DI BHUMI PUSAKA MERAH PUTIH ini, tempat sejarah sering diperlakukan seperti sandal jepit: kadang dipakai, kadang hilang, kadang disalahkan, kadang dipuji setinggi langit lalu dilupakan lagi ketika trending topik beralih ke artis gosip terbaru, aku bangkit berdiri sambil menepuk dada, mengucap satu tekad yang tidak muluk-muluk, tidak sok suci, tidak ingin jadi orang sok hebat:
OH, DUNIA FANA, AKU INGIN SEMANGAT JIWAKU, SEPERTI EYANG BUYUT MAHAPATIH GADJAH MADA!
Bukan ingin jadi raja. Bukan ingin jadi penguasa. Bukan ingin duduk di singgasana emas yang kalau dipakai terlalu lama bikin bokong kapalan.
Tidak.
Aku hanya ingin menjadi seperti leluhur besar itu: setia pada GRADE – B, tapi memimpin dunia.
GRADE – A ITU, SURGA
TAPI BANYAK PERANGKAPNYA
Di zaman kerajaan dulu, Grade-A adalah tahta, gelar raja. Satu singgasana yang diperebutkan lebih ganas daripada promo diskon di pusat perbelanjaan. Tapi lihatlah sejarah: untuk masuk Grade-A, banyak darah tertumpah, banyak tikaman beredar, banyak saudara saling intip punggung masing-masing, takut ditusuk keris saat lagi makan pepes ikan.
Ken Arok tahu itu.
Ia memilih jalur singkat, shortcut paling mematikan, menusuk Tunggul Ametung,
merebut istri orang,
merebut kekuasaan,
merebut masa depan.
Kita boleh mengagumi kejeniusannya, boleh mengejek kenakalannya, boleh memaki kenekatannya, tapi sejarah tidak pernah bohong: Ia membayar mahal. Sangat mahal.
Aku tidak mau begitu. Aku tidak mau jadi pahlawan palsu yang konon hebat tapi jejaknya berlumuran darah. Aku juga tidak mau jadi raja yang kerjanya cuma tanda tangan dokumen sambil tersenyum untuk kamera lalu lupa apa yang ditandatanganinya. Aku tidak mau jadi pemimpin Grade-A yang hidupnya seperti sinetron 500 episode:.banyak drama, banyak intrik, banyak adegan memutar fakta, banyak sutradara bayangan. Grade-A itu manis, tapi manisnya seperti permen kadaluarsa: di awal enak, setelah itu bikin sakit perut.
EYANG BUYUTKU: MAHAPATIH GADJAH MADA YANG SELALU GRADE – B TAPI MENGGENGGAM GRADE – SEMESTA
Sejarah mencatat, bahwa Eyang Buyut Mahapatih Gadjah Mada
tidak pernah naik Grade-A, meski empat raja telah berganti: Raden Wijaya, Jayanegara, Tribhuwana,
dan Hayam Wuruk.
Bayangkan!
Empat kali kesempatan! Empat kali pergantian kekuasaan! Empat kali peluang untuk naik pangkat! Tapi apa yang dilakukan Eyang Buyut?
Ia tetap teguh: tetap Grade-B.
Tetap Mahapatih.
Tetap panglima.
Tetap penggerak negara.
Tetap penyangga Nusantara.
Tidak tergoda tahta.
Tidak tergoda mahkota.
Tidak tergoda kursi empuk
yang kalau diduduki terlalu lama bikin pelakunya malas bangun.dan lupa bahwa dunia ini butuh kerja nyata.
Ia tetap konsisten.
Ia tetap konsekuen.
Ia tetap setia.
Ia tahu bahwa kekuasaan besar bukan selalu berada di singgasana, tapi di meja strategi, di ruang gelap rapat perang, di detik ketika keputusan diambil bukan demi gengsi tetapi demi keselamatan bangsa.
Itulah Grade-B sejati.
Itulah panglima sejati.
Itulah negarawan sejati.
Dan akupun berkata kepada diri sendiri: Jika hidup memberiku pilihan, biarlah aku menjadi manusia GRADE – B, bila perlu GRADE – C, yang berdampak seperti Grade-Semesta.
ZAMAN DIGITALISASI,
BANYAK ORANG MAU JADI GRADE – A TAPI TIDAK TAHU CARA MENJAGA DIRI.
Coba lihat negeri ini sekarang:
semua ingin jadi raja.
Semua ingin jadi tokoh utama.
Semua ingin jadi pusat perhatian.
Semua ingin jadi pemilik panggung. Semua haus spotlight. Bahkan yang kemampuan pas-pasan juga ingin jadi presiden. Yang tidak pernah membaca buku sejarah tiba-tiba ingin jadi ahli sejarah. Yang tidak pernah menulis puisi tiba-tiba ingin jadi penyair besar. Yang tidak pernah latihan vokal tiba-tiba ingin jadi diva panggung.
Di negeri ini, Grade-A menjadi candu. Ketagihan jabatan lebih kuat dari ketagihan kopi tubruk. Haus pengakuan lebih ganas dari haus air di gurun.
Semua ingin cepat.
Semua ingin instan.
Semua ingin viral.
Semua ingin dikenal.
Semua ingin dipilih.
Semua ingin difoto.
Semua ingin dipuji. Tapi, siapa yang mau kerja?
Siapa yang mau memikul beban?
Siapa yang mau jadi fondasi?
Siapa yang mau menjaga?
Siapa yang mau memadamkan api ketika negara ini terbakar konflik?
Tak banyak.
Karena semua ingin berada di atas. Tidak ada yang mau jadi penyangga. Tidak ada yang mau menjadi …
EYANG BUYUT MAHAPATIH GADJAH MADA di zaman digitalisasi, globalisasi!
DAN AKU? JIKA BOLEH MEMILIH, AKU BANGGA TINGGAL DI RUANG GRADE – C SAJA, ASALKAN KARYAKU HIDUP DI GRADE – SEMESTA!
Aku tidak ingin jadi Grade-A.
Aku juga tidak ingin jadi Grade-B.
Aku ingin berada di Grade-C saja, tempat para seniman dan budayawan yang bekerja dalam sunyi, dibayar dengan doa, diterjang ombak kritik, dipuji sekilas, dilupakan cepat, tapi karyanya tetap mengarungi samudera kehidupan manusia.
GRADE – C itu, tempat orang merdeka, saudara-saudara!
Tidak dikejar kamera.
Tidak dipaksa senyum.
Tidak harus jaga imej.
Tidak harus pura-pura bijaksana padahal di belakang bingung juga seperti yang lain.
Di Grade-C, aku bebas menulis,
bebas berkarya,
bebas mencipta,
bebas mengkritik,
bebas memanggil nurani bangsa dengan suara yang tidak dibungkam protokol. Grade-C itu tempat aku bisa “Tidak ada di mana-mana.tetapi ada di mana-mana.”
Aku bisa hilang dari panggung,
tapi hadir di hati manusia.
Aku bisa tak dikenal,
tapi karyaku dikenal.
Aku bisa diam, tapi tulisanku bersuara.
Aku bisa tak tampak, tapi ideku menembus batas. Grade-C bukan untuk mereka yang haus tepuk tangan, tapi untuk mereka yang ingin menyalakan lilin kecil di tengah gelap dunia.
KRITISASI TAK BASA BASI:
NEGERI YANG TERLALU BANYAK
PEMIMPIN TAPI MINIM PANGLIMA
Di negeri ini, orang rebutan jadi pemimpin.tetapi tidak ada yang mau jadi panglima.
Tidak ada yang mau digebuk kritik.
Tidak ada yang mau dipersalahkan.
Tidak ada yang mau dimaki.
Tidak ada yang mau bekerja dalam gelap.
Tidak ada yang mau menjadi penopang. Semua ingin difoto,.tak ada yang ingin memetakan strategi.
Semua ingin disorot, tak ada yang ingin menggendong beban. Semua ingin dipuji, tak ada yang ingin dimarahi. Semua ingin jadi bintang, tak ada yang ingin jadi galaksi.yang menopang perjalanan bintang itu.
Bangsa ini butuh lebih banyak EYANG BUYUT MAHAPATIH GADJAH MADA, lebih banyak Grade-B yang jujur, lebih banyak panglima yang setia,.lebih banyak pekerja yang diam tapi menggetarkan.
Tidak perlu semua jadi raja.
Tidak perlu semua jadi pemimpin. Tidak perlu semua tampil. Yang bangsa ini butuhkan adalah SETIA PADA PERAN, apa pun derajatnya.
SENGAK SEDIKIT, BOLEH!
GRADE-B ITU BERBAHAYA BAGI ORANG AMBISIUS!
Ada dua tipe manusia di negeri ini:
- Yang ingin memimpin tetapi tidak bisa bekerja.
- Yang bisa bekerja tetapi tidak ingin memimpin.
Yang tipe pertama jumlahnya banyak seperti lalat. Tipe kedua jumlahnya langka seperti komodo.
Orang tipe pertama ingin Grade-A, karena menurut mereka Grade-A itu
tempat gaya-gayaan,
tempat tanda tangan,
tempat difoto,
tempat disanjung.
Padahal kenyataannya:
Grade-A itu tempat paling panas, tempat paling berbahaya, tempat di mana tidur pun diawasi.
Sementara tipe kedua, yang bisa kerja tapi tak mau pamer, itulah yang seharusnya mengisi fondasi bangsa ini.
EYANG BUYUT MAHAPATIH GADJAH MADA bukan tipe pertama.
Dia tipe kedua. Dan aku ingin mengikuti jejak itu meski hanya pada skala kecil:
skala seniman,
skala budayawan,
skala penulis pamflet yang kadang pedas
kadang lucu,
kadang sengak,
kadang menampar,
tapi niatnya tetap:
MEMBANGUN NURANI!
SEKADAR MAKI, PERLU SOLUSI
Sebagai pamflet kebangsaan, tulisan panjang ini bukan hanya satir. Ia harus menawarkan jalan pulang. Maka inilah solusinya:
HARGAI SEMUA PERAN
Tidak semua harus jadi raja.
Bangsa yang sehat punya banyak Grade-B yang kokoh dan Grade-C yang kreatif.
TINGKATKAN MUTU KARAKTER
Agar generasi baru tidak hanya ingin jadi viral, tetapi ingin jadi bermanfaat.
BUDI DAYA KARYA JIWA
Seniman tidak butuh pujian palsu, tetapi ruang hidup.
KEKUASAAN BUKAN MENTANG-MENTANG
Karena yang paling penting
bukan posisi, tetapi kontribusi.
JADI PANGLIMA SESUAI PANGGILAN JIWA
Apa pun pekerjaannya, kerjakan dengan kehormatan.
BIARLAH AKU ADA KRETARIA GRADE – C,
TETAPI TIDAK DALAM MASALAH DI PENGADILAN TUHAN
Di dunia ini, aku tidak ingin jadi raja, tidak ingin jadi Ken Arok, tidak ingin naik Grade-A dengan menyingkirkan siapa pun. Aku ingin tetap di Grade-C saja,
tempat para pengembara imajinasi,.tempat para penjaga nurani, tempat para pembisik kebenaran, tempat para perajut simpul bangsa yang tidak pernah disebut tapi selalu dibutuhkan. Karena dari Grade-C inilah …
aku bisa menulis,
mengukir, mengedarkan pikiran,
menyalakan lentera,
menghadirkan suara yang dapat mengarungi samudera kehidupan manusia. Aku mungkin tidak ada di mana-mana,.tapi karyaku bisa ada di mana-mana. Aku mungkin tidak duduk di singgasana, tapi pikiranku bisa menembus ruang tahta. Aku mungkin tidak dianggap, tapi jejakku bisa menetap. Dan jika sejarah kelak bertanya:
“Siapakah engkau?”
Maka aku akan menjawab:
“AKU BUKAN RAJA. Aku bukan panglima besar. Aku bukan pewaris Grade-A. AKU HANYA SENIMAN GRADE – C yang memilih untuk setia berkarya, seperti Gajah Mada memilih Grade – B untuk menjaga Nusantara.”
Sebab pada akhirnya, kebesaran tidak ditentukan oleh peringkat, tetapi oleh INTERGRITAS, KARYA YANG BERKUALITAS!
SALAM KEBANGSAAN!
Dari Timur Bekasi,
Senin, 10 Nov 2025
10.17









