KASPAR naskah & sutradara Rachman Sabur. Produksi Teater Payunghitam. dok. Tatang Macan.
Apa yang dipikirkan oleh seorang yang sedang sakit, memang sulit dirasakan oleh orang yang masih segar-bugar dan produktif. Apalagi bila itu menyangkut, tak bisa jalan, bicara, menelan dan memanggil memori. Outputnya hanya airmata. Sedih, terharu, pedih, kosong, tanpa daya. Apakah orang harus sakit dulu sebelum bisa mensyukuri karuniaNya yang tak terhingga indahnya itu? Saya kira pendidikan kita mesti memikirkan ini, sehingga bukan semata “mencetak manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif” saja yang di “cetak biru”, tapi juga menghayati anugerah ” tubuh” kita yang tak tertawa nilainya. Hari ini saya bertemu salah seorang penulis cerpen terkemuka : Hasad Rangkuti di Siloam Hospital Karawaci, Sama-sama latihan phisio theraphy. Semoga kesehatan tubuhnya semakin membaik.

“30 tahun saya mencoba melakukan pencaharian di wilayah teater tubuh bersama teman-teman Payung hitam. Sebelumnya 10 tahun pertama sy melakukan pencaharian di wilayah teater kata-kata. Mencari dan mempelajari sumbernya di khasanah teater modern dan teater tradisi Indonesia. Meskipun begitu saya tetap mencintai dan melakoni teater kata-kata. Kaki saya mengangkang di dua wilayah yang berbeda. Tapi saling melengkapi”.
Tubuh kita yang sering kita lupakan karena berbagai desakan prioritas lain, menuntut untuk dibicarakan.
Puluhan tahun, bahkan ada yang mampu melangkahi angka seratus, tubuh mengabdi pada pemiliknya, tapi kurang ter posisikan sebagai subyek utama. Padahal siapa tahu, tubuhlah, yang sejatinya pemilik semua pencapaian yang gak ciptanya di tangan “nama” orang itu.
Tentu akan sulit dimengerti bagi yang terbiasa kontak dengan bahasa verbal. Mengapa Sabur belum juga “kapok” Padahal sudah 30 tahun “kawin”, ” mengeksplorasi” tubuh. Padahal tubuh kan hanya tubuh. Meskipun milyaran manusia menghuni dunia, pada dasarnya tubuh kan sama. Bahkan kalau dikatakan dengan nyeleneh : walau ideologi, keyakinan, opini, selera, ras, warna, gen, golongan darah, proporsi dsb-nya berbeda-beda, tubuh manusia di meja bedah kan pada hakekatnya sama. Mesin peradaban dan reproduksi manusia, semua sama. Harus makan untuk hidup. Mati kalau sudah waktunya. Dan terbunuh kalau disuapin sionida dosis tertentu.

Sebagaimana Rachman Sabur dan Payung hitam, saya dan teater Mandiri, sekitar 20 tahun hanya berekspresi lewat teater visual, dengan tubuh sebagai modal utamanya(teater layar kata Benny Yohannes). Tetapi saya merasa kehilangan bahan rembugan. Kenapa? Terutama karena penonton mengaku tak terhibur oleh hanya gambar dan para pendukung sendiri kangen kembali “ngoceh”. Saya terpaksa mengalah. Apakah ini kekalahan?
Rachman Sabur dengan Payung hitam, saya dengan Teater Mandiri(1971) sebenarnya sudah memulai tontonan visual mengganti pertunjukan sandiwara/drama, pada tahun 1975/76. Tapi hanya 3 produksi (Lho, Entah, Nol) terhenti karena ditinggalkan penonton. Tak saya duga, tak saya niatkan, 14 tahun kemudian, kami kembali merasuki nya untuk KISS di Amerika dengan tontonan YEL.
Kebosanan, kejenuhan, kebuntuan, ketiadaan apresiasi penonton dsbnya. Itu memang fakta dan manusiawi. Itu tak bisa diingkari. Namun tidak akan selamanya. Tak akan memusnahkan magma teater tubuh, kalau sejatinya menggelegak dalam batin.
Teater tubuh bukan sebuah gaya. Bukan pelarian ketidakmampuan menguasai idiom ekspresi verbal. Bukan juga pemberontakan atau phobi atau pemberdayaan pada tubuh, tetapi pilihan berekspresi. Karena ide, pesan yang mau disampaikan menuntut itu. Di samping bahasa itulah yang dirasa paling afdol untuk menampung ekspresi terkait. Walhasil tuntutan.
Tiba-tiba pada September 2012 di panggung saya teronggok. Tubuh saya seperti cucian basah di RSCM. Tidak mampu tegak. Berjalan, memegang dengan tangan kiri. Tidak bisa membaca. Tidak bisa menelan, dan tidak bisa mengucapkan sesuatu dengan bulat.

Waktu itulah baru muncul “indera” baru pada saya. Membuat saya paham terhadap apa yang sebelumnya tak terasa, tak terlihat, tak tersadari dan sebagainya. Membuat saya ngeh:betapa dahsyatnya tubuh kita ini. Yang sebelumnya saya anggap sepele, karena sudah begitulah mestinya.
Teater tubuh mungkin sekali tak menghibur, tapi teater tubuh membawa pencerahan yang memperkaya batin. Karena ambiguitas nya, popularitasnya memang lebih terbatas. Wilayahnya hanya bagi pemburu yang memerlukan pengucapan baru.
Rachman Sabur bersama Payung hitam karena desa-kala-patra(tempat, waktu, situasi) seperti yang diakuinya : berpijak di dua bahasa, tidak akan pernah “kapok”. Kuda-kuda pijakan kedua kakinya itu adalah kekuatan yang akan sangat mengimbangi perjalanan eksplorasi nya ke depan.
Rachman Sabur dan Payung hitam tetap masih memberi ruang pada masyarakat penonton. Bagaimana pun penonton adalah peserta peristiwa kesenian. Populasi dan apresiasi penonton penting dijaga. Siapa lagi yang akan melakukannya, kalau bukan awak teater sendiri, sebelum “kritik” benar-benar beringas. [2017]


4 thoughts on “TEATER TUBUH”