Di negeri ini, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, musik dangdut masih jadi raja, bermahkota di panggung tenda hajatan, di jalanan kampung yang berdebu, di gedung-gedung pejabat yang pura-pura suci, di konser rakyat yang penuh asap sate, di layar kaca yang tiap malam menayangkan goyang, goyang, goyang tanpa pernah lelah.
Dangdut bukan cuma musik, dia agama mayoritas kedua setelah agama resmi negara, disembah lewat dentum bass, diarak lewat tubuh biduanita, ditumpangi politisi saat kampanye, dijadikan jimat pejabat agar tetap dekat rakyat. Seperti kata para tetua kampung, “Kalau ndak bisa nyanyi dangdut, jangan berharap dipilih!”
Dan di tengah gegap gempita itu, hadirlah seorang pencipta lagu, tukang meramu kata demi kata yang lebih manjur dari khotbah panjang, lebih membekas dari nasihat kiai, lebih melekat dari janji manis caleg.
Lagu-lagunya meledak, meletup, menggema dari masa ke masa, tak pernah mati, tak pernah layu, seperti rumput liar yang tumbuh meski disiram air got sekalipun. Setiap baitnya merakyat, setiap nadanya hafal di luar kepala, dinyanyikan dari bocah sampai kakek renta, bahkan bayi pun ikut bergoyang sebelum bisa mengucap “Ayah”
atau “Ibu”.
Tapi, di antara gegap gempita itu muncul satu pertanyaan sengak, pedas seperti cabe rawit jatuh ke mata:
“Jika lagu-lagu itu dibawakan oleh biduanita yang menjual lekuk tubuhnya, yang goyangannya maut sampai bikin para lelaki lupa jalan pulang, apakah sang pencipta lagu ini titipan Tuhan atau titipan setan?” Pertanyaan yang seperti lemparan sandal. Tak sopan, tapi kena sasaran.
Mari kita buka satu per satu, dengan gaya pamflet, tanpa basa-basi, tanpa diplomasi, karena diplomasi hanya cocok untuk para diplomat, bukan untuk rakyat yang sudah lama kehilangan selera sopan santun pada absurditas negara ini.
DANGDUT TAK PERNAH MATI
Dangdut adalah denyut nadi, denyut dompet, denyut politik. Ketika lagu rock bicara pemberontakan,.ketika jazz bicara intelektualitas, ketika pop bicara cinta, dangdut bicara perut, dompet, dan hidup yang sesusah itu. Maka wajar bila dia tetap hidup walau jaman menggilas segala hal yang tak mampu beradaptasi.
Dulu dangdut hanyalah musik orkes pinggir jalan, penghibur malam bagi mereka yang gagal menemukan cahaya siang. Kini dangdut menjadi industri, dijual berjuta-juta, diputar berjuta-juta kali, menjadi mesin uang bagi mereka yang memahaminya. Dalam riuh panggung itu, sang pencipta lagu berdiri di belakang, tak terlihat, tapi suaranya diulang oleh ribuan bibir manusia. Dia seperti petani yang menanam benih di sawah kebudayaan: benih itu tumbuh, menjalar, dan akhirnya jadi buah yang dipetik para biduanita dengan pakaian lebih tipis daripada tissue basah di minimarket.
BIDADARI MENJUAL TUBUH
Ini bagian paling pedas. Siapkan susu, atau air mata, atau setidaknya mental baja. Biduanita di negeri ini bukan hanya penyanyi. Dia adalah aktris sosial, simbol kapitalisasi hasrat, penjelmaan dari fantasi publik yang entah sejak kapan menganggap goyangan lebih penting daripada pesan lagu itu sendiri. Ketika ia menggoyang pinggulnya, ketika ia melempar lirikan maut, ketika ia menari seperti badai kecil di panggung sempit, seisi kampung jadi gempar, para lelaki mendadak lupa bahwa mereka datang bersama istri. Tangan gatal ingin menyawer, mata tak sanggup berpaling, pikiran melayang ke entah berantah. Lalu orang bertanya:
“Ini dangdut apa tarian purba pemanggil hujan?”
Jawabannya:
“Ini dangdut era digital, Bang.”
Jaman berubah, kain semakin sedikit, harga make-up semakin mahal, dan goyangan semakin variatif.
Salah siapa?
Salah pasar yang rakus, salah industri yang latah, salah kita semua yang menjadikan tubuh sebagai tontonan lebih dari suara.
Dan di tengah itu semua, sang pencipta lagu, yang duduk tenang menatap nasibnya, hanya bisa berkata: “Aku hanya bikin lagu, bukan bikin goyangan.”
PERTANYAAN SENGAK
TITIPAN TUHAN ATAU TITIPAN SETAN? Sungguh, ini pertanyaan yang lebih kontroversial daripada peraturan pemerintah terakhir. Mari kita jawab dengan kepala dingin, karena jika pakai kepala panas, yang keluar hanya makian.
Apakah pencipta lagu yang lagunya dipakai untuk goyangan erotis adalah titipan Tuhan? Mungkin iya. Karena Tuhan menciptakan seni. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan segala kreativitasnya. Karena Tuhan mungkin tersenyum melihat manusia menemukan kebahagiaan sederhana dalam bait dan nada. Tapi, apakah dia titipan setan? Mungkin juga iya. Karena setan suka menggoda manusia. Karena setan suka menari di sela-sela syahwat manusia. Karena setan tahu bahwa goyangan bisa jadi jalan pintas menuju dosa kecil.yang lama-lama membesar, seperti cicilan yang tidak dibayar. Jadi, siapa dia sebenarnya?
Jawabannya:
Dia bukan titipan siapa-siapa. Dia hanyalah manusia biasa yang menulis lagu lalu lagunya dipakai orang lain dengan gaya yang berbeda. Karena seni adalah demikian: dilahirkan oleh seorang, ditafsirkan oleh seribu.
TENTANG KITA SENDIRI
Sering kali kita menyalahkan pencipta lagu, seolah-olah dialah penyebab dan akar segala masalah. Padahal yang membawa lagu itu dengan pakaian yang mirip serbet dapur ukuran mini, adalah industri. Adalah pasar. Adalah tuntutan bahwa tontonan harus makin gila agar tetap laku. Kita harus bercermin. Bukankah kita yang menonton? Bukankah kita yang menyawer? Bukankah kita yang share videonya? Bukankah kita yang bikin viral? Bukankah kita yang memuja goyangan.lebih dari pesan?.Kalau begitu, kenapa kita menyalahkan pencipta lagu? Mengapa bukan menyalahkan selera publik? Selera kita sendiri?
Inilah satir paling getir: kita marah melihat kelakuan yang kita sendiri lahap tiap hari.
TAK MENGHAKIMI
Pamflet ini bukan khutbah, bukan ceramah, bukan sidang pengadilan. ia adalah kritik, dan kritik tanpa solusi hanyalah teriakan kosong di lorong gelap. Maka mari bicara solusi:
Dangdut itu suara rakyat. Bukan semata pamer tubuh. Industri harus berani menonjolkan kualitas musik: lirik yang kuat, arransemen yang menarik, bukan sekadar goyang.
Bukan untuk sensor membabi buta, tetapi untuk kurasi berkualitas, agar yang naik bukan hanya karena viral, tapi juga karena bernilai.
Pendidikan panggung, pelatihan vokal, penguatan karakter. Tubuh boleh menggoda, tapi suara harus menggugah.
PENCIPTA LAGU BUKAN PATUNG
Berikan mereka panggung, bukan hanya para penyanyi. Ajak mereka bicara, libatkan dalam regulasi industri, bukan hanya sebagai produsen bayangan yang tak pernah terlihat.
PENONTON JURI MURNI
Jika penonton mulai memilih karya berkualitas,.industri akan ikut berputar. Karena pasar adalah raja yang kejam, tapi raja itu bisa diarahkan.jika rakyatnya cerdas.
UNTUK KITA SEMUA
Di negeri ini, dangdut masih raja, dan seorang pencipta lagu tak punya kuasa penuh atas bagaimana karyanya dipakai. Ia bisa saja dianggap titipan Tuhan karena membawa kebahagiaan, atau titipan setan.karena mengiringi goyangan maut..Tapi sebenarnya, kitalah yang menentukan akan jadi apa musik itu.
Jika kita memuliakan seni, maka seni akan naik derajat. Jika kita memuliakan goyangan, maka goyanganlah yang akan menang.
Dan jika suatu hari nanti ada yang bertanya lagi:
“Apakah pencipta lagu dangdut TITIPAN TUHAN ATAWA TITIPAN SETAN?”
Jawab saja begini:
“Dia titipan rakyat.
Rakyat yang kadang bijak,
kadang lucu,
kadang aneh,
kadang nafsu berlebih,
tapi selalu membutuhkan hiburan agar tetap waras hidup di negeri yang penuh ironi ini.” Sebab pada akhirnya, dangdut bukan hanya musik..Ia adalah cermin. Dan cermin itu memantulkan wajah kita sendiri.
SALAM DHANGDUT REPUBLIK INDONESIA!
Dari Timur Bekasi
Kamis, 20 Nov 2025
09.18









