SIRR BUKAN TUAN PUN SEBALIKNYA

sir

Romantika kata berbaris mesra; mengungguli makna dari yang sebenarnya ada. Putihkan hitam warnai abu-abu. Sangkalah rindu bermuatan pilu. Niscaya kembali dalam selamat, kalau sangkakala kau tipu daya? Berikan darahmu tak akan sempat. Terkunci nafsu sangat keramat.

Memang cerita bukan rahasia, kala namanya tersimpan di kalbu. Sudahkah jemari memusatkan hitungannya pada lantunan wiridz yang mengisi pengwaktunya?

Kalau fana itu yang dikejar, dan yang abadi kau abaikan: Baiklah! Aku akan melukis wajahmu di wewangian surga kerinduan.

Jendela kamarku tertutup setiap hari: Membiarkan isinya ditempati sunyi. Kalau pintu rumahku terbuka. Akankah semua maaf membuatmu mengunjungiku?

Keringnya tanah. Kemarau melanda. Basahnya bibirmu berbuih kata. Isakan tangis dari dalam gua batinmu, terdengar sumbang dari sepertiga. Bisakah malam aku hujani, bila banjir terus menggenangi, sementara tak pernah surut airnya? Haruskah aku buatkan tanggul agar menjadi telaga?

Rupanya engkau memanggilku dengan sebutan yang asing. Sulit kuungkap maksudnya. Sukar kutelusuri maknanya. Hanya saja itu menggugagah keluhku. Oh, rencana? Semua tak bernilai kalau aku tahu semuanya.

Terima kasih ketidaktahuan! Teramat penting untuk kurasakan. Terbebas dari kendali semua urusan, sehingga malam tetap akan kukecup sampai pagi meneteskan embun kesejukan.

**

Lokasana senja di sawala raya. Berbinar cahaya setiap udara. Berbinarkah dalam gelap, jika semuanya lagi-lagi fana? Tentukan barat agar ketoro. Maklumlah aku anak zaman old! Dimanakah aku temukan girang, yang kusangka itu adalah gembira?

Begitulah dunia. Gundah semakin kuat. Melekat menjadi sahabat. Berkarat, menjadi berkat. Sepi seakan pasti. Terang seperti terlarang. Suka adalah duka. Dan duka menjadi bahagia.

Begitulah dunia yang kuterka; Itulah prasangka yang berkaca adalah pada itu semua: Di mana aku mencarimu? Dimanakah kau kutemukan adanya? Di dalam pencarianku engkau bersama. Disaat adanya kau berada: Kau menyejukan, disangka anginlah adamu. Kau menentramkan, bersukarialah jiwaku.

Dirimu mengudara, tapi bukan angin. Dirimu mengalir, tapi tidak juga sungai. Rasanya tak adil pikiranku menempatkanmu di satu titik, karena pada titik itu adalah engkau. Pada engkau adalah semua. Dan semuanya ada, kala Tuhan membaca, siapakah sirr kita itu tuan? []

BISMILLAH
Baca Tulisan Lain

BISMILLAH


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *