunjukan LAGU YANG DIKUBURKAN akan diwujudkan oleh sebuah tim yang terdiri dari tujuh praktisi seni pertunjukan, tentunya dengan Rachman Sabur sebagai sutradara. Komposisi musik dipimpin oleh Efiq Zulfiqar, yang menginterpretasikan kembali lagu Genjer-genjer yang syarat sejarah, mentransformasikannya menjadi komposisi kontemporer dengan issu kekinian yang sepenuhnya baru. LAGU YANG DIKUBURKAN secara konseptual merujuk pada lagu-lagu yang dibungkam atau “dikuburkan” akibat stigmatisasi politik. Meskipun ada upaya untuk menghapusnya dari kesadaran publik, lagu-lagu ini tetap bertahan sebagai artefak budaya yang hidup, melampaui batas waktu. Karya seni yang telah ditindas atau dimarginalkan seringkali memperoleh relevansi baru, menjadi relevan secara konteks sekaligus bergema secara universal dalam pengalaman sosial manusia. Dalam pengertian ini, LAGU YANG DIKUBURKAN dalam konsep artistiknya berfungsi sebagai platform lintas budaya bagi para penampil dan penonton.

Proses kolaboratif dengan Efiq Zulfiqar direncanakan akan dilakukan di Bandung dan melibatkan praktik perekaman yang berkelanjutan. Rancangan kerja pemanggungan ini, berkemungkinan melewati proses kerja jarak jauh antar negara. Materi musik terus direkam, didokumentasikan, dan dikirimkan kepada Efiq Zulfiqar, yang kemudian mengaransemen dan mengembangkannya sesuai dengan metodologi komposisi khasnya. Namun proses perancangan artistik akan tunduk pada ketersediaan dukungan institusional dan logistik, karya ini juga berpotensi untuk dipresentasikan di Indonesia. Kertas kerja Pertunjukan ini dirancang agar dapat disesuaikan baik untuk tempat dalam ruangan (indoor) maupun luar ruangan (outdoor). Pendekatan artistiknya menekankan minimalisme, dengan desain panggung knock-down (bongkar pasang) yang efisien, mudah dipindahkan (mobile), dan hemat ruang (spatially economical). Seluruh set diangkut dari Bandung, memastikan konsistensi presentasi artistik di berbagai lokasi. Semoga saja proses artistic lintas waktu akan berwujud seperti yang direncakan.

Adegan dramatis yang dikembangkan bersama para penampil, didasarkan pada respons interpretatif Rachman Sabur sebagai Director terhadap reinterpretasi musik Efiq Zulfiqar atas Genjer-genjer, Indonesia Raya, dan lagu-lagu Indonesia lainnya. Tindakan interpretasi yang berlapis ini berfungsi sebagai kerangka kerja kritis di mana memori sejarah, identitas nasional, dan ketegangan sosial-politik kontemporer dikompos dalam perwujudan pemanggungan.

Dalam konteks sosial-budaya yang lebih luas, LAGU YANG DIKUBURKAN merefleksikan kondisi Indonesia kontemporer yang semakin terfragmentasi dan bergejolak, memosisikan pertunjukan ini sebagai penelusuran artistik sekaligus intervensi kritis.

Working Real Japanese Man
Baca Tulisan Lain

Working Real Japanese Man


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *