lakon drama satu babak
Di Taman. Seorang pengamen duduk di bangku taman sedang memainkan gitar, seperti sedang membuat musik dengan lirik yang baru jadi satu paraghraph.
PENGAMEN:
Orang-orang bergerak | Mencipta petak-petak | Jalan-jalan retak | Melukiskan detak-detak
In-frame. Dua lelaki masuk. Seterusnya duduk di bangku taman. Bersebrangan dengan pengamen.
LELAKI A:
Tidak ada pilihan lain. Engkau harus bertindak dengan cepat!
LELAKI B:
Ragu!
LELAKI A:
Ragu? Kalau begitu, apa gunanya persahabatan kita selama ini? MENARIK NAPAS PANJANG Bukankah engkau tahu, masa depan kita sedang dipertaruhkan!
Out & in frame: Lelaki A pergi. Lelaki B termenung. Pengamen menarik napas dan sebelum melanjutkan aransemennya, masih dengan paraghrap pertama.
PENGAMEN:
Sepertinya cocok dengan lirik lagu yang kubuat. MELANJUTKAN LAGI ARANSEMEN.
LELAKI B:
Aaaaagh! TERIAKANNYA MEMBUAT PENGAMEN BERHENTI. SETERUSNYA LELAKI B TERSEBUT MENGAMBIL GAWAINYA DAN MENELEPON SEORANG. Hallo. Di mana? Bisa datang ke taman sekarang? Ya. Terima kasih. Saya tunggu! TERMENUNG SEJENAK. SEMENTARA PENGAMEN MEMPERHATIKANNYA DENGAN SEDIKIT TERTAWA ATAS TINGKAHNYA YANG MERACAU. Tak habis pikir! Kau begitu tega berbuat seperti itu padaku! Seharusnya aku tidak menceritakan semua rencana-rencanaku padamu. Bedebah! Dasar cungkring! TERMENUNG Ah, apakah si tengil itu menceritakan semuanya? Ya, aku memacarinya sekadar jembatan untuk bergerak lebih leluasa? Ya, bisa jadi. MENGHAMPIRI PENGAMEN. Coba kamu pikir, salah saya itu di mana? Bukankah kamu tahu siapa aku? Kalau tidak tahu kebangetan!
PENGAMEN:
Tahu!
LELAKI B:
Apanya yang tahu?
PENGAMEN:
Tuan sedang meracau!
LELAKI B:
Bangsat! Katanya kamu tahu siapa aku!
PENGAMEN:
Bertemu juga baru sekarang! BERDIRI DAN BERGEGAS PERGI. KERTAS DAN BOLPOINNYA KETINGGALAN.
In-frame. Datang seorang perempuan.
PEREMPUAN:
Hai! Sudah lama menunggu?
LELAKI B:
Lumayan!
PEREMPUAN:
Lumayan?
LELAKI B:
Lumayan lama!
PEREMPUAN:
Ya, maaf. Maafkan aku beb. Habisnya angkot macet!
LELAKI B:
Kenapa tidak naik grab, biar cepat?
PEREMPUAN:
Iya, tadi itu aku naik angkot online!
LELAKI B:
Aaagh pusing! To the point saja; kenapa kamu tega seperti itu?
PEREMPUAN:
Tega? Tega apanya?
In-frame. Pengamen Kembali datang dan duduk di bangku yang tadi ia tempati. Melihat pengamen datang, lelaki B menurunkan intensitas suaranya.
LELAKI B:
Iya, kenapa kamu tega berbuat itu padaku?
PEREMPUAN:
Berbuat? Berbuat apa?
LELAKI B:
Kamu mencuri semua ide-ideku!
PEREMPUAN:
Bukankah lebih cepat lebih baik?
LELAKI B:
Iya, tapi soalnya …
PEREMPUAN:
Soalnya adalah kau itu lamban!
LELAKI B:
Semua ada perhitungannya. Dasar cungkring!
PEREMPUAN:
Cungkring juga manusia!
LELAKI B:
Siapa bilang kamu setan?
PEREMPUAN:
Kamu, barusan!
LELAKI B:
Terus sekarang maunya kamu itu apa?
PEREMPUAN:
Kamu bilang kita akan membuat partai. Kamu bilang, partai itu alat filter untuk menyaring calon-calon pemimpin. Berdasarkan analisamu, partai-partai yang ada sekarang tidak melakukan hal itu, justru yang ada saling koalisi menitipkan jagoannya di ranah eksekutif, yudikatif dan legeslatif untuk saling memfilter dalam membagi kue! Terus kamu bilang lagi partai yang akan kita dirikan tidak akan mencelakakan regenerasi bangsa. Akan berbeda dari yang sudah-sudah. Partai yang kita akan dirikan tidak akan jadi partai ular yang menyengasarakan mengesangsarakan fuih… menyengsarakan rakyat!
LELAKI B:
Kenapa kamu buat opini di media dalam pers liris?
PEREMPUAN:
Kan sudah dibilang, lebih cepat lebih baik!
LELAKI B:
Maaf, bukannya mengesampingkan GELISAH aku tahu kapasitasmu dan aku tahu bagaimana zaman ini sedang berlangsung.
PEREMPUAN:
Oh.. jadi kau menudingku menggunakan kecerdasan buatan, ketika membuat pers liris itu, iya kan?
LELAKI B:
Tidak seperti yang kau duga!
PEREMPUAN:
Terus, maksudmu apa?
LELAKI B:
Bukankah kau sendiri tahu, bahwa saat ini banyak orang pandai yang tak pernah berpikir? Dan bukankah kau sendiri tahu, bahwa saat ini; bahwa saat ini orang-orang bisa begitu mudah mengungkapkan pemikiran tanpa harus lelah berpikir!
PEREMPUAN:
Halah, jelas-jelas menuding. Aku tidak terima! Aku tidak seperti itu!
LELAKI B:
Maaf. Apa aku bisa semudah itu percaya padamu? Sementara di luaran sana, banyak orang-orang menyandang gelar bukan karena mereka pernah berpikir!
PEREMPUAN:
BERUSAHA TENANG Sayang, aku melakukan semua ini demi kebaikan kita!
LELAKI B:
Dasar cupu! Bagaimana kita bisa berjalan dengan mulus kalau dapur kita kau bongkar? Haduh! Justru yang ada kita akan diamputasi, seperti partai-partai besar itu!
PEREMPUAN:
Bikin partainya juga belum. Kita masih berstatus mahasiswa. Aku perlu biaya kuliah. Aku buat pers liris dan nulis opini-opini di beberapa media, buat bekal biaya kuliah. Meski engkau tahu aku ini anak siapa, tapi aku ingin benar-benar mandiri!
LELAKI B:
Itu namanya dolim, seperti para wakil-wakil kita. Kamu dapat honor, aku tidak!
PEREMPUAN:
HENING. Sayang, apakah kau lupa; seperti itulah politik dalam berstrategi! Kamu sendiri kan yang mengajarkan politik padaku. Jadi, dalam hal ini, salah siapa? Dan satu hal lagi, bukankah kau pun pernah berkata, bahwa ada pepatah purba: murid yang baik itu murid yang bisa membunuh gurunya!
LELAKI B:
Haduh, maksud dari pepatah itu tentang keilmuannya yang bisa melebihi gurunya, bukan jadi clepto!
PENGAMEN:
Hahaha… jadi juga ini lagu. MEMAINKAN GITAR DAN BERNYANYI. PEREMPUAN DAN LELAKI B BERHENTI DARI BICARANYA, LAJU MENYIMAK. Orang-orang bergerak | Mencipta petak-petak | Jalan-jalan retak | Melukiskan detak-detak || Kata orang tong kosong nyaring bunyinya | Tapi nyatanya laku lugu berwatak dadu | Tapi nyatanya laku lugu berwatak ambigu || Bagaimana kalau kita beranjak | Beranjak ke masa depan | Bersama musuh dalam selimut || Apakah kita masih tetap ada | ataukah kita telah musnah | ataukah kita telah musnah ||
LELAKI B:
Detik ini juga kita putus!
PEREMPUAN:
Apa karena lagu barusan?
LELAKI B:
Kamu lebih tahu alasannya! Satu hal yang harus kau ingat, jangan mentang-mentang kamu anak pejabat bisa berbuat seenak udel!
PEREMPUAN:
Baik! SECEPAT KILAT PEREMPUAN ITU MENGAMBIL PISTOL DARI TASNYA. MENEMBAK LELAKI B DAN PENGAMEN. KEMUDIAN MENODONGKAN PISTOLNYA KE KELAPANYA. Tak ada impian yang bisa terwujud dengan sempurna, kalau semuanya masih berwatak begal. Tidak ada yang baru. Ya, tidak ada yang benar-benar baru, baru tercipta, selain kebinasaan! MENEMBAKKAN PISTOL KE KEPALANYA.
In-frame. Lelaki A.
LELAKI A:
MELIHAT SUASANA SEKITAR. SYOK. MERACAU. Wah, kacau. Kenapa jadi seperti ini? MENANGIS. Apa kubilang! Ya, sudah aku katakana padamu kan, bahwa nasib kita sedang dipertaruhkan, itu artinya nyawa kita terancam! MERENUNG. MELIHAT SEKITAR. TERTAWA LEPAS. Hahaha… ini kesempatanku! MENGAMBIL PISTOL YANG TERGELETAK DAN MEMASUKANNYA KE DALAM TAS YANG IA BAWA. SETERUSNYA MENGELUARKAN HAPE LAJU MEREKAM SEKITAR. Saudara-saudara, telah terjadi pembunuhan dua orang aktifis yang sudah kita tahu sepak terjangnya dalam vocal menyuarakan ketidak adilan di ini negeri dibunuh secara keji. Dan yang lebih mengerikannya lagi seorang pengamen pun dibunuhnya. Diduga seorang pengamen adalah saksi kunci, sehingga mau tak mau harus dibunuhnya. Dalam hal ini pemerintah harus bertanggung jawab, mengusut tuntas kasus ini. LANTANG. Dan saya, satu-satunya saksi yang masih hidup. Jelas sudah, hak sipil dikebiri. Rezim harus bertanggung jawab atas semua dosa-dosanya!
END TO CUT
040424









