lukisan Dr. Tisna Sanjaya, S.Sn., M.A., Ph.D. Paper, Drypoint, Aquatint (1987) 49 cm x 50cm x cm. dok Tisna Sanjaya
Karya seni teater yang tumbuh dari proses partisipasi antar beragam layar belakang cabang kehidupan yang akumulasi nya menjadi seni pertunjukan teater yang hidup, adalah karya seni teater yang dipicu secara formal oleh naskah KASPAR karya Peter Handle. Kerjasama teater payung hitam yang disutradarai oleh Rachman Sabur. Goethe Institut Bandung melalui ketuanya Peter Sternagel memberikan fasilitas dana produksinya. Selain dipentaskan di beberapa kota di Indonesia, diundang juga dalam mengikuti festival Laokoon-Kampnagel, Hamburg, Jerman, 2001.

Inilah salah satu karya seni partisipasi publik di kota Bandung yang pada era zaman Orde Baru telah menginspirasi ide tumbuhnya rasa kebebasan untuk menyuarakan sisi kemanusiaan yang terhimpit oleh lingkup sosial politik yang absurd. KASPAR tampil sebagai bentuk seni pertunjukan yang mampu keluar dari himpitan sebuah sistem politik yang represif dan memenangkan suara estetik dari setiap pertunjukannya yang tampil di berbagai tempat, baik di ruang terbuka, seperti di lahan bekas kebun di ruang terbuka yang bisa diakses secara langsung oleh masyarakat setempat, maupun di gedung panggung teater tertutup, bahkan lintas negara. Teks KASPAR adalah naskah barat yang dibumi Indonesia kan oleh Rachman Sabur dan Payung Hitam ini mampu menyampaikan tema konteks situasi sosial politik lokal yang ditafsirkan dan dieksplorasi oleh kekuatan jiwa dan tubuh yang terampil. Terlatih secara kuat menyampaikan keunikan gerak tubuh, olah vokal, gesture, tuh dan jiwa masing-masing personal, para aktornya, diantara layar seni instalasi dan musik kontemporer sebagai kesatuan dari pertunjukan. Di wilayah seni rupa yang fokus pada gambar-gambar hitam putih Manubilis karya almarhum Sempat Siahaan. Seni gambar Sempat yang garis-garisnya diarsir bertumpuk menjadi bentuk tubuh-tubuh manusia yang menggambarkan tegangan di dalam format kertas putih menjadikan wujud visual yang bergerak, ada suara dari blok nuansa warna hitam cat air yang berontak ingin keluar dari ruang kertas putih.
Pada seni sastra, puisi-puisi Sunda yang sangat indah pada zaman era pemerintahan diktator, misalnya Godi Suwarna untuk sampai pada Blues Kere Lauk telah ratusan linting daun organik yang dihisap menjadi tatanan teks swara hati yang penuh dengan angan imaninasi merdeka yang melayang di dunia personal Godi. Blues Kere Lauk mengingatkan pada visual atau senirupa lukisan-lukisan Marc Chagall dari Rusia.
Pada suara dan bentuk seni musik almarhum Harry Roesli telah menghentak para pendengar mengajak berapa kayanya ungkapan kreasi manusia, tamasya pada wujud rupa dari alat-alat musik yang tidak hanya ditabuh, ditiup atau dipetik secara formal dari alat musik. Tapi musik Kang Harry juga dari suara sobekan, relawan kertas, gelinding suara drum, kaca dan piring yang pecah, kerupuk yang digayem, suara air hujan, suara mobil dan motor, suara perabot dapur yang ditabuh sampai musik tanpa suara. Keinginan bersuara dari intuisi manusia untuk menyampaikan berapa berlimpahnya kemampuan manusia yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta.
Situasi dan kondisi proses Kaspar berada dalam puncak kelam era zaman Orde Baru. Di satu sisi para pendukung teater Payung Hitam adalah para aktivis yang menyuarakan kebebasan berekspresi untuk tumbuhnya iklim demokrasi, di sisi lain kondisi negara yang absolut dengan puluhan melanggengkan kekuasaan dengan cara militeristik, mrmbreidel ragam media massa, menangkapi para aktivis, menyensor ragam acara televisi serta hampanya partisipasi publik dalam membangun kehidupan bernegara. Penguasa yang menentukan posisi gubernur, walikota, hingga camat, rektor perguruan tinggi, sampai organisasi-organisasi underbouw pemerintahan.
Gerakan seni teater di Bandung yang merespon era zaman yang sama pada pertunjukan Kaspar.
Diantaranya “Ruang Tunggu Bapak-Bapak karya almarhum Ging Ginanjar yang menyampaikan kegelisahan yang sama. Kebebasan yang terbelenggu oleh sistem yang menjauhkan dari semestinya sebagai manusia yang hidup dalam tatanan yang adil.
Pertunjukan teater yang menginspirasi untuk berpihak pada pencarian untuk menemukan sisi kebaikan, kebenaran dan keindahan manusia bisa kita renungkan dari imajinasi pilihan naskah
dan wujud yang telah diciptakan pada pertunjukan teater Suyatna Anirun, antara lain ketika menampilkan King Lear, Panji Koming, Rhinozeros.
Suyatna dari Studiklub teater Bandung mengajarkan kontemplasi dalam tatanan bentuk yang tersistem menjadi arah baru dari seni teater modern. Puluhan pertunjukan suara kebaikan dan keindahan Suyatna dkk. Yang tekun merajut ragam naskah drama menjadi pertunjukan yang menggetarkan rasa. Suyatna Anirun sebagai Seniman maupun guru, hingga kini jadi oase kreativitas seni teater modern di Bandung.
Pengalaman lebur bersama seniman-seniman yang menghidupkan teater menjadi jalan kehidupan sehari-hari, yang bermula dari keinginan belajar dari peristiwa seni teater. Maka bertemulah sejak awal tahun 1980-an dengan Suyatna Anirun, Rachman Sabur, Godi Suwarna.
Dari pergaulan dengan komunitas teater mereka terjadi kolaborasi seni sastra, seni rupa, musik, seni peran, seni tari dllnya. Kerjasama sejak usia muda, waktu mahasiswa dilimpahi kebebasan imajinasi, kerjasama informal, kreativitas mahasiswa Seni Rupa ITB, STSI dan IKIP, kerja seni multikultural yang dipertemukan oleh kesadaran dan kesamaan rasa akan kecintaan pada seni sebagai media untuk saling berbagi, bergotong-royong..
Dari peristiwa pertemuan dengan naskah Kaspar dan Pesta Pencuri yang digambarkan oleh Rachman Sabur bagi saya, menjadi aset peristiwa proses kreasi yang hingga kini terus menjadi limpahan sumber inspirasi, energi untuk menjadikan seni sebagai jalan hidup.
Cigondewah, Desember 2017

