Ada pagi yang berlari terlalu cepat di tepian kota itu. Matahari bahkan belum sempat menyusun napas, tetapi seorang Sultan yang dulu hanya seorang anak kampung miskin dengan seragam sekolah sobek di lutut—telah mengaum di jalan raya dengan mobil mewahnya yang harganya bisa membangun dua masjid sederhana, dua panti asuhan, plus dua warung nasi atau warung bakso.
SULTAN ITU, yang namanya sering muncul di daftar donatur acara amal, tapi jarang nongol di daftar pembayar pajak tepat waktu. Diharap maklum sajalah, menjadi dermawan jauh lebih gampang daripada menjadi warga negara yang disiplin. Satu amplop ke yayasan saja bisa menghapus 10 foto buruk di media. Begitulah negeri ini: pahala bisa dicicil, citra bisa disubsidi, pokoknya semua bisa dimudahkan.
Pagi itu, sang Sultan memacu mobilnya bukan karena terburu-buru, tapi karena merasa hak istimewa itu sudah termasuk dalam paket “kesuksesan”. Di negeri ini, semakin kaya, semakin kecil rasa bersalahnya ketika melanggar aturan. Lampu merah dianggap sekadar rekomendasi. Marka jalan dianggap lukisan abstrak. Kecepatan dianggap kompetisi harga diri tingkat tinggi. Dan ketika mobilnya melesat, GABRUK! Ada sesuatu terpental. Bukan kucing atau kambing. Bukan kayu yang melintang atau kardus, melainkan seorang PENGAMEN BADUT, dengan kepala besar dari busa, tubuh kurus, langkah goyah, dan semangat hidup setipis sandal jepitnya.
Pengamen badut itu, TERPELANTING seperti daun kering dilempar angin. Pingsan seketika. Kepala badutnya terguling ke selokan, memperlihatkan wajah keriput yang terbungkus lumpur, sisa hujan semalam. Entah kenapa, justru terlihat sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari: lelah, kalah, tapi tetap berusaha lugu dan lucu, tapi tak lucu-lucu.
WARGA BERDUYUN DATANG TAK PERLU UNDANGAN. Mereka berkerumun seperti semut menemukan gula tumpah. Ada yang rekam video. Ada yang menyiarkan langsung. Ada pula yang memang masih punya hati nurani, meski hanya 10%. Dan tentu saja selalu ada satu dua orang yang emosinya lebih besar dari otaknya, letaknya di dengkul, “BAKAR SAJA MOBILNYA!” teriak seseorang dengan semangat revolusi yang tidak pernah dia gunakan untuk membersihkan got atau sampah di depan rumahnya sendiri.
DALAM HITUNGAN MENIT, kerumunan berubah menjadi massa, terproteksi bakal timbul kerusuhan, kebrutalan, hukum rimba di jaman merdeka, menjadi menu istimewa, headline berita. Untungnya, dari kejauhan melangkah sosok yang tak bergelar apa pun, tetapi disegani masyarakat: Bapak Kepala Kampung Lugu, Lucu dan Jujur. Tubuhnya tidak besar, tapi wibawanya tetap ada, mengalahkan baliho ‘caleg.’ Ia melangkah setengah tergesa, ke tengah massa, mengangkat tangan, hanya berseru satu kata:
“JANGAN!”
Ajaib, bukan karena sakti kebal peluru atau silet pun tak mampu menggores kulitnya. Seolah negeri ini, hanya butuh satu kata keras dari orang yang benar-benar peduli.
Warga langsung diam. Menunduk. Patuh. Seperti patung—patung yang akhirnya teringat bahwa mereka masih manusia, bukan kumpulan binatang buas.
SULTAN BERDIRI di samping mobilnya, wajahnya pucat, sadar bahwa kekayaannya tak berarti apa pun ketika berhadapan dengan amarah besar rakyat. Pengamen badut itu, dengan tubuh ringkihnya, segera dilarikan ke rumah sakit, memakai mobil Sang Sultan—karena mobil ambulans kampung sedang dipakai mengantar panitia lomba masak-masak antar kampung.
RAHASIA TERBUKA DI RUMAH SAKIT. Ketika perawat membuka dompet lusuh sang pengamen badut untuk mencatat identitas, Sultan terperanjat.
Foto itu.
Nama itu.
Tanda tangan itu.
“Itu… itu …ya itu guru saya,” gumamnya, wajahnya seperti tersambar petir. Pengamen badut itu bukan orang sembarangan. Ia adalah “Pak Guru” dari masa kecil Sang Sultan, sosok yang dulu mengajarinya membaca huruf, mengeja kata, menghitung angka, dan menghafal Pancasila, yang kini ia lupakan ketika sedang bergairah menandatangani kontrak mega proyek.
Pak Guru itu dulu, berdiri di depan kelas yang dindingnya bolong-bolong, mengajar dengan kapur yang tinggal setengah, gaji yang telat tiga bulan, dan mimpi yang ia sisipi pada setiap muridnya: “Kalian harus lebih tinggi dari saya.”
Dan benar. Muridnya kini jadi Sultan. Sementara dia … jadi ‘pengamen badut.’
Guru bisa melahirkan jenderal.
Guru bisa mencetak konglomerat.
Guru bisa membentuk presiden, ulama, seniman, ilmuwan, pengacara, pejabat, bahkan termasuk pencuri berdasi.
Tapi guru sendiri?
Tidak pernah ada yang peduli ke mana mereka pulang. Apakah dapurnya berasap atau tidak?
Apakah rumahnya bocor atau tidak?
Apakah anaknya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi? Mereka mengajar kita agar sukses, lalu kita meninggalkan mereka agar tetap miskin.
Begitulah negeri ini:
profesi paling mulia adalah profesi paling merana. Karena kalau guru ingin kaya, kecuali KORUPSI, seperti kata pepatah pahit: Guru jujur dihormati, tapi jarang dibantu. Guru nakal dimaki, tapi entah kenapa lebih cepat naik pangkat?
SULTAN TERDIAM, kalah oleh masa lalu yang ia lupakan. Di sudut ruang IGD, melihat gurunya terbaring pingsan, air matanya menetes. Bukan karena bersalah saja, tapi karena malu.
Malu pada dirinya.
Malu pada bangsanya.
Malu pada pepatah yang sudah jadi sumpah serapah: “Guru bisa melahirkan Jenderal atau Konglomerat.Tapi guru mana mungkin bisa kaya… kecuali korupsi!”
Kalimat itu menghantam sang Sultan lebih keras daripada kecelakaan itu sendiri.
Ketika BAPAK GURU sadar, wajahnya tidak marah, tetap tenang, tidak menuntut. Ia hanya tersenyum kecil, seperti dulu ketika memberi nilai merah tapi tetap mendoakan muridnya.
“Kamu sudah berhasil, Nak…” katanya pelan.
Sultan hampir sujud. Dunia nyaris pecah oleh rasa bersalah yang dalam.
TAPI CERITA INI BELUM SELESAI!
Kalau ceritanya selesai di sini, bukan pamflet kebangsaan. Itu baru drama televisi jam 7 malam. Yang membuat cerita ini penting adalah apa yang terjadi setelahnya?
Sultan membeli sebidang tanah 100 meter. Tidak besar, tapi cukup untuk pondok, dibangunkan rumah sederhana dan layak, dilengkapi kamar tidur, dapur, ruang tamu. Ia menyerahkan kunci itu kepada Bapak Guru tercinta. Bukan sebagai pembayaran hutang,
Bukan menebus kesalahan fatal
Bukan sebagai sedekah. Tapi sebagai pengingat bahwa bangsa ini masih punya.harapan.
PAMFLET KEBANGSAAN TAK BOLEH SEKADAR MENJAMAH HATI. IA HARUS MENYENTUH LOGIKA.
Mari kita tertawakan sekaligus kita tampar wajah kita sendiri:
- Kenapa guru harus jadi pengamen badut dulu baru dibantu? Mengapa negara baru bergerak kalau sudah viral?
- Kenapa rakyat lebih cepat marah daripada berpikir? Teriak “bakar!” itu mudah. Membersihkan lingkungan, bayar pajak, membuang sampah pada tempatnya—itu sulit.
- Kenapa pejabat bangga meresmikan sekolah baru, tapi lupa membenahi kesejahteraan guru lama?
- Kenapa murid yang sukses sering lupa siapa yang membuat mereka bisa membaca tanda tangan kontrak?
- Kenapa negara ini gemar membuat hari Hari Guru, tapi lupa membuat hidup guru menjadi lebih manusiawi?
MOGA-MOGA PROGRAM TERWUJUD DALAM KESEMESTAAN
- Gaji dan perlindungan guru harus diperlakukan seperti profesi vital negara.
Kalau gaji anggota dewan bisa naik tanpa diskusi panjang, gaji guru harus lebih mudah lagi. - Setiap murid sukses wajib punya “Tanggung Jawab Sosial Pendidikan.”
Semacam CSR, tapi untuk guru.
Tidak wajib uang—bisa beasiswa, perbaikan fasilitas, atau dukungan moral. - Budaya menghormati guru harus kembali. Bukan sekadar slogan di upacara bendera.
- Stop mental “baru membantu ketika viral.” Kebaikan bukan konten.
Kepedulian bukan
algoritma. - Para Sultan baru harus belajar.bahwa kekayaan sejati.bukan jumlah aset, tapi jumlah manusia yang hidupnya membaik karena mereka.
CATATAN UNTUK SEMESTA RAYA.
Di negeri yang sering lupa pada akarnya ini, kisah Sultan dan Pengamen Badut adalah cermin besar. Siapa pun bisa menjadi kaya.
Siapa pun bisa menjadi berkuasa. Tapi tidak semua orang ingat pada orang yang membentuk mereka.
Sultan itu beruntung, diberi kesempatan untuk menebus lupa sebelum terlambat.
Kita?
Semoga diberi kesempatan yang sama. Dan semoga negeri ini suatu hari nanti, ‘TAK PERLU MENUNGGU GURU JADI PENGAMEN BADUT DULU, BARU DIANGGAP BERHARGA.’
Dari Desa Singasari
Minggu, 23 Nov 2025
08.55









