Merah Bolong pentas di Btisbane Power House, Brisbane, Australia. dok TPH
Judul garapan ini sudah mengundang pertanyaan sendiri. Agaknya Rachman Sabur memang tertarik pada suatu puitika judul yang subur dengan asosiasi dan mengandung efek pengasingan kata. Ini dilakukannya dengan memanfaatkan kepekaan nya sebagai penyair, dalam memilih kekuatan sugestif kata, sehingga judul pementasannya menjadi campuran antara Deklarasi dan efek defamiliarisasi.
Ini, kali Teater Payung Hitam menjamah batu, aneka batu. Ada batu kali, batu pondasi, batu belah(split), sampai batu hias berwarna-warni. Semua batu ditata di seluruh lini panggung, disebar, di gundukan, digubah konstruksinya jadi figur-figur pipih menyerupai anatomi manusia. Sebagian lagi digantung vertikal seperti bongkahan fosil-fosil daging tanpa cita rasa, berayun-ayun, berpusing seperti ujaran beku tanpa suara. Ada pula yang berojolkan dari langit-langit panggung, deras, menteror. Batu-batu kali yang bulat mampat sebesar kepalan tangan bocah dihamburkan lagi dari sisi wing panggung, dipotong terseok-seok dalam ember-ember seng, riuh, serba berkelontang dan mendidih. Pertunjukan “Merah Bolong Putih Bolong Hitam” begitu bersemangat batu. Namun, kita toh tidak sedang melihat demonstrasi “tawuran” yang cuma bisa ganas dan menghenyak.
Rachman Sabur, sutradara yang paling getol di Bandung, sedang menjelajah kebisuan batu, menatap kesepelean sekaligus sensasinya, mengaktifkan semangat kekerasan eksplisit dari batu. Lalu barisan aktor teater Payung Hitam dengan khusuk mempersenyawakan diri dengan ruang semangat penjelajahan Rachman, untuk mengusung suatu tema yang juga keras dan mampat seperti ciri-ciri fisik batu, yaitu soal kekerasan fisik dan psikis yang menguasai kosmos berfikir manusia(Indonesia).

Kekerasan fisik dan psikis itu muncul dari pengkondisian ideologi besar bangsa yang cenderung menunggalkan pengertian terhadap segala hal, termasuk dalam gara-gara tipical kita mendefinisikan makna “merah dan putih”.
Seluruh moment dari tentang pertunjukan Merah Bolong Putih Bolong Hitam merupakan visualisasi yang variatif, lugas dan penuh hentakan daya, menggelarkan aneka gambaran penaklukan “manusia-manusia ber artikulasi batu” yang terserap dalam kubangan ideologis pikiran. Hasil akhir dari A kumulatif itu adalah kekerasan, komunikasi, penyerian, identifikasi, dan kuburan.
Dalam Merah Bolong Putih Bolong Hitam kita menyaksikan manusia yang janggal dan pilihan-pilihan otonom nya, selalu diperabukan tanpa apresiasi, tanpa doa-doa, dan tanpa keheningan, hanya gemuruh sekop dan guyuran batu-batu mengubur jasad tanpa harga itu namun begitu, teater Payung Hitam toh tidak sedang mempromosikan produser dan tata gara-gara untuk takluk. Mereka justru ingin jadi bagian dari daya tolak terhadap penyakit ke taklukan itu jasad yang terkubur dalam batu diragakan Tony Broer lewat cara bermain yang keras, nikmat sekaligus “Maschocistik”, tetapi menegakkan kepalan tangannya, sebagai manifestasi perlawanan. Tenggelam dalam homogenisasu, namun dengan acungan tangan terkepal adalah ajakan semangat ” Retorika batu”Itu di atas panggung tangan terkepal itu menjadi persuasi visual dari posisi marginal para “manusia batu” Yang tengah berhadapan dengan kekerasan teoristik dari kekuatan ideologis “merah putih”.
Namun kritik terhadap ideologi ” merah putih” bukan satu-satunya fokus pertunjukan yang riuh ini, Rachman nampak mencoba memperluas format problematik dari fenomena kekerasan ideologi itu. Dari sodokan terhadap fenomena nasional yang signifikan. Beberapa slide disebarkan ke layar putih koyak yang mengabadikan lagi akses-akses kejahatan perang, kerontang dan mengguruhnya tanah bumi serta potongan-potongan potret manusia renta yang menyimpan keperihan dan kebisuan, suplemen artistik itu memberi efek yang lebih universal pada keleluasaan tematis yang diucapkan pertunjukan.
Pemanggungan Merah Bolong Putih Bolong Hitam menandai oeralihan eksplorasi teater Payung Hitam, pemilihan bahan material artistik yang juga dalam hal menuangkan bahasa-bahasa metaforiknya, yang dipakai sebagai kendaraan ekspresi. Peralihan eksplorasi itu memang masih menunjukan “benang merah” dengan karakter pemanggungan Payung Hitam sebelumnya. Merah Bolong Putih Bolong Hitam masih menunjukkan keterikatan idiomatik dengan pementasan Kaspar.
Seluruh moment dari tentang pertunjukan Merah Bolong Putih Bolong Hitam merupakan visualisasi yang variatif, lugas dan penuh hentakan daya, menggelarkan aneka gambaran penaklukan “manusia-manusia ber artikulasi batu” yang terserap dalam kubangan ideologis pikiran. Hasil akhir dari A kumulatif itu adalah kekerasan, komunikasi, penyerian, identifikasi, dan kuburan.
Dalam Merah Bolong Putih Bolong Hitam kita menyaksikan manusia yang janggal dan pilihan-pilihan otonom nya, selalu diperabukan tanpa apresiasi, tanpa doa-doa, dan tanpa keheningan, hanya gemuruh sekop dan guyuran batu-batu mengubur jasad tanpa harga itu namun begitu, teater Payung Hitam toh tidak sedang mempromosikan produser dan tata gara-gara untuk takluk. Mereka justru ingin jadi bagian dari daya tolak terhadap penyakit ke taklukan itu jasad yang terkubur dalam batu diragakan Tony Broer lewat cara bermain yang keras, nikmat sekaligus “Maschocistik”, tetapi menegakkan kepalan tangannya, sebagai manifestasi perlawanan. Tenggelam dalam homogenisasu, namun dengan acungan tangan terkepal adalah ajakan semangat ” Retorika batu”Itu di atas panggung tangan terkepal itu menjadi persuasi visual dari posisi marginal para “manusia batu” Yang tengah berhadapan dengan kekerasan teoristik dari kekuatan ideologis “merah putih”.
Namun kritik terhadap ideologi ” merah putih” bukan satu-satunya fokus pertunjukan yang riuh ini, Rachman nampak mencoba memperluas format problematik dari fenomena kekerasan ideologi itu. Dari sodokan terhadap fenomena nasional yang signifikan. Beberapa slide disebarkan ke layar putih koyak yang mengabadikan lagi akses-akses kejahatan perang, kerontang dan mengguruhnya tanah bumi serta potongan-potongan potret manusia renta yang menyimpan keperihan dan kebisuan, suplemen artistik itu memberi efek yang lebih universal pada keleluasaan tematis yang diucapkan pertunjukan.

Pemanggungan Merah Bolong Putih Bolong Hitam menandai oeralihan eksplorasi teater Payung Hitam, pemilihan bahan material artistik yang juga dalam hal menuangkan bahasa-bahasa metaforiknya, yang dipakai sebagai kendaraan ekspresi. Peralihan eksplorasi itu memang masih menunjukan “benang merah” dengan karakter pemanggungan Payung Hitam sebelumnya. Merah Bolong Putih Bolong Hitam masih menunjukkan keterikatan idiomatik dengan pementasan Kaspar.
Ciri-ciri teater Rachman yang mengadopsi efek film is dalam semangat perasaan, eksplorasi musikalisasi dari material artistik dan semangat bermain yang bertumpu pada aktualisasi aksi dan genjotan energi serta pengucapan puisi lewat teatrikalisasi bentuk, adalah tanda-tanda visualisasi yang masih melekat dari Kaspar ke Merah Bolong Putih Bolong Hitam. Namun begitu diusung secara eksplosif dan retorik, maka Merah Bolong Putih Bolong Hitam justru lebih banyak dituturkan dalam wilayah puisi.
Dalam Merah Bolong Putih Bolong Hitam, Rachman dengan keteguhan terhadap pilihan aryokulasi teaternya, secara total meniadakan bahasa verbal sebagai bahasa tuturan dan sepenuhnya kembali pada kekuatan instrinsik gerak, musikalitas tubuh dan permainan komposisi. Batu yang menjadi nyawa pertunjukan ini tidak sekedar menjadi efek pemicu sensasional pertunjukan. Batu adalah bahasa final pertunjukan itu sendiri. Batu menjadi pusat narasi aktor, eksplanasi tema, ilustrasi musik dan pusat refleksi nilai sekaligus. Merah Bolong Putih Bolong Hitam disajikan secara “word less”, justru menampakan ” the real words” itu sendiri. Rachman meniadakan kata, untuk mencapai transendensi terhadap kata, lalu masuk ke wilayah Surealis kata, yang lebih magnetis dan lebih tajam daya asosiasinya. Inilah satu kemajuan konseptual yang dicapai oleh garapan teater Payung Hitam kali ini.
Sebagai manifestasi pertunjukan, Merah Bolong Putih Bolong Hitam dikerjakan dengan presisi teknis dan juga “pengorbanan diri” yang tinggi. Ada adegan-adegan dimana kenyerian artistik ditampilkan secara simultan dengan transparansi kenyerian fisik yang dialami pemain. Ekspresi gerak-gerak limbung, jumpalitan, akrobatik, menghindar dari pendulum batu, serta repetisi-repetisi kinetik dalam gerak rampak yang kesemuanya diwujudkan dengan tempo dan akurasi yang tinggi, serta yang diplototkan oleh tubuh-tubuh pemain yang totalitas daya, semua itu adalah target artistik untuk mengartikulasikan tema tetapi juga sekaligus demonstrasi cara main yang “berani” menyakiti diri sendiri. Akting dan semangat maschocistic berpadu. Dengan semua manifestasi ini penonton bisa tertegun, terkesima, juga terkesima oleh paduan teknik dan totalitas penyerahan diri pemain pada atmosfir yang hendak diciptakan dan dinikmati nya. Seluruh sosok pemain berseragam celana kodok hitam, yang nengendap dibalik topeng grotesque yang sangat hidup efek sugestifnya.. Betul-betul semangat lelaki, panas, berkeringat, dengan saling menularkan energi kelelakian nya nengalirkan inci demi inci pertunjukan dalam peluh.
Namun akrobatik kenyerian, sungguhpun dominan, tidaklah meniadakan jejak-jejak puisi dalam Merah Bolong Putih Bolong Hitam, menjelang klimaks pertunjukan panggung yang gemuruh kembali diheningkan. Suara denting yang lambat dan ber vibrasi menguasai panggung, membuat suasana menjadi padat dan khusuk. Pada momen suntik itulah sesosok tubuh yang renta alamiah muncul dalam balutan kolor putih dan tulang rusuk yang ber tonjolan, seperti gambaran nurani kita yang tua dan letih. Diantara guyuran distorsi aneka suara yang mendengung seperti Symphony serangga, tubuh renta itu mendekati jasad yang terkubur batu “merah putih” menjamah nya dengan mata hewan terluka lalu nurani renta itu mengeluarkan batu hitam pada jasad di depannya. Jasad itu kini mengkafankan batu, merah-purih-hitam seperti kolase warna-warni penganan dalam sesajen duka. Itulah moment paling bening dan sepenuhnya jadi manifestasi puisi, yakni saat batu-batu mencapai tujuan artistiknya, mewujudkan suatu surrealitas kata-kata. Setelah itu, panggungpun menggelap sempurna, luruh pada kediaman yang hipnotik, lalu jejak puisi dan ruang pertunjukan beralih ke ruang introspeksi kita sendiri. Kitakah batu itu? Yang terus meng gemuruh namun tuna otonomi. Atau kita adalah jasad dari pikiran-pikiran remuk, menjadi sesajen dan martil bagi kekuasaan yang membatu?
Rachman sesungguhnya tidak berurusan secara harfiah dengan batu-batu. Dia justru sedang mengutarakan suatu fenomena di luar kehadiran fisikal batu-batu. Sesuatu yang tidak cukup terjamah oleh simbolisasi batu-batu, namun hanya yang bisa diucapkan lewat aktualisasi batu sebagai batu itu sendiri. Itulah sebabnya batu-batu di panggung teater Payung Hitam tetap berada dalam wajah “mentahnya’ tanpa stilasi atau kamuflase artistik. Segenap batu dalam pertunjukan itu bukan sekedar kendaraan bagi aksi dan aksesori teaternya. Batu dengan identitas ” mentahnya”, adalah pusat wacana, pusat makna dan bobot filosofis yang ingin digali dan dikomunikasikan. Dengan menampilkan batu dalam semua manifestasi kekerasan dan kegaduhan nya. Kita justru diajak untuk hening dan bukan sekedar terkesima oleh demonstrasi visual batu-batu. Dengan sungguh-sungguh mantap menyelami spirit batu di panggung yang “chaotic”itu kita selanjutnya kita bisa membuka komunikasi dan reflektif, bukan sekedar komunikasi optis terhadap presentasi teater ini. Refleksi ini berhubungan dengan soal batunisasi nurani kita sendiri. Inilah wilayah komunikasi diluar sensasi batu. Sebuah komunikasi yang perih namun magnetis, di sebrang determinasi.
Saat pertunjukan usai, seluruh panggung memang menjadi puing dan sertakan aneka batu. Sebuah chaos rupa dan kotoran fisik yang sesungguhnya. Namun esoknya saat pertunjukan dimulai lagi, kita kembali melihat panggung yang bersih, tertata dan siap. Para pemain berpeluh itu bukan hanya telah menunjukkan dirinya sebagai aktor, tetapi menunjukkan pula kualitasnya sebagai pembersih panggung teater(kosmos mereka sendiri) yang telaten. Itulah pancaran disiplin internal keaktoran. Itulah bagian dari ritus keaktoran. Dan komunitas Payung Hitam memiliki individu-individu yang sudah mengimani panggung itu. Pembatinan atas ritus itu pula yang barangkali menjadi terapi dan pembebasan bagi semua kecelakaan fisik dan aneka pegal linu yang dirasakan seusai melakoni pertunjukan. Ritus membersihkan kosmos teater bisa jadi tamu yang tak perlu seduhan lagi, yakni seduhan datang dari pujian dan tepuk tangan, seduhan oleh heroisme kelompok, atau bahkan seduhan yang diinginkan oleh pukau honorarium. Ritus teater yang dijalani yang sungguh mempunyai kekuatan terapinya untuk tidak meladeni seduhan-seduhan macam itu. Dan perjuangan teater memang butuh membatinkan standar seperti itu Teater Payung Hitam dalam komando gigih Rachman Sabur.
Perjalanan kesenimanan, seperti juga denyut kreativitas, tak pernah bisa disederhanakan menjadi target. Seperti rahasia kesehatan, karya seni selalu berpulang pada tersedianya udara kreatif yang hanya bisa muncul dari kekhusuan kontemplasi, jika kreatif menjadi target, sedang udara kreatif dianggap barang yang bisa dibeli di pasar transaksi, maka kesenian mulai bermain dengan mitos-mitos identitasnya sendiri. Itulah saat seorang seniman sudah berhenti berjalan. Berhenti menjalani laku kreatifnya.
Teater Payung Hitam belum berhenti. Sungguh pun jumlah ciri-ciri kreativitas sudah berhasil digali, ditemukan, dipelihara dan mendapat legitimasi publik, itu tidak jadi alasan untuk bersemayam di titik henti. “Pembacaan terhadap karya-karya teater Rachman Sabur yang saya lakukan, adalah suatu cara sendiri, agar sama-sama tak punya kerinduan untuk istirahat dan mengendap di titik henti. Inspirasi adalah Ketidaksesuaian.

