dua wajah satu bangsa | BAGIAN – I
Di negeri ini,
sang Menteri berdasi mahal, di ruang AC, duduk di kursi empuk, menghitung anggaran bantuan sosial, sedang si Mantri, bermotor butut, buka praktik di ujung lorong panjang, mengobati sakit gizi buruk rakyat, tarif suka rela, hanya berharap bonus dari surga.
Sang Menteri sibuk pidato, pentingnya pembangunan desa tertinggal, si Mantri banting tulang, dari desa ke kampung, demi sekolah anak-anak dan menyambung napas keluarga.
Sang Menteri bicara kemakmuran nusa bangsa, tersenyum selebar iklan kampanye, sedang si mantri menatap rakyat miskin satu hari makan sekali, janji kampanye politik, cuma omon-omon, basa basi
Di layar kaca, negeri tampak indah mempesona, di kolong jembatan, rakyat hanya bayang-bayang, dianggap kaum siluman, tak perlu lagi sandang – pangan – papan.
Sang Menteri bermobil hitam, bersirene menjerit-jerit seperti pasukan anjing pelacak, mengusir pedagang kaki lima, seperti menyerbu sarang gembong Narkoba …, si Mantri berjalan kaki, berkubang lumpur, di malam buta, membantu kelahiran dengan biaya boleh dicicil.
Di ruang rapat, sang Menteri bicara “visi dan misi”, di rumah rombeng, si Mantri menulis resep obat paling murah, supaya pasien terjangkau harga beli.
Eh ladalaaa!
Di negeri ini dipenuhi papan-papan reklame: rencana program jangka panjang, untuk jangka pendek sedang diperjuangkan!
Di pusat-pusat kota, bertebar iklan perumahan rumah dan mobil mewah, sedang di pelosok-pelosok desa, sambil menahan lapar, penduduk membaca spanduk tinggal separuh, bertulis: kesejahteraan rakyat segera masuk desa.
Oh, negeri yang pernah disulam dengan lapar, jerit luka, cacat, darah dan kematian pahlawan, kini divermak dengan benang emas korupsi dan politik koalisi pencitraan.
Sang Menteri lupa bahwa kursi bukan tahta pribadi kekal abadi, dan rakyat bukan sebatas statistik yang terlampir di laporan tahunan. Si Mantri sederhana, berjuang di antara terik kemarau, hujan dan banjir, tak berharap sorot kamera, tak perlu seremoni, apalagi riuh tepuk tangan para penjilat. Tapi lihatlah di wajahnya, berkilau cahaya bangsa, bekerja bukan untuk tanda tangan, melainkan panggilan hati nurani.
Di rumah ibadah berlantai marmer, sang menteri berdoa, disorot kamera dan media massa berhias kata-kata indah di pucuk tugu Monas. Sedangkan, dibalik rumah desa terpencil, si Mantri berdoa di antara detak nadi pasien dalam tangis pasrah melawan penyakit yang sulit diatasi, hanya menanti detik-detik kematian.
Oh dunia serba fana,
Inilah parodi republik gemah ripah lohjinawi, katanya, tak lucu-lucu malah berbumbu sengak, pahit dan getir: sang Menteri bicara masalah kesejahteraan, tapi tak peduli harga beras di warung, kian hari bertambah tinggi; Bicara menyuburkan proyek pembangunan, tapi cuek bebek, jalan-jalan di pedesaan, masih banyak yang berkoreng, setiap musin hujan, rakyat bermain kubang lumpur seperti kerbau.
Ketika sang saka merah putih berkibar, si menteri sibuk mengambil posisi, sengaja berselfie di depan kamera dan bergaya seperti pemimpin besar, sedang si Mantri menatap, menunduk mencium merah putih yang lusuh, dibasahi airmata, teringat kakek dan bapaknya gugur di medan tempur, tak perlu tanda jasa sampai jasad terkubur.
Sang Menteri menemui si Mantri, berminta maaf, lupa sumpah saat duduk satu bangku di sekolah, siap mengabdi kepada negeri, haram melakukan praktik manipulasi, tetap berlaku bersih, sampai di ujung usia.
Sang Menteri memeluk si Mantri menyatu dalam tangis perpisahan, sebab besok pagi, sang Menteri sudah siap dijemput petugas Komisi Pemberantasan Korupsi bersama Pasukan Polisi.
Dari Timur Bekasi,
Rabu, 5 Nov 2025
04.50









