Penyair itu masih menatap bayangan sendiri di cermin tua, rambutnya mulai memutih tapi pujiannya tak juga surut, ia masih menatap nama sendiri di buku-buku usang dengan senyum setengah sombong, setengah bangga plus jumawah, seakan dunia puisi berhenti di bawah telunjuknya!
PENYAIR ITU LUPA, jaman telah menyalakan mesin baru, kata-kata tak lagi ditulis di daun lontar atau kertas bergaris, tapi di layar kaca digeser, diklik, dikomentari, dibagikan, diserbu emoji cinta dan tawa, tapi juga dibantai jempol-jempol tanpa nama. Ia pernah menjadi raja dalam ruang baca,
disanjung mahasiswa, dielu-elukan seniman muda, namun kini puisinya berdebu di rak perpustakaan kampus, sementara di luar sana,
puisi menjelma status singkat, mengalir di Tiktok, Instagram, dan kadang di bungkus gorengan yang masih berminyak.
PENYAIR TERKENAL ITU masih berpidato di panggung sempit tentang moral bangsa dan krisis nurani, tentang cinta sejati dan kemanusiaan universal, tapi lupa, bahwa anak muda kini lebih sibuk menulis caption galau di tengah kemacetan dan diskon daring.
PENYAIR ITU masih terpesona pada dirinya sendiri, pada masa lalu yang dibungkus pujian, pada penghargaan yang tergantung di dinding ruang tamu, di antara piagam, bingkai foto, dan medali dari festival negeri tetangga, semuanya jadi artefak kebanggaan,
saksi zaman yang tak lagi dibaca siapa-siapa. Sekarang, karya-karyanya tersimpan di peti emas bukan karena berharga, tapi karena disembunyikan dari kenyataan, bahwa puisi kini punya wajah lain: tak lagi suci, tak lagi anggun, melainkan urakan, spontan,.lahir dari perut rakyat dan tangan yang belepotan keringat.
Puisi sekarang menjerit di trotoar, bernyanyi di pasar malam, menyindir pejabat di warung kopi,
dan menghibur hati rakyat di pinggir kali. Puisi tak lagi perlu diundang ke seminar, karena ia sudah hidup di tengah-tengah suara kasir, di antara iklan deterjen dan promo pulsa. Namun penyair terkenal itu
masih menulis dengan pena yang sama, masih memuja kata “estetika”, masih berdebat tentang “metafora” dan “simbolisme”,
padahal generasi baru lebih senang menulis tentang nasibnya yang belum lolos magang, tentang cinta yang kandas karena ongkos, tentang negeri yang terus memberi janji tanpa arti.
PENYAIR TERKENAL ITU, dengan dada membusung, masih suka menyebut dirinya “guru bangsa”,
padahal ia tak pernah lagi mendengar suara rakyat, yang berteriak di jalan karena harga naik,
yang kehilangan sawah karena tambang rakus, yang menulis puisi di tembok, di kardus, di dinding WC umum. Ia lupa, puisi bukan lagi soal diksi indah dan gaya akademik,
melainkan napas kehidupan, yang menolak dibungkam oleh gelar atau penghargaan.
Lihatlah anak muda di emperan toko itu, menulis puisi di kertas koran, membacanya di depan penonton tiga orang, satu pedagang, satu tukang parkir, satu pengamen dan justru di situlah kejujuran berdiri tanpa panggung.
Sementara sang penyair besar masih terjebak nostalgia, mengira dunia masih menunggu sajaknya yang panjang, padahal dunia sudah pindah ke layar kecil yang lebih cepat menelan berita dan melupakan nama.
Ah, betapa keponya, ia bangga dengan warisan kata, tapi buta terhadap kenyataan: bahwa kata kini bisa dibeli dengan algoritma,
bisa dijual dengan endorsement,
bisa dihapus dalam sekali klik.
Penyair itu, masih berkhotbah di ruang sunyi, dikelilingi buku-buku yang menatapnya dengan iba.
Ia bicara tentang moral, tapi tak lagi mendengar jeritan buruh, bicara tentang cinta, tapi tak tahu harga beras hari ini.
Ia bangga pada dirinya sendiri,
dan lupa bahwa kebanggaan tanpa pengabdian adalah kesombongan yang dibungkus puisi. Dan kami, anak jaman layar dan algoritma,
tak menolak masa lalunya, kami hanya ingin mengatakan: turunlah ke jalan, PAK PENYAIR!
Puisi bukan di podium, tapi di pasar yang riuh, di gang yang becek, di tangan anak kecil yang menulis di tembok sekolah rusak..Di sanalah puisi bernafas, di antara asap gorengan dan debu motor, di antara tawa, caci, dan doa sederhana.
Bukan di peti emas yang dikunci dengan nostalgia, tapi di dada rakyat yang terus berjuang tanpa sajak penghormatan.
Jadi, wahai penyair yang masih terpukau dengan bayangannya sendiri, bukalah peti emasmu, biarkan puisimu keluar dan kotor,
biarkan ia menyeberang jalan, tersesat di pasar, ditempel di dinding rumah kontrakan, disalin ulang oleh tangan-tangan yang tak pernah kau kenal. Karena puisi yang hidup bukan yang indah, tapi yang berguna, yang menegur, menghibur, menyadarkan, dan menyala di tengah kebisingan jaman. Karya besar bukan yang disimpan di rak kehormatan, melainkan yang tumbuh di hati rakyat kecil.
Dan jika engkau
masih ingin disebut
penyair bangsa, jadilah
cermin memantulkan
wajah rakyat, bukan
sekadar bayangan
dirimu sendiri,
dan generasi
di masa kini
menyebutmu …
PENYAIR
TERKENAL
TAPI KEPO
…
SALAM SASTRA SANTAI
Dari Desa Singasari
Selasa, 11 Nov 2025
04.50









