Tulisan ini penulis realitaskan secara singkat dalam segi analisa bentuk karya sastra drama (monolog & lakon) dari Lintang Ismaya yang berjudul Pantalogi Rahim Kata atawa Gugatan dari Balik Titik. Karya ini tersusun terdiri dari lima bagian yang saling berkaitan dalam satu kesatuan gagasan.
Menurut pendapat penulis, istilah Trilogi, Tetralogi, dan Pentalogi (sering disebut pentalogy dalam bahasa Inggris) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan rangkaian karya seni—baik buku, film, permainan video, maupun drama—yang saling berhubungan, memiliki kesinambungan cerita, atau diikat oleh tema tertentu.
Perbedaan utama di antara ketiganya terletak pada jumlah bagian atau volume karya tersebut:
Trilogi: Seri yang terdiri dari tiga bagian yang saling bertautan. Meskipun masing-masing bagian dapat berdiri sendiri, ketiganya secara keseluruhan menceritakan satu kisah besar yang komprehensif.
Tetralogi: Seri yang terdiri dari empat karya yang saling berkaitan. Tetralogi memberi ruang lebih luas untuk mengembangkan karakter maupun gagasan.
Pentalogi: Seri yang terdiri dari lima karya yang saling bertautan. Berasal dari kata penta- (lima) dan -logy (wacana/studi), digunakan untuk rangkaian karya yang cukup panjang namun tetap fokus pada inti cerita yang sama.
Namun dalam konteks karya ini, istilah “pantalogi” tidak hanya menunjuk pada jumlah bagian, melainkan juga pada strategi estetik yang membangun kesinambungan kesadaran, bukan sekadar kesinambungan peristiwa. Lima bagian tersebut bekerja sebagai lima rahim makna yang saling mengandung dan melahirkan tafsir baru. Struktur lima bagian ini menjadi medan dramaturgi kesadaran. Ia tidak hanya memperluas ruang naratif, tetapi juga memperdalam konflik eksistensial antara pencipta dan ciptaan, antara kata dan makna, antara tubuh dan bahasa.
Sesuai namanya, Pantalogi Rahim Kata terdiri dari lima bagian yang saling berkaitan, tapi memiliki fokus kesadaran yang berbeda. Bahkan dapat dibaca sebagai lima tahap kesadaran: kelahiran, konflik, perlawanan, refleksi, dan transendensi. Struktur ini memungkinkan pengarang mengeksplorasi satu tema besar—yakni hakikat penciptaan dan eksistensi—melalui sudut pandang yang komprehensif.
Secara bentuk, karya ini merupakan eksperimen estetika yang mencoba menembus batas-batas bahasa konvensional. Ia tidak hanya menyajikan teks, tetapi juga “ruang antara” yang memaksa pembaca menjadi partisipan aktif dalam memaknai apa yang tidak tertulis.
Jika sastra pada umumnya berhenti pada “titik”, karya ini justru menjadikan “titik” sebagai pintu masuk menuju ruang makna yang lebih luas. Frasa “Gugatan dari Balik Titik” menunjukkan bentuk perlawanan terhadap formalisme bahasa. Titik biasanya melambangkan akhir, batas, atau kematian sebuah kalimat. Namun dalam karya ini, titik bukan sekadar tanda baca, melainkan simbol penghentian yang digugat. Ia adalah batas formal yang dilampaui oleh kesadaran puitik. Dalam konteks dramaturgi, titik menjadi semacam tirai panggung yang ketika tertutup justru membuka ruang refleksi batin pembaca atau penonton.
Dengan menggugat dari balik titik, makna tidak berhenti saat kalimat berakhir. Ada ruang kosong setelah titik yang justru menjadi inti pesan dalam aspek sufistik sebagai ruang keheningan dan kontemplasi. Ruang kosong itu dapat dibaca sebagai ruang tafsir, ruang trauma, sekaligus ruang pembebasan. Ia adalah jeda yang tidak sunyi, melainkan sarat gema pengalaman historis dan spiritual.
Secara bentuk sastra, karya ini bersifat hibrida. Ia merupakan perpaduan antara narasi yang mengalir seperti cerita, tapi memiliki kepadatan makna dan rima internal layaknya puisi prosaik. Di dalamnya juga terkandung esai filosofis yang memuat pemikiran tentang ketuhanan dan kemanusiaan. Secara dramaturgis, bentuk hibrida ini menghadirkan kesadaran metadrama—di mana tokoh, bahasa, dan pengarang saling menyadari keberadaan masing-masing. Narasi tidak lagi hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga merefleksikan proses penciptaannya sendiri.
Pengaruh tradisi sastra sufi terasa melalui unsur paradoks, yaitu penggunaan pernyataan yang seolah bertentangan untuk mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam, seperti suara dalam diam dan cahaya dalam gelap. Paradoks juga tampak dalam relasi rahim dan kata: rahim yang biologis dipertemukan dengan logos yang metafisis. Di sinilah terjadi penyatuan tubuh dan makna, antara materialitas dan spiritualitas.
Gaya bahasanya lirik dan kontemplatif, mengajak pembaca untuk merenung, bukan sekadar mengonsumsi alur cerita. Simbolisme alam seperti tanah, air, api, dan udara menjadi representasi perjalanan ruhani manusia.
Secara metaforis, judul “Rahim Kata” menggunakan bentuk antropomorfisme, di mana kata diberi sifat biologis manusia, yaitu rahim. Rahim melambangkan tempat persemaian, kegelapan yang menghidupkan, dan awal mula penciptaan. Kata melambangkan logos, pikiran, dan manifestasi keberadaan. Pertemuan rahim dan kata menciptakan metafor besar tentang penciptaan: bahwa bahasa adalah tubuh, dan tubuh adalah teks.
Dalam konteks kritik sastra, karya ini juga mengimajinasikan ide perlawanan melalui simbol tubuh. Metafora organ reproduksi digunakan untuk menggugat konstruksi sosial yang membatasi perempuan. Dalam hal ini, dapat dibandingkan dengan karya Abidah El Khalieqy melalui novelnya Perempuan Berkalung Sorban yang mengeksplorasi relasi antara agama, seksualitas, dan hak perempuan.
Rahim dalam karya ini tidak hanya dilihat secara biologis sebagai tempat janin, tetapi sebagai sumber kata-kata yang lahir dari pengalaman ketertindasan. Dalam makna simbolik, patologi bukan sekadar gangguan medis, melainkan trauma atau luka sejarah perempuan yang kemudian “didiagnosis” melalui teks. Teks menjadi ruang terapi simbolik, tempat luka diartikulasikan dan kesadaran kolektif dibangkitkan.
Secara analisis, penulis memandang sastra bukan sebagai produk jadi, melainkan sebagai organisme hidup yang terus mengandung makna-makna baru. Metafora organisme ini selaras dengan konsep rahim: teks bukan benda mati, melainkan tubuh yang bernapas dan terus melahirkan tafsir.
Tokoh Lintang Ismaya, Raka Buana, dan Lastri Kinasih merupakan simbol tigalitas kehidupan—antara dualitas dan satu netralitas kehidupan. Dalam pembacaan dramaturgis, ketiganya dapat dipahami sebagai representasi pencipta (pengarang), ciptaan (tokoh), dan kesadaran kolektif (pembaca/penonton). Relasi tigalitas ini membentuk lingkaran makna yang tidak pernah selesai—sebuah gugatan yang terus hidup bahkan setelah titik terakhir dituliskan.
Dengan demikian, Pantalogi Rahim Kata atawa Gugatan dari Balik Titik merupakan karya sastra kontemporer yang anti-mainstream. Ia adalah dokumentasi rasa sakit sekaligus seruan pembebasan. Ia adalah perjalanan spiritual dan refleksi filosofis yang menempatkan bahasa sebagai ruang penciptaan sekaligus ruang gugatan.
Cukup sekian. Terima kasih.
Salam semangat berkarya.
Bandung, 16 Februari 2026









