JOSE RIZAL MANUA, JIM LIM DAN ROMULUS AGUNG, CERITA NYATA DI BALIK LAYAR

jose drama

Dalam akun “Facabook” milik Jose Rizal Manua, deklamator sekaligus dramawan multi talenta, aktor, sutradara, penata artistik pendiri Teater Tanah Air, grup teater kanak-kanak yang banyak meraih penghargaan internasional dan sampai sekarang masih hadir dengan pementasan-pementasan yang masih diminati penggemarnya, suatu kali disajikan gambar kenangan tahun 2018 yang menampilkan Jose Rizal Manua sedang berdiri berdua bersebelahan dengan Jim Adhilimas, tokoh lama dunia teater modern Indonesia yang puluhan tahun sempat berkiprah sebagai aktor mewakili figur Asia dalam industri film Perancis.

Gambar kenangan ini menggerakkan saya menuliskan sesuatu pengalaman yang bersinggungan dengan teater. 

Persahabatan antar seniman pekerja teater memang takkan pernah luntur termakan oleh waktu

Di luar WS Rendra, aktor, sutradara dan penulis naskah pimpinan Bengkel Teater Yogya yang sangat fenomenal, gebrakan dunia teater modern Indonesia sesungguhnya dimulai dari kehadiran seorang Jim Adhilimas yang pada masanya dikenal dengan nama populer Jim Lim dari nama lahir Lim Liang Djin, seorang kreator teater kelahiran Bandung bernapaskan teater realis yang mendirikan grup teater paling tua, Studiklub Teater Bandung atau STB, pada tahun 1958 dengan bereksplorasi bersama mitra dekatnya, aktor dan sutradara terkemuka Suyatna Anirun dan mengadakan banyak pertunjukan teater realis di masanya dengan sangat mengagumkan, mungkin pada saat itu hanya bisa ditandingi oleh aktor-aktor didikan ATNI lewat banyak pementasan drama ATNI yang disutradarai oleh Usmar Ismail atau Asrul Sani.

Gebrakan teater realis kemudian ditunjukkan oleh Teater Populer pimpinan Teguh Karya atau dikenal pula sebagai Steve Lim dari nama lahir Lim Tjoan Hok dan tak ada hubungan darah dengan Jim Lim, meskipun ke dua tokoh teater modern ini berasal dari komunitas besar masyarakat peranakan Tionghoa Melayu.

Kekuatan gebrakan kreatif Jim Lim dan Suyatna Anirun yang menampilkan banyak pementasan drama realis seperti terulang lagi lewat eksistensi Teguh Karya dan Slamet Rahardjo dalam banyak pertunjukan Teater Populer.

Inilah perputaran roda sejarah yang sangat membanggakan.

Menyinggung nama Jim Lim ada sedikit cerita lain disini

Pementasan drama empat babak ROMULUS AGUNG karya Friedrich Durrenmatt (Jerman) terjemahan Jim Lim, produksi Teater Ibukota, awalnya akan disutradarai oleh “sutradara tamu” Fred Wetik, yang membawa dan sengaja memilih naskah ini untuk dimainkan oleh Teater Ibukota sebagai rencana pementasan “senior” ke dua setelah pementasan drama yang pertama berjudul ARWAH BINAL (1976), karya Noel Coward, terjemahan Hugeng Karsidi (Khouw Hok Goan), sutradara Abdi Wiyono dan akan dipentaskan di tahun yang sama di Teater Arena TIM kompleks lama, 3 malam ber-turut2, sebagai bonus dari kemenangan di Festival Teater Remaja, Jakarta di masa paling awal.

Dari hasil Festival Teater Remaja, Jakarta ke tiga, tahun 1975, tim juri menetapkan tiga grup teater yang mampu memenangkan kategori pembinaan tiga tahun berturut-turut tanpa putus sebagai grup teater “senior” generasi pertama, yaitu Teater Ibukota pimpinan Abdi Wiyono, Lisendra Buana pimpinan Tjok Hendro dan Teater Remaja Jakarta pimpinan Aldisar Syafar.

Penghargaan sebagai “senior” ini mewajibkan grup-grup teater terpilih mengadakan pementasan drama di TIM dalam tiga malam berturut-turut.

Di luar ini, pementasan drama yang rutin di TIM (kompleks lama) sudah menjadi wilayah kerja grup-grup teater andalan seperti Bengkel Teater (Rendra), Teater Populer (Teguh Karya), Studiklub Teater Bandung (Suyatna Anirun), Teater Kecil (Arifin C. Noer), Teater Mandiri (Putu Wijaya), sampai belakangan Teater Koma (N. Riantiarno) yang mendapat jatah main selama 4 atau 7 malam berturut-turut, bahkan ada yang sampai 15-30 malam berturut-turut.

Sangatlah fantastik

Kembali pada hasil Festival Teater Remaja, Jakarta ke tiga tahun 1975, sebenarnya kala itu ada satu grup teater potensial, Sanggar Teater Jakarta, pimpinan Sudibyanto, yang punya peluang besar masuk kategori “senior” generasi pertama, bersamaan dengan Teater Ibukota, Lisendra Buana dan Teater Remaja Jakarta, hanya grup ini gagal karena tidak masuk pembinaan di tahun ke tiga setelah dua tahun berturut-turut sebelumnya masuk dalam kategori pembinaan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).

Setelah berjalan persiapan hampir satu bulan, rencana pementasan drama ROMULUS AGUNG batal disutradarai oleh Fred Wetik karena pada saat bersamaan pula Fred Wetik dipanggil produser film dan diminta harus segera mempersiapkan film cerita perdana yang akan disutradarainya, meskipun kala itu Fred sudah menentukan kasting drama ini. 

Kala itu saya mengenal sosok Fred Wetik karena pada saat yang sama Fred Wetik adalah dosen yang mengajar mata kuliah Tata Artistik Film kepada saya di Akdemi Sinematografi LPKJ.

Dari sinilah di luar jam kuliah saya sering bertukar dialog dengannya mengenai dunia teater.

Dengan batalnya Fred menyutradarai naskah ROMULUS AGUNG karya Friedrich Durrenmatt, makan pementasan ini akhirnya kembali disutradarai oleh Abdi Wiyono, yang rangkap bermain sebagai “Romulus Agustulus”, sedangkan saya bermain rangkap sebagai “Zenon dari Isauria” dan “Odoaker penguasa German”.

Dari hasil keputusan kasting yang sudah diselesaikan “sutradara tamu” Fred Wetik untuk pertunjukan teater ini, ikut berperan “pemain-pemain tetap Teater Ibukota” lainnya seperti Saliban Sastra memerankan “Cesar Krupff”, M. Aboed (main rangkap sebagai “Appllyon” dan “Emilius”), Fatima Maria (“Julia”), Winda Pribadi (“Phylia”), Lia Aprilyani (“Rea), Handy Kosasih (“Tulus Rotundus”), Yino Suteja (“Mares”), Latif Kuswanto (“Theodorik”) dan Matt Pelor (“Pyramus”).

Lewat pementasan drama ROMULUS AGUNG inilah saya bertemu pertama kali dengan Jose Rizal Manua, seniman panggung muda usia, baru 22 tahun, yang sangat familiar, cekatan dan punya selera artistik panggung yang kuat, dalam kerja sama kreatif sebagai penata artistik dan penata cahaya pertunjukan ini. Sungguh suatu pertemuan yang mengesankan karena kerja sama dengan Jose Rizal Manua masih berlanjut pada pementasan drama berikutnya, berjudul SANGKURIANG karya Utuy Tatang Sontani dan PANGERAN WIRAGUNA karya Mochtar Lubis.

“Sangkuriang” dimainkan di Teater Tertutup, sedangkan “Pangeran Wiraguna” dimainkan di Teater Arena, keduanya di TIM kompleks lama dalam 3 malam ber-turut2, pada tahun yang sama, 1977.

Kala itu untuk ke dua pementasan drama ini saya memerankan tokoh “Sangkuriang” dan “Pangeran Wiraguna”.

Fred Wetik yang dikenal di dunia film sebagai salah satu penata artistik dan penata rias terbaik, salah satu film cerita yang dikerjakannya sebagai penata rias adalah SI BUTA DARI GOA HANTU (Penas, 1970), sempat aktif sebagai pemain teater jempolan dan bersama Jim Lim mendirikan Teater Perintis, Bandung, sebagai suatu eksplorasi kreativitas teater realis di luar STB/Studiklub Teater Bandung yang jauh lebih mapan keberadaanya dalam jagat dunia teater modern.

Berbagi kenangan dalam gambar, nampak dari kiri ke kanan, Udhin Prawira (“Si Tumang”), Lie Ping (“Sangkuriang”) dan Lia Aprilyani (“Dayang Sumbi”) dalam suatu adegan pementasan drama tiga babak SANGKURIANG, karya Utuy Tatang Sontani, dengan sutradara Abdi Wiyono, produksi Teater Ibukota, tahun 1976.

Pementasan drama ini dimainkan dalam tiga malam berturut-turut di Teater Tertutup, TIM kompleks lama, di masa setelah Teater Ibukota memenangkan Festival Teater Remaja, Jakarta dan dinyatakan sebagai grup teater “senior” generasi pertama bersama dengan Lisendra Buana pimpinan Tjok Hendro dan Teater Remaja Jakarta pimpinan Aldisar Syafar.

Berbagi apresiasi


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *