Sebuah Monolog
Detok detok kow
Inlo ton ketod kaw iw
(BERULANG-ULANG)
MUNCUL DOGOLO BIN LOGODOLO
(KEPADA PENONTON)
Hadirin maaf ya diulang-ulang itu bahasa Ahonok yang lagi trending. Aku dipanggil Dogolo oleh orang-orang Ahonok karena suka ngeritik delapan penjuru mata angin, tapi bagi orang rujuj aku dijuluki pendekar Magnitudo Dogolo (TERTAWA). Orang-orang tidak senang padaku. Wacana kritis yang kubuka di delapan penjuru mata angin, dianggap bohong, aku dianggap bodoh, nyinyir, provokator dan banyak lagi. Dan yang membahagiakan aku sebutan mereka yang singkat, tapi monumental yaitu orgil.
Saudara-saudara di negeri Ahonok punya tradisi memilih pemimpin bukan yang pintar apalagi jenius tapi yang bisa diatur oleh Hegemoni korupsi. Dasar pemerintahannya mobokrasi Apa itu mobokrasi ? Pemerintahan yang terdiri dari maling-maling alias koruptor-koruptor bahkan beberapa koruptor jadi aktor politik kelas kakap. Mereka mendirikan partai seperti jamur di musim hujan. Demi negeri tercinta, padahal demi Hegemoni. (TIBA-TIBA TERDENGAR PELUIT) Wah sepokat datang ! Aku harus menghilang dulu ! (TERDENGAR PELUIT PELUIT) (TERDENGAR SUARA SEPATU SEPATU)
PANGGUNG TERANG KEMBALI
(TAMPAK SI ORGIL DUDUK DIBANTAL LAPUK)
(KEPADA PENONTON)
Ini bukan sembarang bantal. Bantal lapuk ini yang menyelamatkanku dari kejaran alap-alap hegemonia, ini bantal Mikatsum lotoris buatan Ilazagla, muridnya Rajahik, aku memanggilnya Pak Rajahik Aku menjaganya karena ini tengah dicari orang Ahonok. Mobokrasi tak suka ajaran-ajaran dari pak Rajahik yang memang pernah menyebarkan ajaran yang baik dan indah ke seluruh arah delapan arah mata angin tapi sekarang ajaran pak Rajahik dilupakan, ada yang masih jadi semboyan saja. Maknanya tak diresapi. Inayadnah iruwtut, odolutgnis osragn, osrak nugnam osragn gni. Terus terang aku pengagum pak Rajahik.
(TIBA TIBA ADA SUARA TOA):
(Barang siapa yang masih menganut ajaran pak Rajahik akan ditangkap ! Akan ditangkap)
(PADA PENONTON)
Apa aku bilang, mobokrasi tidak suka ajaran pak Rajahik karena mengajarkan akhlak, budi pekerti. Mobokrasi ? Tak ada akhlak, tak ada budi pekerti. Semuanya bertolong-tolongan dalam keburukan. Lihat dilayar (MENAMPILKAN MULTI MEDIA DI BELAKANG)
(BERUPA ADEGAN RAMPOGAN DALAM WAYANG KULIT TETAPI ORANG-ORANGNYA BERKEPALA TIKUS)
Inilah barisan orang Ahonok pelaku mobokrasi. Orang jujur dikubur, orang jilat diikat dengan uang, orang bohong disokong dengan bokong, orang jahat dijadikan sahabat kental. Untunglah aku tidak tergoda bantuan apapun. Belete, bansose, cawe-cawe, batagore, seblake, aku tolak dan harus menghindar karena itu jebakan, lihat saja bagi yang sudah terjebak mereka jadi penjilat. “Jilatan-jilatan. Otak jadi tumpul dan memuji-muji Hegemoni. Membela mati-matian tanpa reserve, tak ada yang salah. De king can do no wrong. Ah, sudahlah. Aku mau tidur dulu. (BAWA BANTAL DI POJOK PANGGUNG)
(SELAMA MIMPI DISAJIKAN BERBAGIA MOBOKRASI. SEPERTI: PESTA DUIT, KONGKLIKONG, PALU PALU YANG TERBAKAR UANG, ROMPI ROMPI ORANYE YANG DIPAKAI MANUSIA TIKUS TAPI BERTABUR CAHAYA EMAS)
(TIBA-TIBA DOGOLO BANGUN) (TERIAK KERAS) Mantiiiik !
(PADA PENONTON)
(Pada penonton) Ya, di Absurdonesia ini tengah dikuasai oleh para Mantik alias manusia tikus. Dasarnya tidak ada lagi demokrasi tapi mobokrasi. Aku ingat kata pak Rajahik bahwa kebudayaan itu kumpulan puncak budaya-budaya daerah, kalau melihat kalau dia masih hidup pasti menangis dengan air matanya yang telah habis. Kalau mau tahu para Mantik ini sudah punya partai bernama partai Mantikor alias manusia tikus koruptor malu? Ya, enggak. Justru bangga dengan segala gayanya. Bahkan gaya mafia sudah jadi ideologi. Mafia tambang, mafia tanah, mafia minyak, mafia haji (pada penonton) dan para cecunguknya berseragam militer.
Ada lagu Mars Mantikor (menyanyi)
Mobokrasi, mobokrasi sampai mati
Serbu yang jujur
Kita ikut Mantikor saja
Dor! Dor! Dor!
(Diam duduk dibantal lapuk)
Aku Dogolo mungkin manusia jujur terakhir. Semua yang jujur telah diserbu dengan senjata mereka. Tahta, harta dan wanita. Dan habislah yang tergoda bergelimang THW. Si Wirog merampai dengan ucapannya. Mari kita bertolong-tolongan dalam keburukan, karena keburukan itu nikmat, asyik. Ditambah Si Kedongdong, rupa lagu tapi didalamnya ruwet. Juga Si Tetelo bicara saja seperti seribu kali mikir.
Balapap belepep kalau meminjam bahasa orang Noluk. Oligarki paling disukai, semua berhimpun dalam partai koalisi Mantikor dan ada juga partai Rotpurok. Rotpurok diketuai oleh Si Gogog Cungungung yang dulunya hanya pedagang makanan di pasar Beser. Lengkaplah sudah mobokrasi di Absurdonesia. Aku dicari dan dihadiahi diburu oleh para preman peliharaan Jatilon Jatilun, orang kembar dari Atah Awol, pasar loak senjata bekas, tapi berkat bantal ini aku masih waras.
Aku ingat ajaran Ilajogla. Yang singkat itu waktu, yang menipu itu dunia, yang dekat itu kematian, yang besar itu hawa nafsu, yang berat itu amanah, yang sulit itu ikhlas, yang mudah itu berbuat dosa, yang susah itu sabar, yang sering terlupa itu syukur, yang membakar amal gibah, yang mendorong ke neraka itu lidah, yang berharga itu iman, yang menentramkan hati itu syahadat, yang ditunggu Allah taubat.
(Terjemahan dalam bahasa Jawa ditembangkan dengan indah)
Sing cundhuk yaiku wektu, kang ngapusi itu dunya, sing paling cedhak yaiku pati, kang gedhe iku nafsu, sing abot iku amarah, sing angel iku ikhlas, gampang dosa, sing angel iku sobar, sing lali karep bersyukur, apa kabag iku gosip, ingkang ngojah dhatang neraka inggih purika ilat, kang aji iku iman, sing nglipan yaiku kanca, ingkang dipur tunggu-tunggu Allah inggih purika tobat.
(PADA TEMBANG INI DI LAYAR BANYAK ADEGAN YANG DIBUAT OLEH TEKNOLOGI AI)
(PADA PENONTON)
Maaf, monolog Magnitudo Dogolo harus ku akhiri, yang kritis akan senang, yang merasakan akan meriang. Selamat merenung.
TAMAT
2 Mei 2025
Kado buat mengingat kebenaran









