PERSAHABATAN ANTAR SENIMAN PEKERJA TEATER

JOSE DAN JIM

foto Jose Rizal Manua dan Jim Lim. dok Jose Rizal Manua

Persahabatan antar seniman pekerja teater takkan luntur termakan waktu

Di luar WS Rendra yang fenomenal, gebrakan dunia teater modern Indonesia dimulai dari kehadiran seorang Jim Adhilimas yang pada masanya dikenal dengan nama populer Jim Lim dengan nama lahir Lim Liang Djin, seorang kreator teater bernapaskan realis yang mendirikan grup teater paling tua, Studiklub Teater Bandung atau STB, bereksplorasi bersama mitra dekatnya, aktor/sutradara terkemuka Suyatna Anirun dan mengadakan pertunjukan-pertunjukan teater realis dengan sangat mengagumkan, mungkin pada masa itu hanya bisa ditandingi oleh aktor-aktor didikan ATNI lewat banyak pementasan drama ATNI disutradarai oleh Usmar Ismail atau Asrul Sani.

Gebrakan teater realis kemudian ditunjukkan oleh Teater Populer

Kekuatan gebrakan kreatif Jim Lim dan Suyatna Anirun yang menampilkan banyak pementasan drama realis seperti terulang lagi lewat eksistensi Teguh Karya dan Slamet Rahardjo dalam banyak pertunjukan Teater Populer.
Sangat membanggakan.

Sedikit cerita saja
Pementasan drama 4 babak ROMULUS AGUNG karya Friedrich Durrenmatt (Jerman) terjemahan Jim Lim, produksi Teater Ibukota, sedianya akan disutradarai oleh “sutradara tamu” Fred Wetik, yang membawa dan sengaja memilih naskah ini untuk dimainkan oleh Teater Ibukota sebagai pementasan “senior” ke 2 setelah ARWAH BINAL (1976) dan akan dipentaskan di tahun yang sama di Teater Arena TIM kompleks lama, 3 malam ber-turut2, sebagai bonus dari kemenangan di Festival Teater Remaja, Jakarta di masa paling awal.

Tapi pementasan ini batal disutradarai Fred Wetik karena pada saat bersamaan Fred dipanggil produser film dan diminta harus segera mempersiapkan film cerita perdana yang akan disutradarainya, meskipun kala itu Fred sudah menentukan kasting drama ini.

Pementasan ini akhirnya kembali disutradarai oleh Abdi Wiyono, yang rangkap memerankan tokoh “Romulus Agustulus”, sedangkan saya bermain rangkap sebagai “Zenon dari Isauria” dan “Odoaker penguasa German”.
Dari penentuan kasting oleh Fred Wetik, ikut bermain “pemain2 Teater Ibukota” lainnya seperti Saliban Sastra, M. Aboed, Fatima Maria, Winda Pribadi dan Lia Aprilyani.

Lewat pementasan drama ROMULUS AGUNG inilah saya bertemu pertama kali dengan Jose Rizal Manua, seniman panggung muda usia, baru 22 tahun, yang sangat familiar, cekatan dan punya selera seni artistik panggung yang kuat, dalam kerja sama kreatif sebagai penata artistik dan penata cahaya pementasan drama ini. Sungguh suatu pertemuan yang mengesankan karena kerja sama dengan Jose Rizal Manua masih berlanjut pada pementasan drama berikutnya seperti SANGKURIANG karya Utuy Tatang Sontani dan PANGERAN WIRAGUNA karya Muchtar Lubis.
“Sangkuriang” dimainkan di Teater Tertutup, sedangkan “Pangeran Wiraguna” di Teater Arena, keduanya di TIM kompleks lama dalam 3 malam ber-turut2, pada tahun yang sama, 1977.
Kala itu untuk ke dua drama ini saya memerankan tokoh “Sangkuriang” dan “Pangeran Wiraguna”.

Fred Wetik yang dikenal sebagai salah satu penata artistik film dan penata rias film terbaik sempat aktif sebagai pemain teater dan bersama Jim Lim mendirikan Teater Perintis, Bandung, sebagai suatu eksplorasi kreativitas teater realis di luar STB/Studiklub Teater Bandung yang jauh lebih mapan keberadaanya dalam jagat dunia teater.

Bravo sahabat FB, sahabat lama dunia teater, seniman teater multi talenta, penyair dan deklamator yang sangat disegani.
Salam sukacita dari pandangan jauh di mata, dalam dingin yang masih bersisa. (Emmanuel Lie Ping)


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *