PHYSICAL OF ROGGIANG: INTERPRETASI KONTEMPORER ATAS RONGGIANG PASAMAN (RONGGENG) OLEH TEATER BALAI BUKITTINGGI

psio 1

Pertunjukan Physical of Roggiang Karya & Sutradara; Ahmad Ridwan Fadjri, 3 Februari 2026, Festival Nan Jombang di Gedung Pertunjukan Manti Manuik, Ladang Tari Nan Jombang, Padang, Sumatera Barat. Dok. Iwan Kuncup.

Perkembangan komunitas teater muda di Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dinamika eksplorasi estetis yang semakin liar, eksperimental, dan berani menegosiasikan ulang relasi antara tradisi dan praktik kontemporer. Fenomena ini tidak hanya menandai munculnya generasi kreator baru, tetapi juga memperlihatkan cara pandang kritis terhadap warisan budaya lokal yang mulai tergerus oleh perubahan sosial dan modernisasi. Salah satu contoh penting dari gejala tersebut adalah pertunjukan Physical of Roggiang yang diproduksi oleh Teater Balai Bukittinggi dan dipentaskan pada Selasa malam, 3 Februari 2026, dalam rangka Festival Nan Jombang di Gedung Pertunjukan Manti Manuik, Ladang Tari Nan Jombang, Padang, Sumatera Barat. Pertunjukan ini digarap oleh tim artistik yang terdiri dari Ahmad Ridwan Fadjri sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, didukung oleh para aktor Rahmat Pangestu Hidayat, Ravi Razak, Fajar Eka Putra, dan Wahyu Ardiansyah, dengan penataan artistik oleh Rifky Ananda, musik oleh Abdul Haris, serta manajemen produksi yang dikomandoi oleh Yeni Wahyuni dan Mezi Mezo.

Karya Physical of Roggiang berangkat dari kegelisahan kreator terhadap perjalanan historis Ronggiang Pasaman—atau yang juga dikenal sebagai Ronggeng Pasaman—sebuah kesenian tradisional yang memiliki posisi penting dalam sejarah sosial dan kultural masyarakat Pasaman dan Pasaman Barat. Ahmad Ridwan Fadjri menyatakan bahwa karyanya tidak dimaksudkan sebagai representasi literal dari bentuk pertunjukan Ronggiang Pasaman, melainkan sebagai tafsir kontemporer yang bersifat reflektif dan psikologis, dengan pendekatan estetika surealisme. Pilihan gaya ini memungkinkan eksplorasi lapisan batin tokoh “Anak Ronggiang” yang ia sebut sebagai “gadih bujang” memiliki metafora eksistensial, yang bergerak di antara tubuh, ingatan, dan luka sejarah yang tidak selalu kasatmata. Narasi singkat pertunjukan—tentang seorang gadih bujang yang melenggang di ruang eksistensi, mempertanyakan nurani, dan merasakan sesuatu yang “terhunus di jantung” tanpa bekas fisik—mengisyaratkan adanya kekerasan simbolik dan tekanan sosial yang bekerja secara halus namun mendalam, sebagaimana dikemukakan oleh Bourdieu dalam konsep symbolic violence.

psio 2
Pertunjukan Physical of Roggiang Karya & Sutradara; Ahmad Ridwan Fadjri, 3 Februari 2026, Festival Nan Jombang di Gedung Pertunjukan Manti Manuik, Ladang Tari Nan Jombang, Padang, Sumatera Barat. Dok. Iwan Kuncup.

Dalam konteks yang lebih luas, Physical of Roggiang menempatkan Ronggiang Pasaman sebagai medan ingatan kolektif yang kini berada dalam situasi krisis. Ronggiang Pasaman merupakan seni pertunjukan tradisional khas wilayah Pasaman dan Pasaman Barat yang lahir dari proses akulturasi tiga budaya besar, yakni Minangkabau, Mandailing, dan Jawa. Bentuk pertunjukan ini memadukan nyanyian berbalas pantun, musik pengiring seperti biola, gitar, rebana, dan tamburin, serta gerak tari pergaulan yang bersifat komunikatif. Sejarah mencatat bahwa Ronggiang Pasaman berakar dari tradisi Ronggeng Jawa yang dibawa oleh para pekerja perkebunan dari Jawa pada masa kolonial Belanda, sekitar awal abad ke-20. Dalam proses interaksi dengan masyarakat lokal, bentuk kesenian ini mengalami penyesuaian struktural dan estetik, terutama melalui masuknya pantun Minangkabau sebagai medium verbal utama serta pengaruh musikal dan linguistik dari budaya Mandailing, mengingat komposisi etnis Pasaman yang multicultural.

Keunikan Ronggiang Pasaman terletak pada konfigurasi penokohannya, khususnya pada peran penari utama yang secara tradisional diperankan oleh seorang laki-laki yang berdandan sebagai perempuan, dikenal sebagai “Anak Ronggiang”. Praktik ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk transgresi gender, melainkan sebagai strategi kultural yang berakar pada nilai-nilai adat dan moral masyarakat setempat. Dalam konteks Minangkabau tradisional, tampilnya perempuan di ruang publik pada malam hari dianggap kurang pantas, sehingga peran tersebut dialihkan kepada laki-laki demi menjaga martabat perempuan, sekaligus memastikan keberlangsungan hiburan rakyat. Fenomena serupa juga ditemukan dalam sejarah Ronggeng Jawa, yang menunjukkan bahwa praktik lintas gender dalam seni pertunjukan tradisional Nusantara kerap memiliki dasar sosial dan filosofis yang kompleks, bukan semata-mata persoalan identitas gender.

Secara sosial, Ronggiang Pasaman memiliki fungsi yang sangat vital sebagai media pembauran masyarakat multietnis. Pertunjukan ini menjadi ruang perjumpaan antara etnis Minangkabau, Mandailing, dan Jawa, di mana perbedaan bahasa, adat, dan latar belakang sosial dinegosiasikan melalui humor, pantun, dan interaksi tubuh di ruang pertunjukan. Dalam perspektif antropologi pertunjukan, Ronggiang Pasaman dapat dipahami sebagai social drama yang memperkuat kohesi sosial dan mencairkan batas-batas identitas melalui mekanisme estetis. Selain sebagai hiburan rakyat yang meramaikan pernikahan (baralek), khitanan, dan upacara adat lainnya, Ronggiang Pasaman juga berfungsi sebagai sarana komunikasi moral dan edukatif, di mana pantun-pantun yang dilantunkan sering kali memuat nasihat agama, kritik sosial, dan pesan etika yang disampaikan secara jenaka dan persuasif.

Namun, dalam perkembangan mutakhir, Ronggiang Pasaman menghadapi tantangan serius berupa menurunnya minat generasi muda dan kuatnya arus modernisasi yang menggeser selera hiburan masyarakat. Kesenian ini berisiko tereduksi menjadi sekadar simbol formal dalam acara seremonial, tanpa pemahaman mendalam terhadap filosofi dan nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam konteks inilah Physical of Roggiang hadir sebagai upaya artistik untuk membaca ulang sejarah Ronggiang Pasaman melalui bahasa tubuh dan teater kontemporer. Pertunjukan ini tidak berpretensi melestarikan bentuk tradisi secara tekstual, melainkan berusaha menghidupkan kembali spirit dan problematika yang menyertainya, khususnya terkait dilema identitas, tubuh, dan posisi individu dalam pusaran sejarah dan perubahan sosial.

Penafsiran Ahmad Ridwan Fadjri terhadap konsep “Anak Ronggiang” yang ia sebut “gadih bujang” juga menjadi titik penting dalam pertunjukan ini. Dalam praktik Ronggiang Pasaman, istilah Gadih Bujang sering kali disalahartikan sebagai sinonim dari Anak Ronggiang. Padahal, secara kultural, Gadih Bujang lebih berfungsi sebagai ungkapan kolektif untuk menyapa pemuda-pemudi penonton dalam arena pertunjukan, sementara Anak Ronggiang adalah subjek pelaku seni yang menjalankan peran teatrikalnya di atas panggung. Distingsi ini penting karena menunjukkan relasi antara performer dan audiens yang bersifat dialogis, cair, dan partisipatoris. Anak Ronggiang, melalui pantun dan gestur tubuhnya, menggoda, mengundang, sekaligus menjembatani interaksi sosial lintas usia dan gender, sehingga menciptakan atmosfer komunal yang khas.

Dalam Physical of Roggiang, relasi tersebut ditransformasikan ke dalam ruang psikologis yang lebih intim dan reflektif. Tubuh aktor menjadi medium untuk mengekspresikan ketegangan antara tradisi dan modernitas, antara identitas kolektif dan kegelisahan personal. Dengan demikian, pertunjukan ini dapat dibaca sebagai bentuk kritik kultural terhadap kondisi masyarakat kontemporer di Sumatera Barat khusunya dan Indonesia secara umum, yang tengah bergulat dengan perubahan nilai, tekanan moral, dan erosi ingatan budaya. Karya ini menegaskan bahwa seni pertunjukan tidak hanya berfungsi sebagai arsip tradisi, tetapi juga sebagai ruang tafsir dan perlawanan simbolik terhadap lupa.

psio 3
Pertunjukan Physical of Roggiang Karya & Sutradara; Ahmad Ridwan Fadjri, 3 Februari 2026, Festival Nan Jombang di Gedung Pertunjukan Manti Manuik, Ladang Tari Nan Jombang, Padang, Sumatera Barat. Dok. Iwan Kuncup.

Pada akhirnya, Physical of Roggiang menempatkan Ronggiang Pasaman bukan sekadar sebagai objek nostalgia, melainkan sebagai sumber inspirasi kritis yang terus hidup dan bertransformasi. Melalui pendekatan surealis dan eksplorasi fisikal, Teater Balai Bukittinggi berhasil membuka kemungkinan baru dalam membaca kesenian tradisional sebagai medan dialog antara masa lalu dan masa kini. Upaya ini sejalan dengan pandangan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti membekukan bentuk, tetapi justru mengaktifkan kembali makna dan relevansinya dalam konteks zaman yang terus berubah.

Daftar Pustaka

Bourdieu, P. (1991). Language and Symbolic Power. Cambridge: Polity Press.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Schechner, R. (2003). Performance Theory. London: Routledge.

Soedarsono, R. M. (2002). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Turner, V. (1982). From Ritual to Theatre: The Human Seriousness of Play. New York: PAJ Publications.

DUNIA DALAM DUNIA
Baca Tulisan Lain

DUNIA DALAM DUNIA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *