AKU

toni 6

logo Teater Payunghitam. dok TPH

Aku Dan Teater Payung Hitam

Dari sekian banyak produksi Teater Payunghitam yang aku ikuti, salah satu produksi yang monumental bersama Payung hitam adalah lakon KASPAR karya penulis Austria yang banyak menulis karyanya dalam bahasa Jerman, Peter Handke dengan sutradara Rachman Sabur. Proses produksi dimulai dengan konsep tubuh, dimana para aktor membuat sistem latihan, sebelum jadwal pertemuan dengan sutradara. Proses ketubuhan dalam latihan sangat dominan. Selain aku, para aktor lainnya berlatih secara spartan. Berlatih habis-habisan tanpa mengenal waktu, siang dan malam kami terus latihan dan latihan. 

Tidak sia-sia proses latihan KASPAR yang panjang, hasilnya bisa dinikmati dengan pertunjukan yang maksimal. Penuh semangat, para penonton dan para kritikus teater memberikan aplous yang luar biasa. Selanjutnya banyak festival teater Nasional dan festival teater internasional mengundang pertunjukan KASPAR. 

Aku Dan Proses Kolaborasi Internasional

Dalam proses ber teater di lingkungan STSI Bandung dan Teater Payung Hitam, kemudian melangkah untuk berproses bersama dengan kelompok teater luar negeri. Baik pementasan teater yang berangkat dari teks(verbal), maupun pementasan teater yang menggunakan bahasa tubuh. Beberapa kelompok teater luar negeri yang aku ikuti, seperti ; Black swan Theatre, Perth, Australia, Rin Ko Gun Theatre Company dan Gekidan Kaithasa, Japan.

Beberapa karya lahir dalam proses kolaborasi. Periodenya berlangsung sejak 1997 sampai sekarang. Selain tetap aktif di dalam negeri juga aktif di dalam kolaborasi dengan kelompok dari luar negeri. Terutama dengan kelompok dari negara Jepang(Rinko-Gun Company dan Gekidan Kaitasha). Beberapa negara tempat proses kolaborasi itu berlangsung adalah Perth, Australia, Jepang, Kampnagel, Jerman, Brollin, Jerman dan Cardifi UK, Inggris. 

Aku Dan Pertemuan Dengan Ruang Butoh

Pergulatan dengan teater memacu untuk mengenal bentuk-brntuk Seni pertunjukan lainnya. Tidak saja yang ada di Indonesia, terus mencari referensi-referensi tentang Seni pertunjukan dunia. Aku akhirnya menemukan satu bentuk Seni pertunjukan Butoh yang berasal dari Jepang. Mulai mengenal dia nama master Butoh, yaitu : Kazuo Ohno dan Tatsumi Hijikata melalui buku. 

toni 1
DUNIA TONY sutradara Rachman Sabur. STSI Bandung. dok. TPH

Proses mengikuti workshop Butoh pertama di STSI Bandung, kerjasama Japan Foundation di Jakarta 1999,oleh Yukio Waguri dari kelompok Butoh Kohzensha. Kemudian pada tahun 2001 diundang oleh Japan Foundation Jakarta untuk mengikuti workshop Butoh di IKJ Jakarta, masih dengan pemateri Yukio Waguri. Perkenalanku dengan Yukio terus berlanjut sampai akhirnya berkenalan dengan tokoh besar Butoh, Kazuo Ohno. 

Pada tahun 2002-2003 mendapat beasiswa dari Bunka-Cho untuk belajar Seni tradisi dan Seni modern di Jepang. Selama proses belajar di Jepang, aku berkenalan dengan beberapa tokoh Butoh dan sempat mengikuti workshop di beberapa studio Butoh yang ada di Jepang, seperti : Butoh Kohzensha pimpinan Yukio Waguri, Butoh Dance Sankai Juku, pimpinan Amagatsu Ushio dan Semimaru, Butoh Dairakudakan pimpinan Maro Akaji, dan Asbestos Tatsumi Hijikata, pimpinan Akiko Motofuji. 

Proses belajar Butoh lebih banyak dari Kazuo Ohno Dance Studio, pimpinan Kazuo Ohno. Dengan proses latihan langsung dibimbing oleh Kazuo Ohno yang berusia 96 tahun dan putranya Yoshito Ohno. Selain belajar Butoh, aku juga berkesempatan mengikuti proses latihan Metoda Suzuki dari kelompok SCOT(Suzuki Company Of Toga), pimpinan Tadashi Suzuki, disamping juga belajar kesenian tradisional Jepang, yaitu Noh dari aliran Kongo, pimpinan Sulit Yamada.

Aku Dan “Monolog Tubuh”

Sejak periode tahun 1990-an sebenarnya telah memasuki masa-masa pada ruang pribadi, dimana masuk latihan-latihan yang dilakukan hanya sendiri dengan jadwal yang ketat dan mencoba belajar pada ketekunan diri sendiri. Proses inilah yang akhirnya mengarahkan pilihanku pada teater, dimana tubuh, dimana tubuh menjadi media utama yang dieksplor untuk latihan-latihan ruang pribadi. Latihan-latihan tubuh yang terus dilakukan, merupakan kewajiban dari proses ruang pribadi yang dijalani. 

toni 2
UNIVERSITAS KASPAR sutradara Rachman Sabur.. FESTIVAL TETAER TUBUH PAYUNGHITAM. dok. TPH

Tahun 2005 sampai sekarang mencoba menyutradarai sekaligus sebagai pemain dalam pengajian tubuh(wadah yang terbentuk secara tidak formal dari teman-teman teater dan disiplin ilmu Seni lain yang berlatih bersama), yang mengambil tubuh sebagai eksplorasi utama keaktoran. Kematangan dari tubuh pribadi menjadi prioritas hasil dari latihan bersama ini untuk memperlihatkan hasil-hasil eksplorasi yang dilakukan terus menerus, maka lahirlah nomor-nomor tubuh, yang kalau dipentaskan bisa disebut “Monolog Tubuh” (dengan pengertian pementasan dengan teks tubuh yang diucapkan oleh seorang aktor). 

Karya-karya dari ‘Monolog Tubuh” Ini yang telah dipentaskan, antara lain : Activity I dan Activity II, karya Tony Broer, yang dipentaskan di Jepang(kolaborasi dengan aktor-aktor dari Theatre Rinko-Gun Company), Pita Terahir, karya Samuel Beckett dan Tubuh Lahir Tubuh Perang, karya Tony Broer. Selain pentas ‘Monolog Tubuh” Juga membuat workshop “Tubuh Aktor” Yang sudah diselenggarakan di beberapa kota : Jakarta, Bandung, Serang, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Pekalongan, PadangPanjang, Makassar,, semarang, dan Madura. 

Aku Dengan “Tubuh Kata Tubuh”

Proses pertemuan dengan 03,sebuah naskah kreatif untuk muda Yogya, melahirkan program dengan nama “Tubuh Kata Tubuh” yang isinya adalah kolaborasi antara Fotografer dengan aktor. Aktor disini mengeluarkan tubuhnya sebagai esensi dan fotografer menangkap esensi tubuh itu sendiri, yang diharapkan akan melahirkan impresi baru dari hasil karya fotonya. 

Bentuk dari program ini di suguhkan layaknya pentas teater tapi dengan satu kekhususan, yaitu penontonnya adalah mata kamera dari para fotografer yang terlibat sebagai peserta dalam program ini. Dalam prosesnya teknik foto pun dikembangkan dengan berbagai kemungkinan saat menangkap objek yang bergerak dalam pementasan. Hasil dari setiap proses pemotretan kemudian bisa diolah atau tidak, sementara semua teknik yang sudah ada, atau yang masih dicoba terus dilakukan pada event ini program ini dilaksanakan dari akhir tahun 2008 sampai akhir tahun 2009,dengan 4 event pentas(indoor dan outdoor) Karya yang lahir pada proses ini : Tubuh Ruang Meja, Tubuh Sensual, Tubuh Bumi dan Tubuh Perang. Program dengan 03 ini juga melahirkan buku pertama dengan. Judul : Tubuh Buku. Berisi tentang tubuh teater dalam mata kamera para fotografer. 

toni 3
WAITING FOR GODOT DUNIA TONY sutradara Rachman Sabur.. dok. TPH

Tahun 2010, proses ruang pribadi terus dikembangkan dengan mencoba menjadikan “Tubuh Kata Tubuh” sebagai sebuah Metoda latihan yang bisa digunakan oleh semua orang. Tujuannya untuk menyadarkan orang pada narasi tubuhnya. Selama tahun 2010,juga dari hasil mencoba Metoda ini lahir 6 nomor : Tubuh Jalan, yang rencananya akan dijadikan buku kedua. 

Tahun 2011 masuk di Pascasarjana ISI Yogyakarta untuk mengambil program Doktoral penciptaan teater. 

Tahun 2012 terlibat sebagai aktor dalam. Kolaborasi 5 negara(Indonesia, Jepang, Cina, Korea, Inggris. Memainkan naskah Yaneura(Loteng), karya/sutradara Yoji Sakate, bersama Rinko-Gun Theatre Company, Jepang. Selama tahun 2013 melakukan proses riset pelatihan dari Metoda “Tubuh Kata Tubuh” dengan mengadakan workshop di beberapa kota.

Tahun 2014 pada bulan Agustus s/d Desember mendapat program Sandwich-Like DIKTI, untuk riset/penelitian tentang teater fisikal dan Butoh di kota Osaka dan kota Tokyo. Tanggal 18 Oktober 2014,aku berpentas bersama Gekidan Kaitasha di gedung Shakespeare-Mei-sei University Tokyo, membawakan adaptasi naskah Machbet, karya W. Shakespeare. Selama bulan November-Desember 2014. Aku mengikuti latihan di studio Dance Kazuo Ohno, bersama Yoshito Ohno. 

15 Januari 2015 membawakan pentas tubuh “Sebuah Mimpi Boneka” dalam pameran tunggal Franziska Frennet di Sangking Art Yogyakarta. Bulan Februari memberikan materi workshop tubuh di dua peristiwa.Workshop pertama di teater Camus Jakarta. Hasil workshopnya dipentaskan di halaman kampus. Kemudian di taman budaya kalimantan selatan dengan 13 komunitas teater. Hasil workshopnya dipentaskan di jalan dan panggung. 

Melakukan proses riset di berbagai tempat dengan melakukan pentas tubuh dan dibaca langsung oleh penonton di Sanata Dharma, di UGM. Pentas tubuh di jalan dengan membawakan “Tubuh Setengah Ranting”. Dimulai dari kampus pasca ISI Yogyakarta sampai jalan Malioboro. Mengintrogasi tubuh publik. Pentas tubuh pada pameran seni rupa Hanafi, membawakan ” Tubuh Miring”. Workshop tubuh di Fakultas Sastra Inggris UNPAD. Pentas tubuh pada ujian progres II dengan membawakan “Tu(M)buh Terbalik” 

Pentas tubuh pada eksplorasi ruang, dengan membawakan “Tubuh Taman”. Pentas tubuh pada pameran seni patung Lindu, membawakan ” Tubuhku Kakiku”.

Akhir tahun 2015,sebagai aktor(partikel bebas) dalam retospeksi Sardono’s dengan judul “Fabriek Fikr” di Colomadu. Tahun 2016 workshop tubuh di Madura. Di TBS HATEDU, Solo. Festival teater Cirebon. Diskusi teater tubuh, Jakarta. Sebagai aktor dalam “BlackSun” karya Sardono W Kusumo. Mengikuti program training SCOT. Metoda Tadashi Suzuki di Togamaru, Jepang. 

Aktor tubuh “Painting Art” Pada fabriek Fikr 2 bersama Sardono W Kusumo. Desember 2016mengikuti program Butoh Festival di Thailand, sebagai pemateri wirkshop dan pentas tubuh dengan judul TU(M)BUH.

Aku Teater Dan Tubuh

Tubuh berperan sentral dalam eksistensi individu dan menjadi simbol untuk menggali kemampuan. Mempersepsi suatu objek, ruang dan waktu. Tujuan keberadaan tubuh manusia untuk menghadirkan waktu eksistensial manusia, termasuk juga keleluasaan tubuh dan pikirannya. Akan tetapi di tengah dunia yang dibingkai oleh idealitas citra dan sensasi, akal sehat publik dibekukan oleh logika komoditas. Hal itu telah menciptakan penataan ulang citra dan sistem tanda bersama yang menyajikan fantasi dan dorongan individual yang seolah-olah bebas diekspresikan. Menurutku manusia yang bergerak pada sistem tanda itu bergerak bersama bukan sebagai kesatuan koheren, tetapi sebagai gerombolan yang akhirnya melahirkan manusia gerombolan, manusia yang tanpa refleksi. 

Tubuh dari bayang-bayang kebertubuhan manusia urban, pada akhirnya akan kehilangan bentuknya karena kehilangan bayangannya sendiri. Tubuh-tubuh manusia urban adalah tubuh yang berusaha menghilangkan sejarahnya. Tubuh-tubuh masyarakat kota yang plural dan terkurung dalam instalasi wilayah yang terbatas, sehingga harus berkompromi dengan banyak hal. Selain itu tubuh-tubuh yang memiliki identitas bawaan itu, kerap dikaburkan secara paksa demi memenuhi standar seperti pola yang disetujui bersama. Hal ini salah satu bentuk pernyataan berkedok yang memang menjadi ciri manusia urban dalam mengembangkan sejumlah motif psikologis baru untuk mempertahankan eksistensi diri dalam kehidupan sehari-hari. 

toni 4
KASPAR Festival Laokoon-Hamburg, Jerman. sutradara Rachman Sabur.. dok. TPH

Menyikapi fenomena ini, aku merasa diperlukan, semacam interogasi yang akan mengungkap meta narasi dari kehidupan dan pola-pola yang telah diciptakan untuk menunjukan situasi dan keberadaan kongkrit manusia urban. Interogasi menjadi “intensionalitas” Yang aku pilih sebagai salah satu cara membuka diri pada kemungkinan penjelajahan teater terhadap ruang konsentrasinya. Interogasi artistik dari tubuh menjadi strategi untuk tetap menjadikan diri sebagai individu, ditengah penyangkalan peran individu dalam kondisi manusia urban yang menggunakan logika “gerombolan”. Sebuah interogasi yang tetap memproduksi ekspresi-ekdpresi artistik yang mengubah ruang ilusi dan ruang transaksional menjadi ruang nilai dan makan. Ruang yang menguji kembali normalisasi dengan menyatakan sbnormalitasnya., dan mempertanyakan kelaziman dengan menghadirkan ketidaklazimannya. 

Program interogasi tubuh untuk menemukan meta-narasi ruang publik adalah sebuah program pementasan teater berupa pertunjukan di ruang publik yang menjadi tempat berkumpul tubuh-tubuh, seperti halte, taman kota, stasiun bis, pusat perbelanjaan, jalan raya dan lain-lain.

Pertunjukan yang mengambil pilihan di ruang -ruang publik sebagai panggung pertunjukan, sekaligus untuk melihat secara langsung respon dari masyarakat yang menyaksikan ketika tubuh-tubuh urban kembali dihadirkan kepada mereka. 

Interogasi tubuh di ruang publik, akhirnya akan menciptakan komunikasi yang jujur antara aktor dan apresiatornya. Manusia urban sebagai objek. Dari pertunjukan ini tentu akan memberikan respon alami dari apa yang disajikan dalam pertunjukan. Hal inilah yang akhirnya akan mengungkap pernyataan tentang konflik tersembunyi manusia urban yang mungkin tidak disadari. Logika dan pola yang mereka terima diterapkan selama ini, akan kembali diusik untuk dipertanyakan oleh mereka. Cara ini aku tempuh sebagai upaya untuk “mengganggu” kontruksi nalar mereka termasuk aku sebagai orang yang langsung terlibat. Sesuatu yang telah tertanam dan disepakati bersama untuk “menyingkap” identitas dan realitas yang disembunyikan. Proses ini dimaksudkan untuk menciptakan atau menimbulkan saya tarik epistemik dan estetik sekaligus*


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *