BEBAN FEMINISME MODERN: Antara Kekuatan dan Kebutuhan Emosional

rika3

Kota Tasikmalaya – 20 November 2025. Rika Jo, kembali mementaskan Teks monolog “Feminisme Kodrati” karya Ab. Asmarandana di Ngaost Art Studio – Amanda Residence. Pada jam 16.oo WIB-selesai. Teks monolog tersebut menggambarkan pergulatan batin seorang perempuan yang merasa terbebani oleh tuntutan masyarakat untuk selalu kuat, mandiri, dan berkorban.

Di balik itu, ia menyimpan kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi dan merasa kurang dihargai. Monolog ini menyoroti tema beban perempuan, kebutuhan akan cinta dan pengakuan, serta kritik terhadap sistem patriarki yang menempatkan tanggung jawab tidak seimbang pada perempuan.

rika2

Di sisi lain, tokoh utama juga sedang mencari identitas dan makna hidupnya. Secara psikologis, teks ini berkaitan dengan teori feminisme dan hierarki kebutuhan Maslow, terutama pada aspek kebutuhan akan cinta, penghargaan, dan pemenuhan diri.

Singkatnya, teks monolog ini menggambarkan bagaimana perempuan modern diharapkan untuk menjadi pilar keluarga dan masyarakat, tanpa memiliki ruang untuk menunjukkan kelemahan. “Aku harus hidup. Menghidupi adik-adikku, menghidupi ibu-bapakku, menghidupi tetanggaku,” ungkap Rika Jo penuh ekspresif dalam laku ektingnya.

Perempuan dalam teks ini merasa terbebani oleh tanggung jawab. Namun tidak memiliki ruang untuk menunjukkan kelemahan. Ia merasa bahwa cinta selalu meminta pengorbanan yang besar, namun tidak selalu membalasnya dengan cara yang sama, “Siapa pun yang datang akan diterima asalkan membawa …” sambil menghamburkan uang ke segenap ruang panggung.

Konsep garap one man play yang disuguhkan oleh Rika Jo begitu apik dan atraktif penuh muatan emosional. Sesuai dengan tema yang resonansinya universal – Deklarasi yang kuat sekaligus pahit. Bagaimana tidak? Dalam dunia realita kala kita memandang eksistensi perempuan multitalenta itu hasil dari keharusan untuk mengisi semua celah yang ditinggalkan oleh sistem atau lingkungan yang tidak mendukung: Dibesarkan oleh keadaan bukan pilihan.

rika1

Bagaimana tidak? Toh fakta getir dalam kemandirian yang dipuja seringkali hasil dari kepincangan nasib bukan kebebasan memilih. Pada suguhan kali ini Rika Jo didukung oleh dua aktor pembantu yaitu Shima, siswi SMPN 3 Kota Tasikmalaya dan Nazwar dari SMAN 9 Kota Tasikmalaya. Konsep garap yang nyaris tanpa celah cacat ini diperkuat dengan kemampuan dua aktor pendukung yang bermain cukup natural bak dalam kehidupan di panggung realita.

Hanya saja musik pendukung dengan menggunakan musik digital kurang begitu mendukung pertunjukan. Baik musik ilustrai pun suasana. Apakah imbas soundntnya atau imbas rekamannya atau imbas dari yang menyala hidupkan musiknya. Namun hal itu kurang begitu fatal, sebab laku akting Rika Jo sudah sangat menghipnotis dengan penuh muatan emosional dalam membawakannya – masih bisa menjaga dari over left.

Irvan Mulyadie, selaku asn berprestasi sekaligus seniman multitalenta ini berpendapat bahwa, “Pertunjukan one man play yang dibawakan oleh Rika Jo ini kurang didukung dengan teks-teks narasi yang lebih kental dan padat, tapi itulah teks lakon monolog yang dituliskan Ab Asmarandana masih tetap dalam koridor khas teks-teks yang dituliskannya jadi sebuah ciri khusus karya-karyanya selama ini. Semua kembali pada aktor yang akan membawakannya.” pungkasnya yang diselingi dengan kisah Sukaratu. []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *