TEATER TUBUH MERAH BOLONG DAN GENJER-GENJER SEBAGAI TERDAKWA

Cak dan Pohaci 1

CAK DAN POHACI karya dan sutradara Rachman Sabur. Produksi Teater Payunghitam. dok. Tatang Macan

Negeri ini hanya menyisakan batu-batu bagi rakyatnya yang paling miskin. Semua yang bukan baru, yang organik, yang membuat hidup ini mungkin telah lenyap entah kemana. Orang-orang mencari penghidupan dengan membawa ember-ember.. Mereka mencari air, tetapi yang mereka temukan bukan tanah dan air, tetapi tanah dan batu-batu. 

Itulah inti teater tubuh Rachman Sabur, Merah Bolong yang dipentaskan tanggal 17 Agustus 2015 ,tepat 70 tahun usia kemerdekaan Indonesia, di Studio Teater ISBI Bandung. Begitu memasuki ruang pertunjukan, kita disuguhi pentas yang kumuh dengan hamparan batu-batu yang berserakan di lantai. Dinding-dinding pentas dipenuhi dengan lembaran-lembaran seng yang bolong-bolong, mirip situasi pembangunan gedung yang macet. Mungkin terlalu banyak yang dikorup. Kita tidak bisa membacanya sebagai simbol negeri ini yang pembangunannya selalu mandeg, tidak pernah selesai. Sekarang cuma teronggok, tak bisa lagi dipakai. Pentas dihiasi dengan gantungan-gantungan batu besar, sebesar kepala orang, yang begitu labil, sehingga tersentuh sedikit akan membangun bandul batu yang akan cukup telak menghantam kepala kita apabila terlena. Batu-batu tergantung itu adalah ancaman kehidupan. 

Teater Merah Bolong sepenuhnya simbolik puitik. Bahasa teater Rachman Sabur yang keras, kejam, tegas, tetapi esensial, membantu menggerakan kegeraman kita atas nasib negeri ini ditangan para pemimpinnya. Meskipun penonton kena terror dengan kemarahan para tokoh membenturkan tubuh mereka pada dinding-dinding seng yang bolong-bolong, tetapi itulah kemarahan kita juga: Negeri tidak punya harapan. 

tph 10
RELIEF AIRMATA karya & sutradara Rachman Sabur. Produksi Teater Payunghitam. Dok. Rachman Sabur

Pada awal pertunjukan, seseorang menghantamkan sebongkah batu pada batu yang lebih besar di depan selangkangannya. Berulangkali dilakukan. Dengan daya pukul yang semakin lama semakin lemah kecapaian. Akhirnya benar-benar kelelahan dan jatuh tergeletak. Ada sesuatu yang dicarinya, yang diharapkannya, dengan memukulkan batu atas batu. Tetapi tidak ditemukan. Batu-batu itu sama-sama keras kepala. Tidak ada “pemecahan”. Mengapa negeri ini hanya menyusahkan pasir, debu dan batu-batu mirip permukaan planet mars. Kemana perginya air, kehidupan, di negeri ini?

Orang ini tidak sendirian. Ada empat orang lainnya yang masing-masing menenteng kaleng timba. Ember-ember itu tidak berisi air, tetapi krikil dan pasir. Ke mana-mana mereka membawa ember yang seharusnya terisi air kehidupan, bukan batu kematian. Yang menarik adalah peristiwa saling tolong menolong, hidup menghidupkan, kalau menemui sesama manusianya tergeletak sekarat. Yang hampir sekarat menolong yang sekarat. 

Lakon “Merah Bolong” Ini dapat dimainkan dimana saja dan kapan saja, karena modalnya hanya tubuh aktor-aktornya, ember-ember, dan batu-batu. Juga dapat bermakna apa saja, karena esensialnya. Manusia-batu-kehidupan. Metafor nya adalah batu-batu. Kata-kata batu. Tangisan batu. Kemarahan batu. Maut batu. Kekacauan batu. Ancaman batu. Batu-batu dalam lakon ini adalah juga aktor. 

Inti hidup adalah gerak. Dan gerak akibat dari adanya tenaga. Batu tidak bergerak dari dirinya sendiri, karena meskipun inti hidup adalah gerak, gerak itu terjadi akibat adanya kehendak. Yang memiliki kehendak, hasrat, keinginan, tujuan, hanyalah yang hidup. Batu-batu ini berdialog, marah, karena kehendak diluar dirinya. Hasrat siapakah yang menggerakan batu-batu ini? Kadang-kadang “Orang-orang” yang menggerakkannya. Kadang-kadang tidak sengaja digerakan. Tetapi begitu bergerak, mengamuk, kekuatan batu-batu tak pernah dijinakkan. Batu-batu adalah ancaman kehidupan orang-orang. 

Ancaman kehidupan orang-orang, bukan hanya berasal dari bandulan-bandulan batu, tetapi juga hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari pada hujan mas di negeri orang. Orang-orang ini adalah para patriot yang geram, marah, dan putus asa, sambil berusaha mencari jawaban di dalam batu yang ternyata sulit dipecahkan. 

Teater payung hitam yang diarahkan Rachman Sabur ini telah lama memasukan unsur-unsur alam dalam pertunjukannya. Alam bukan bikinan manusia, teater yang bikinan manusia. Alam justru sejajar dengan keberadaan manusia. Memasukan alam dalam teater manusia dapat menyentuh segi spiritualitas. Seperti dahulu yang dilakukan oleh masyarakat primitif. Teater bukan lagi “play” permainan,Pura-pura, seolah-olah, tetapi pertaruhan jiwa dan keselamatan. Teater ini harus sangat sungguh-sungguh karena radar antara alam dan kebudayaan. Inilah sebabnya teater tradisional suku-suku Indonesia tidak dapat dipemainkan. Ada pertaruhan kehidupan didalamnya. Tidak heran apabila para pemainnya sering berpuasa. Ada yang di pantang, meditasi, dan lainnya. Teater bukan lagi profesi yang dapat dipelajari dan memberi penghidupan padanya. Ia berada dalam realitas spiritual, karena batu, alam adalah ciptaan sang Maha pencipta. 

Teater ini tidak membikin batu-batuan dari gips atau streofom atau kertas semen, tetapi benar-benar batu yang kita jumpai dalam realitas sesungguhnya. Seniman seperti Rachman Sabur memiliki kepekaan akan potensi “bermain” bersama sodara-sodara alamnya, seperti batu, bambu, kayu, lumpur, air, angin. Benda-benda alam ini disuruh berbicara dan. Bermain dalam teaternya. Inilah teater alam yang sesungguhnya. Panggung bukan lagi dunia artifisial. Panggung adalah peristiwa kehidupan itu sendiri. 

Menurut orang Baduy Dalam, yang boleh bermain-main itu hanya para dewa.

tph 11
KASPAR dalam festival Laokoon Hamburg, Jerman. Karya & sutradara Rachman Sabur. Produksi Teater Payunghitam. Dok. Rachman Sabur

Genjer-Genjer Sebagai Terdakwa. Lagu genjer-Genjer yang memelas menggambarkan kehidupan rakyat sehari-hari di zaman Jepang yang begitu melaratnya sampai bikin sayur genjer yang biasanya buat ternak. Pemerintah Jepang membiarkan lagu itu beredar di masyarakat. Ceritanya menjadi lain ketika lagu genjer-genjer yang ngelangut itu dipopulerkan oleh Lekra menjelang G-30-S tahun 1965. Lagu yang sudah merakyat dilarang pemerintah Orde Baru karena dinilai produk PKI, bahkan pengarang lagunya, Muhammad Arif, ikut menjadi korban “pembersihan” alat keamanan Orde Baru.

Lagu inilah yang diangkat Rachman Sabur dalam teaternya, Payung hitam, dengan judul “Lagoe Jang Dikoeboerkan”. Rachman Sabur, maestro teater kontemporer kita itu, kembali membuat salah satu masterpiece nya. Selama satu jam pentas sepi dari omongan. Seorang ayah, petani melarat, dengan dua anak lelakinya yang dewasa, yang rupanya pulang dari sawah, diteror ketakutan dan ancaman yang tak dipahami nya, oleh siapa? dari mana? dan sebab apa?. Pintu yang tiba-tiba digedor keras-keras, ketika dibuka oleh sang ayah, diluar ternyata gelap, kosong tak ada siapapun. 

Ketika berusaha tahu dengan membuka jendela rumah, kedua anak tani itu cuma melihat jendela yang membentur tembok rumahnya. Dan tiba-tiba ada bunyi dengan nada keras berdebat aneh. Memilukan, mengancam, tidak teratur. Semua itu membuat penghuni rumah dicekam ketakutan, terancam, cuma tidak jelas dari siapa? dari mana? dan sebab apa? 

Akhirnya jawabannya tiba, muncul sesosok jendral tanpa kepala. Membawa tongkat besi yang senantiasa siap buat memukul. Petani dan kedua anaknya menjadi geram. Mau melawan tapi juga putus asa, tidak berdaya, karena kekuasaan dan ketakutan, itu tidak jelas apa dan siapanya. Dan tibalah si ibu tua-renta dengan kesabarannya memulihkan semangat hidup keluarga petani itu. Hidup harus terus dijalani, apapun ancaman dan terror dari luar sana. 

Rachman Sabur adalah pemikir negasi. Bernaung di bawah payung hitamnya. Pilihan teater Rachman Sabur selalu sisi gelap dari kehidupan ini. Dunia hitam manusia dimasukinya sembari berusaha membongkar rahasia-rahasianya. Mengapa keberadaan ini selalu muncul sisi gelapnya. Semua yang ditolak manusia, seperti kemelaratan, ketertekanan, ketakutan, ketidak berdayaan, keputusasaan, kekerasan kekejaman, kejahatan, selalu hadir dan membuat manusia seperti mainan di tangan-tangan berkuku ganas. Manusia seperti tersedot Black Hole yang tidak mungkin muncul kembali. 

Estetika Sabur adalah estetika hal-hal buruk. Tetapi dari tangannya hal-hal buruk itu menjadi memikat dan menuntun kita memasuki misteri dunia gelap manusia. Lagoe Jang Dikoeboerkan mencapai tingkat puitiknya, paradoks antara telah terjadi dan akan terjadi, historis dan futuristik, disini dan di mana-mana, ber waktu dan tidak berwaktu. Temuannya yang otentik dan genial adalah semacam penanda waktu yang jarumnya berderit menggores rasa sakit, ancaman menakutkan yang misterius karena berlangsungnya tidak bisa diduga.


Apakah artikel ini membantu?

2 thoughts on “TEATER TUBUH MERAH BOLONG DAN GENJER-GENJER SEBAGAI TERDAKWA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *