Prolog
Suro Buldog dan anak Bengong jadi gog magog Kotaraja dipindah dipaksa-paksa biar sengsara juga, rakyat Bumi Tirto semakin menggila kehidupannya. Judi dimana-mana, korupsi jadi budaya. Kemana keamanan? Mereka jadi penjilat, pelindung penguasa dan pengusaha.
(Terjemahan)
Suro Buldog lan bocah bodho dadi gog magog Kotaraja kepeksa ngalih dadi sangsara nga wong Bumi Tirto senyasa edan uripe, gambling nang endi wae korupsi wis dadi budaya. Keamanan ngendi? Pada dadi siji cophants, lan pengayom saha penguasa lan pengusaha. Tiba-tiba ada Kismin dan Kasmanah teriak-teriak.
ismin :”Beri kami bansol dan beletek !”
(Ada suara) :”Bansol dan beletek sudah gak ada!”
Kismin :”Kenapa gak ada?”
(Ada suara) :”Rahasia, tidak perlu tahu!”
Kismin :”Dulu ada!”
(Ada suara) :”Dulu ya, sekarang tidak!”
Kasmanah :”Bagaimana kami?”
(Ada suara) :”Pulanglah, sekarang gak ada bansol dan beletek!”
(Pergi)
(Lampu gelap)
Muncul pengamen dengan kostum edan-edanan.
(Menyanyi)
Pengamen :”Akal bulus di wedus, main gedebrus hingga mulus penuh pulus. Busyet main akal-akalan curang jadi pembenaran oleh Si Dilat Jiljalahat.”
Pengamen II :”Sekarang ini reformasi tidak bunyi. Reformasi sudah ganti jadi repotnasi.”
Pengamen :”Kita ngamen karena itu! Pengangguran semakin ranum. Seperti anggur tiap hari panen sengsara.”
Bersama :”Panen sengsara!”
Tiba-tiba banyak kapal terbang kertas berterbangan sehingga mereka kaget.
Pengamen :”Apa ini?”
Pengamen II :”Berterbangan begini!”
Muncul Si Celembeng seorang pendongeng
Celembeng :”Kebinet sekontainer. MenHam butuh 20 triliun. Apa gak lieur, teler dan beser!”
Muncul pedagang otak-otak bernama Kato-kato.
Kato-kato :”Otak-otak, siapa mau beli otak-otak?”
Celembeng :”Wah, laper juga. Wei, sini. Otak-otak ya?”
Kato-kato :”Beli otak-otak? Enak, cobalah!”
Celembeng :”(Memakan pura-pura seperti pantomim) Enak, enak tenan. Buatan siapa?”
Kato-kato :”Mak Bowo!”
Celembeng :”Mak Bowo? Perasaan nama itu viral!”
Kato-kato :”Oh, itu pak Bowo! Ini Mak Bowo. Mak Bowo pembuat otak-otak enak. Kalau pak Bowo bilang ndasmu!”
(Semua ketawa)
Celembeng :”Kita sengsara masih bisa ketawa! Punya lagu baru!”
Pengamen :”Ada, Burak koruptor!”
Celembeng :”Burak koruptor! Kayaknya seru tuh! Mainkan ya!”
Pengamen II :”Wani piro? Sekarang jamannya gak ada makan siang gratis. Pasti pakai acis.”
Celembeng :”Iya, aku bayar kontan! (Memberi uang) Nih, cukup?”
Pengamen II :”Cukup buat penangkal lapar!”
(Memainkan musik)
Pengamen :”Rampok, rampok, rampok, rampok gaya orang jaman sekarang. Maling sana maling sini kalau ada kesempatan. (Si Kato-kato menari) (Si Celembeng memfilmkan) Burak koruptor! Kami memilih burak koruptor. Serbu koruptor, manusia lupa dosa. Serbu koruptor, manusia sengsarakan rakyat.”
Celembeng :”Tapi ngomong-ngomong Kepek sudah layu. Bahkan main pungli segala pada keluarga koruptor.”
Pengamen II :”Burak koruptor, dor, dor, dor! (Seperti menembak) Ini tembak bohongan, tembak benerannya nanti tunggu tanggal mainnya.”
Celembeng :”Kapan! Sudah gak sabar nih!”
Pengamen :”Tunggu masih banyak Dilat Jiljalahat!”
Celembeng :”Siapa mereka?”
Kato-kato :”Cari untung! Semua maunya jadi Semar. Tapi jadinya Cakil dan Lelepah!”
Celembeng :”Cakil dan Lelepah?”
Kato-kato :”Cakil karena berkecak tangannya, kalau bukan membunuh tapi terbunuh. Lelepah lidah-lidah pahit, bisa ngeritik ke yang benar, membela kebenaran dengan pembenaran.”
Celembeng :”Bujur, eh buzer!”
Pengamen :”Jadi ya bunglon koruptor. Lagu pilihan kita!”
Semua :”Jadi!”
Lampu mati.
II. Pengamen berkaos hitam tulisan merah kopok
(Menyanyi )
Pengamen :”Kopok kondang, kopok kondang. Yang kopok ketiban kendang. Kopok datang, kopok datang. Yang kopok siap menendang. (Reff) Pala asu, pala timah, pala minyak, kades bedes. Semuanya!”
Bersama :”Burak koruptor! Dor, dor, dor!”
(Pergi dan muncul pembawa acara TV)
Pembawa acara :”Telah terjadi beberapa kejadian aneh yang mematikan para koruptor. Apa itu? (Adegan ini bisa diperagakan, bisa juga lewat film dilayar) Baru-baru para koruptor yang telah mengenakan rompi oranye sebagai rompi yang mahal, karena uang yang dicuri oleh mereka jumbo triliunan. Tapi semuanya mati. Tak ada yang hidup dengan peluru di jidatnya atau dekat pelipis. Polisi takjub, siapa yang berani melakukannya? Sepertinya yang melakukannya misterius. Hanya meninggalkan gambar seperti ini. (Muncul dilayar atau diperagakan tikus yang dicoret dengan tulisan “Dor wong”) Siapa Dor wong? Misterius saudara-saudara!”
(Pergi/lampu mati)
III. Tangisan para penjilat dan keluarga koruptor
Penjilat :”Kenapa orang yang baik itu mati? Gila yang menembaknya!” (Menangis meraung-raung)
Penjilat II:”Siapa orangnya yang menamakan dirinya Dor wong! Dia sudah gila!”
(Di kelompok keluarga)
Anak :”Aku masih menyimpan suratnya! Papa bukan koruptor…!” (Menangis meraung-raung)
Istri :”Aku mau jangan dibunuh! Dia suamiku tersayang!” (Meraung) Akhirnya semua menangis, meraung, naik turun seperti irama gelombang laut.
Lampu mati
IV. Kebingungan di Kepek dan polisi/kejaksaan agung.
Kepek :”Sudah susah susah kita menangkapnya eh malahan pada mati ditembak.”
Kepek II :”Mereka perlu balikin harganya!”
(Di kelompok)
Jagung :”Uang-uang yang kita sita bagaimana nasibnya?”
Jagung II :”Menunggu perintah tentu saja!”
Jagung III :”Koruptor memang takut sama Dor wong!”
(Semua seperti bingung dan linglung)
Lampu mati
V. Terdengar seperti dzikir naik turun
Dor wong!
Dor wong!
Dor wong!
1000 X Dor wong!
1000 X Dor wong!
(Muncul pembawa acara TV)
Pembawa acara :”Dimana-mana masyarakat mengelu-elukan Dor wong! Membawa spanduk “Bongkar koruptor”
Apalagi insan-insan kampus yang lurus. Karena pernah ada kasus insan kampus yang bengkok! Yang bengkok? Benar! Ada! Disertasi dokter yang dipaksa dibatalkan demi meluruskan di jalan yang lurus. Ada juga akal-akalan ijazah yang diresmikan seakan-akan benar. Ah, lagi-lagi uang bermain. Pertanyaannya! Ada uang hasil terasi, jalan-jalan di Tambun. Ada uang hasil korupsi, jangan-jangan ditimbun oleh siapa hayo!
Lampu mati.
VI. Muncul lagi pengamen
(Menyanyi)
Bongkar bongkar koruptor!
Bongkar bongkar koruptor!
Selamat malam
Dilat Jiljalahat
Selamat tamat
Buzer eh bujur
TAMAT
11 Mei 2025
Untuk pemilik akal sehat









