TERROR MEMBAYANGI KITA TERUS

kaspar hitam putih kosapoin.com

KASPAR karya & sutradara Rachman Sabur produksi Teater Payung Hitam. dok. TPH

Pertunjukan Teater Payung Hitam mengkritik Megawati dan membuat cemas penonton. Teater Kontemporer kita semakin kaya.

Seorang pemain bertopeng masuk pentas. Ia menyunggi ember kaleng. Disamping seonggok kerikil batu, di pentas arena itu juga dipasang tiga buah bendul batu yang menggantung diam. Berjalan terseok, pemain itu membuang kerikil merah ke atas onggokan kerikil batu putih. Ia lalu menggaet bandul batu itu sehingga berayun mengelilingi pentas is dan bandul batu itu berkejar-kejaran mengelilingi pentas. Ia terengah-engah, akhirnya terkapar. Lalu, muncul tiga pemain bertopeng menyunggi ember. Ketiganya terseok-seok mengitari pentas. Dari dalam ember-embernya, ketiganya menuang batu-batu memenuhi pentas. Kemudian muncul seorang pemain bertopeng memikul sepasang ember. Ia terseok-seok mengitari pentas sambil menuang batu-batunya. Empat diantara lima pemain itu lalu bermain dengan bandul-bandul batu itu. Seorang diantaranya mau mengadu bandul batu itu dengan kepalanya.

Begitulah adegan-adegan lakon Merah Bolong yang dipentaskan Teater Payung Hitam dari Bandung di teater Utan Kayu, Jakarta, akhir Oktober silam. Dengan kuat mereka menggambarkan ritual penderitaan rakyat miskin yang terbesar susul-menyusul dihadapan mata kita. Itulah realitas kehidupan rakyat kita dewasa ini. Rakyat miskin yang memakai celana pendek dengan topeng-topeng yang menyeringai dengan rambut panjang awut-awutan. Ember, sekop, pikulan, kerikil, batu-batu, hanyalah sebuah alat peraga yang dimiliki rakyat miskin yang tak bisa menolong apa-apa.

Dua hari setelah Gus Dur dan Megawati dipilih menjadi presiden dan wakilnya. Mereka sudah ditimpuk keroyokan rakyatnya pada 22 Oktober. Begitulah yang dilakukan Teater Payung Hitam, yang berdiri pada tahun 1982. Jika pada pertunjukan tahun 1997,Payung Hitam mengkritik Presiden Soeharto dengan lakon DOM Dan Orang Mati. Kali ini dengan lakon Merah Bolong, mereka mengkritik Megawati. Pasalnya? Paling tidak, ada masalah pokok yang sulit diatasi : pengentasan kemiskinan. Justru karena Megawati menjadi harapan kaum tertindas. Teater Payung Hitam ini mengingatkannya. Musuh kita memang ada tiga : kemiskinan, keterbelakangan, dan penyakit

Tiga hal itulah yang dicecar kan terus-menerus kepada pemerintah oleh Rachman Sabur, sang sutradara. Agaknya, inilah ramalan Sabur, bahwa akhirnya Megawati menjadi Presiden setelah Gus Dur mengundurkan diri sebelum cukup menuntaskan masa jabatannya.

Pertunjukan “teater gaduh” yang menyatukan tubuh dengan pemain, dengan elemen panggung, situasi sosial, kondisi penonton dan pertunjukan tanpa naskah”). Payung Hitam ini memikat. Ia kaya, multi tafsir, solid, dan mencekam. Kerikil dan batu-batu berserakan, sungguh mengancam para penonton yang duduk berkeliling, menyatu dengan penonton.

Dengan menginjak, menendang, mengais, para pemain itu dengan mudah dapat melontarkan batu-batu itu ke arah penonton. Dalam hal ini, sang sutradara boleh diacungi jempol. Para penonton yang biasanya pasif dan selalu meminta disuguhi tontonan yang enak, baru tahu rasanya diterror, sekarang. Setiap detik penonton dibikin cemas oleh batu-batu itu. Langsung pikiran melayang ke arah para demonstran yang biasa melemparkan batu-batu.

Menjelang pertunjukan berakhir, sebuah potret Megawati muncul di balik kain merah besar yang bolong-bolong. Sabur meminta Megawati sebagai Wakil Presiden ini terus mengawasi dan berpihak kepada rakyat miskin, seperti yang dijanjikan nya. Sedangkan pemain tanpa kepala(kostumnya yang besar, yang menyembunyikan kepalanya) mengingatkan pada peran provokator yang gentayangan mengacsukan suasana kehidupan sosial politik. Yang mengejutkan adalah munculnya pemain bocah berusia 11 tahun, mengaku bernama Wahyu Bandido berbagi ria mengitari pentas sambil menyigi orang yang terkapar itu. Lalu lambang kaum duafa itu mengubur orang yang tergeletak itu dengan mengucurkan kerikil batu merah ke tubuhnya. Secara detail, pertunjukan ini juga menyuguhkan adegan yang menarik, nafas yang terkapar, yang terengah-engah menyebabkan onggokan kerikil di dadanya turun-naik mengikuti gerak nafasnya. Bagai lembah gaib disuatu tempat, entah dikawasan mana, dari daerah penderitaan manusia yang fans itu.


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “TERROR MEMBAYANGI KITA TERUS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *