PAGI: SUPERMALL
Pagi hari di pusat kota, kadang seperti komedi tanpa sutradara. Aku berdiri di Supermall yang dinginnya seperti kulkas raksasa, orang-orang berjalan cepat sambil menatap gawai, muka tanpa ekspresi, tapi hatinya mungkin penuh cicilan.
Aku berjalan santai, karena penyair tidak dikejar target penjualan. Paling-paling hanya dikejar tenggat ilham yang sering macet seperti jalan protokol di jam sibuk.
Di ujung koridor ada salon mahal yang kaca depannya kinclong seperti pintu menuju nirwana kelas sosial. Aku mengintip sebentar. Tidak sengaja atau mungkin sengaja
karena naluri satir memang suka mencari masalah. Dan di sanalah aku melihatnya: Ibu pejabat. Lengkap dengan tas bermerek, kacamata hitam yang lebih besar dari masa depan demokrasi, dan gestur angkuh yang mengatakan: “Aku sibuk mengurus bangsa … setelah bulu mata ini selesai dipasang.”
Ia duduk di kursi putar, diserbu empat pegawai salon sekaligus: yang satu merias wajah, yang satu merapikan alis, yang satu menata sanggul, yang satu entah ngapain tapi sibuk juga.
Aku bergumam lirih:
“Wah, ini bukan sanggul biasa,
ini sanggul ke-kenegaraan.” Karena kabarnya, ibu itu hendak menghadiri acara resmi: Upacara Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan.
Menabur bunga.
Berdoa sejenak.
Lalu pulang dengan foto-foto penuh pencitraan. Aku ingin masuk ke salon itu dan berteriak,
“Tolong, Bu, jangan terlalu lama di depan cermin! Nanti lupa bahwa pahlawan bukan tentang sanggul, tapi tentang tanggung jawab!” Tapi aku tahan. Satirku harus elegan. Tidak boleh berakhir jadi kericuhan di mall. Aku cukup mencatatnya dalam hati:
Kadang bangsa ini sibuk mempercantik wajah patriotisme, tapi lupa memperbaiki hatinya.
Di luar salon, seorang cleaning service sedang mengepel lantai.
Peluh menetes, tapi ia bekerja tanpa kamera,
tanpa wartawan,
tanpa upacara.
Aku tersenyum padanya. Mungkin dia lebih pahlawan daripada banyak pejabat yang nanti sore menabur bunga tapi besoknya menabur masalah. Aku melangkah keluar dari Supermall, membawa satu pamflet dalam kepala: Pahlawan hari ini banyak yang menata sanggul, tapi sedikit yang menata perilaku.
SIANG: VETERAN
Siang menyengat. Matahari seperti lampu spotlight yang memaksaku tampil di panggung yang bukan panggung teater, melainkan aula besar tempat 800 veteran duduk dengan tubuh renta.tapi sorot mata yang masih menyala. Aku berdiri di mimbar, menggenggam naskah pamflet yang kata-katanya lebih tajam dari cermin salon pagi tadi.
Aku lihat mereka.
Beberapa berkursi roda,
beberapa bertongkat,
beberapa bernafas dengan mesin alat bantu, beberapa hanya bisa tersenyum getir sambil mengusap mata. Dan di hadapan merekalah aku membaca sajak.
Sajak pamflet.
Sajak kritik.
Sajak yang menusuk—tapi bukan ke mereka, melainkan ke kita semua yang hidup nyaman di atas pengorbanan mereka. Aku membaca dengan suara keras:
“Wahai para penjaga kemerdekaan, hari ini kami datang memberi hormat,.tapi apakah hormat itu cukup ketika hidup kalian di masa tua sering kali tak terurus negara?”
Veteran-veteran itu menatapku.
Ada yang tersenyum pedih.
Ada yang menunduk.
Ada yang meneteskan air mata.
Ada yang menggeleng pelan
seolah berkata,
“Ya, Nak… kami tahu sakitnya.”
Aku meneruskan pamfletku:
“Pahlawan masa lalu berperang menahan peluru, pahlawan masa kini berperang menahan lapar, karena bantuan yang dijanjikan sering lebih cepat hilang.daripada sinyal internet di daerah terpencil.”
Tiba-tiba, dari barisan depan, seorang veteran mengangkat tangan. Tangannya gemetar, urat-uratnya menonjol seperti peta luka dari masa lalu.
“Aku minta karyamu, Nak,” katanya. Suaranya serak, tapi dalam..Aku terdiam. Lalu aku turun dari mimbar dan menyerahkan naskah pamfletku. Ia memegangnya pelan, menepuk-nepuk kertas itu seakan memegang benda paling berharga.
“Ini obat,” katanya.
“Bukan untuk tubuh…
tapi untuk hati kami.”
Aku menahan air mata.
Bukan karena sedih, tapi karena aku merasa kecil teramat kecil di hadapan orang yang dulu menjaga tanah ini dengan darahnya.
Dalam hati aku bersumpah: Selama aku masih bisa menulis, aku akan terus menyuarakan mereka.yang sering disenyapkan sejarah. Festival, panggung, tepuk tangan, semua itu tidak penting. Yang penting adalah sajakku sampai ke mereka yang layak mendapatkannya.
MALAM: ANGGUR
Malam turun perlahan, membentangkan tirai gelap di atas ruang batin yang letih setelah panggung siang tadi. Aku membawa sekilo anggur.
Buah sederhana, tapi penuh cinta. Untuk guru tercinta:
WS RENDRA.
Aku berjalan di bawah rembulan yang bulat seperti pesan moral yang selalu ia titipkan:
“Penyair harus setia bukan pada kekuasaan, tapi pada gerak kehidupan.”
Aku mengetuk pintu rumahnya. Rendra menyambut dengan senyum lebar, yang seakan menghapus semua penat dunia. Ia menerima anggur itu, mengendus aromanya, tertawa kecil, dan berkata:
“Ini buah, atau simbol perlawanan?”
Aku jawab,
“Ini dua-duanya.”
Kami duduk di beranda,.di bawah rembulan yang damai,.dan kami berbicara tentang pahlawan. Tentang mereka yang benar-benar mempertaruhkan nyawa di masa lalu, juga tentang mereka yang mengaku pahlawan di masa kini tanpa pernah berkeringat sedikit pun..Rendra menghisap rokoknya perlahan, menghembuskan asap yang naik seperti doa para leluhur.
“Dulu,” katanya,
“pahlawan berperang tanpa kamera.
Tanpa selfie.Tanpa live streaming. Tanpa kebutuhan pembuktian publik. Karena mereka tahu
bahwa kemerdekaan tidak butuh sorotan, yang dibutuhkan adalah pengorbanan.”
Aku mengangguk.
Ia melanjutkan:
“Sekarang banyak yang ingin disebut pahlawan, tapi malas melakukan hal yang layak disebut kepahlawanan.”
Aku tertawa getir.
Teringat salon pagi tadi.
Sanggul mengkilap.
Make-up mahal.
Upacara megah.
Tapi hatinya entah di mana.
“Kau lihat sendiri,” sambung Rendra,
“pahlawan masa kini kadang hanya berjuang di media sosial. Yang mereka pertaruhkan hanya kuota internet, bukan nyawa.”
Kami tertawa, tapi itu tawa pahit. Tawa satir. Tawa manusia yang tahu bahwa bangsa ini sedang sakit tapi masih punya harapan. Karena selama ada orang yang peduli, selama ada penyair yang menulis, selama ada veteran yang masih hidup, selama ada masyarakat yang mau mendengar, selama ada guru seperti Rendra, harapan tidak akan mati.
PAMFLET DI UJUNG MALAM
MENGHIMPUH SEJARAH, MENEGAKKAN HATI
Malam semakin larut. Kami bicara tentang masa lalu yang keras dan penuh darah, yang kadang dijadikan panggung retorika oleh mereka yang tak pernah mencicipi pahitnya.
“Pahlawan,” kata Rendra,
“bukan gelar.
Ia buah dari karakter.
Ia bukan atribut.
Ia kelahiran nurani.”
Ia menunjuk anggur yang kubawa.
“Begitu pula ini.
Buah yang matang tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh, dirawat, dibentuk matahari, dibesarkan tanah.”
Begitu pula pahlawan. Tidak muncul dari acara seremonial. Tidak muncul dari salon pagi hari..Tidak muncul dari pidato panjang. Tidak muncul dari unggahan media sosial.
Pahlawan muncul dari tekad,
dari luka,
dari keteguhan,
dari pengorbanan yang tidak ingin dipuja.
Aku menatap rembulan.
Aku melihat siluet masa lalu:
para pejuang yang berjalan tanpa alas kaki, para ibu yang membawa logistik, para pemuda yang memanggul senjata, para guru yang mengajar dalam gelap, para petani yang menyumbang beras.untuk prajurit kemerdekaan.
Mereka semua pahlawan.
Tanpa sanggul.
Tanpa salon.
Tanpa make-up kenegaraan.
MASA LALU – MASA KINI
Pahlawan masa lalu:
- rela mati.
- rela sengsara.
- rela kehilangan keluarga.
- rela hidup di hutan.
- rela berkorban tanpa nama.
Pahlawan masa kini: - rela antre di salon sebelum upacara.
- rela menabur bunga demi kamera.
- rela pidato panjang tapi lupa tindakan.
- rela klaim pengabdian tapi takut kepanasan.
- rela foto sambil senyum, tapi setelah itu lupa ziarah batinnya.
Namun bukan tugas penyair menghakimi. Tugas penyair adalah mengingatkan.
Dengan pedas,
dengan satir,
dengan parodi,
dengan humor menggelitik,
tapi tetap memberi jalan keluar. Maka inilah solusiku, pamflet moral untuk bangsa:
Rawat hati sebelum sanggul. Karena wajah tidak akan menyelamatkan negara.
Hormati veteran bukan saat upacara. Tapi juga dalam keseharian mereka yang sunyi.
Jadi pahlawan kecil saban hari.
Tidak perlu perang.
Cukup jujur.
Cukup bekerja.
Cukup manusiawi.
Belajar, bukan cuma merayakan.
Kepahlawanan adalah perbuatan, bukan penampilan.
PULANG DI BAWAH REMBULAN
Setelah anggur tinggal tangkai, dan obrolan tinggal gema, aku pamit pada Rendra. Ia menepuk bahuku, mengucapkan kalimat terakhir malam itu:
“Teruslah menulis pamflet, karena bangsa ini bukan kekurangan acara,.tapi kekurangan suara nurani.”
Dan aku berjalan pulang di bawah rembulan yang memantulkan cahaya pucat ke jalan yang lengang.
Pagi tadi aku melihat kepalsuan.
Siang tadi aku melihat kejujuran.
Malam ini aku belajar kebijaksanaan.
Tiga cerita dalam satu hari yang membuatku mengerti:
Pahlawan bukan soal waktu,
melainkan soal hati.
Bukan soal seragam,
tapi soal keberanian.
Bukan soal sanggul, tapi soal sikap. Dan aku akan terus menulisnya dalam pamflet-pamflet pedas
yang mungkin tak mengubah dunia, tapi setidaknya menggetarkan hati mereka yang masih setia pada kemanusiaan.
Dari Timur Bekasi
Minggu, 9 Nov 2025
09.36









