KETAGIHAN

images tph

Begitu terbersit nama Teater Payung Hitam, maka benak saya langsung digeber dengan sebuah bentuk militansi, itu betul!

Banyak pekerja teater yang punya dedikasi. Banyak pekerja teater yang punya komitmen. Banyak pekerja teater yang tinggi tingkat konsistensinya. Banyak pekerja teater yang penuh pengabdian. Dan pekerja teater Payung Hitam punya semua itu, ditambah militansi.

Mari kita lihat beberapa teori tentang militansi!

arese mengatakan : “Militansi jelasnya sebuah sifat dan juga sikap. Militansi adalah bentukan antara obsesi dan fanatisme yang menjadi masif karena adanya tujuan yang jelas”.

Sedangkan Pliatsikas mengatakan : ” Militansi adalah sebuah pola pikir saya nalar yang dibentuk oleh ambisi, dan mengkristal menjadi pengabaian terhadap kalah atau menang, untung atau rugi, hidup atau mati, dan lebih menjadi sebuah semangat egosential”.

Kendati sebenarnya tidaklah terlalu penting dia pendapat di atas tentang militansi. Yang mau saya katakan dalam kondisi rendahnya apresiasi awam terhadap kesenian, militansilah yang bisa menjaga kesenian itu tetap eksis. Dan itulah yang dilakukan Teater Payung Hitam yang mengakrabi militansi!
Apa sebenarnya modal Rachman Sabur dan kawan-kawan Payung Hitam? Begitu lama mereka bisa eksis! Begitu subur mereka malang-melintang! Begitu jelas mereka mengarah! Begitu menusuk “bau” mereka! Begitu tegas “warna” yang diusung! Begitu kuat mereka “meninju”

Dan begitu parah mereka berkorban!

Ini semua hasil dari begitu dalam dan panjangnya kreatifitas mereka yang lahir dari rahim militansi yang mereka punya.

Bagaimana tidak!

Kendati mereka datang dari “Komunal” yang berlainan. Kendati mereka datang dengan masalah yang warna-warni sifatnya. Kendati mereka bertemu dengan latar belakang yang heterogen. Kendati kredo mereka saling bertubrukan Tapi disaat sebuah proses, Rachman Sabur menggiring mereka dalam situasi yang membuat semua ini jadi sebuah pikiran multi dimensional yang absurd dan tidak ada dalam teori manapun!

Pikirannya multi dimensional, tapi militansinya menjadikan mereka bercanda Payung Hitam, mereka berwarna Payung Hitam, mereka bicara Payung Hitam, mereka berteriak Payung Hitam, mereka tersenyum Payung Hitam, bahkan kalau mereka dioperasj bisa jadi darahnya golongan Payung Hitam!
Saya tidak jelas benar, apakah gaya Rachman Sabur mengandung keterbukaan atau tidak. Tapi itu jadi tidak penting, karena Sabur mentolerir pikiran para aktornya untuk tetap berpikir dalam pola multi dimensi, dalam bungkus militansi Payung Hitam.

Segera saja kita putar kilas-balik kreatifitas Payung Hitam! Apa yang tergambar disana? Bukan Stanislavsky, bukan modern, bukan tradisi, bukan STB, bukan Bengkel, bahkan bukan guru-gurunya Rachman Sabur, tapi gambar Payung Hitam!

Coba deskripsikan?

Sulit, seperti kita harus mendeskripsikan rasanya bersetubuh. Justru karena sulitnya kita mendeskripsikan rasanya bersetubuh, maka kita menjadi ketagihan untuk bersetubuh.

Begitulah Payung Hitam, militansinya membuat gambar yang sulit kita diskripsikan, makanya ketagihan!
Ketagihan sebuah kata benda yang asalnya dari kata kerja! Sedikit pekerja teater yang menawarkan ketagihan! Dan ini sebuah mujizat bagi kita, ada Payung Hitam yang merembesi rasa kita, dengan “militansi” ketagihan, atau malahan “ketagihan” militansi*.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *