RUMAH TAK LAYAK HUNI

rumah

Disumpah, dilantik, di wisuda, harus ngapain saya? Saya sih sudah; sudah sedari lama menolak jadi siapa-siapa dan tak pernah berharap jadi apapun di dunia ini. Saya sih tak pernah kepikiran jadi apapun juga. Malahan yang ada dalam pikiran saya cuma wanita sedari lama juga. Terhitung sejak lulus smp.

Saya mencari sekolah yang wanitanya cantik-cantik, dan saya pun mencari referensi sekolah-sekolah kemudian saya mendapatkan rujukan. Kemudian saya masuk di sana. Namun nampaknya cantik dalam pemahaman saya tak ada di sana. Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke Bandung, guna berlatih sepakbola, dengan alasan mutlak bahwa saya kepincut atlit wanita.

Namun tak begitu lama di sana, karena lagi-lagi gagal. Sebab tak mendapatkan wanita, malah saya dipertemukan dengan sebuah keluarga yang tukang rongsok dan sopir angkutan. Saya pun akhirnya memutuskan untuk kuliah, karena saya gagal mencari wanita atlit olahraga, setelah saya melakukan semedi di bawah pohon arba yang meneduhi lapangan sepakbola tempat saya berlatih: Saya tak kepikiran masuk jurusan apapun.

Yang jelas, ga asik tanpa wanita itu. Singkat cerita, saya pulang kandang dan masuk sebuah universitas. Saya pun dipertemukan dengan banyak wanita. Singkatnya lagi berkenalan inten dengan seorang wanita yang dihadirkan Allah sejak ospek. Pada akhirnya, setelah saya berjuang lumayan lama. Jawaban terindah adalah bahwa kalau saya jadi pacarnya, nanti ada bekasnya tapi berbeda kalau jadi sahabat, atau saudara.

Maksudnya apa yah? Penolakan metode ini sedang jadi trending saat itu, saya tidak tahu wanita ini ikut tren atau memang bener menginginkan hubungan persaudaraan dengan saya? Padahal saya berencana menikahinya. Tapi tak apalah. Saya pernah mencoba mendekati wanita yang sudah punya pria, maksudnya sih saya mau menolongnya, yah karena sejak saat itu saya menempetkan diri sebagai saudara saja, dan kemudian saya malah dituduh menyukainya.

Saya bilang mencintainya karena saya menganggap dia saudara. Hingga pada suatu saat saya dipertemukan dengan lain wanita. Dan saya seneng sekali, dan seperti biasa. Saya langsung menyatakan bahwa saya mencintainya. Dan jawabannya: Terima kasih. Ini aneh dan aneh. Selang beberapa lama kemudian, ternyata wanita itu sudah tunangan. Gagal lagi dan gagal lagi.

Kemudian saya berpikir, bahwa status itu memang tak penting, yang penting aku mencintainya dan meperjuangkan cinta itu. Hingga kemudian saya dimintai memperistri janda kaya yang diperebutkan semua orang seantero nusantara (katanya), tapi saya menolaknya untuk membuat ikatan. Sebab khwatir nanti menimbulkan beberapa macam ketegangan. Hingga berumah tangga di rumah itu bisa dikatakan tak layak huni. Dan saya tidak pernah mengharapkan perdebatan itu kalau yang jadi dasarnya adalah merasa ingin menang dan merasa benar sendiri.

Setelah bosan mengembara, saya balik ke kampung. Coba-coba jadi petani, ikuti jejak bapak dan ibu, tapi ujung-ujungnya sama; merasa ingin menang dan merasa benar sendiri ketika panen gagal, yang disalahkan sekawanan burung pipit, hama, kadar hara tanah dan pupuknya tak bermutu. Beralih ke ranah politik, ikut-ikutan seperti mereka yang sok membela rakyat jelata, dan ujung-ujungnya pun sama; merasa ingin menang dan merasa benar sendiri.

Barangkali judulnya harus diganti : mencari calon istri, bukan lagi beriat untuk dinikahi, guna tak ada lagi narasi rumah tak layak huni lagi? Sebagaimana bapak dan ibu pernah berkata bahwa mencintai itu harus siap dengan dua sisi: baik dan buruk. “Ya, walau bagaimana pun keadaan istri itu tetap saja ia sumber dari buah hati, hasil dari leburnya dua rasa. Betapa lucunya kau yang sulit diatur di itu waktu. Lucunya kau itu  mengingatkan kami pada masa kecil dulu!” ucap bapak di hadapan saya dan ibu, kala itu. Tapi saya lupa tahun, bulan, tanggal dan harinya.

Jangan-jangan selama ini saya mencari wanita hasil dari genetika silang bapak dan ibu, tapi siapa yang paling dominan? Adakah ibu yang mencari-cari lelaki atau bapak yang mencari-cari wanita, semasa mereka muda? Ah, ujung-ujungnya pun sama; kalau saya bertanya pada mereka, pastilah merasa ingin menang dan merasa benar sendiri. Hingga kembali pada narasi rumah tak layak huni, sebab sudah dipastikan piring terbang berkeliaran.

Dan sudah bisa dipastikan dengan telak, bilamana hal itu terjadi, tentu saja saya berada di posisi pihak ketiga. Kata guru ngaji, pihak ketiga itu setan? Haduh, kenapa ujung-ujungnya pun sama; bilamana saya dideskreditkan dalam perang angkara murka di dalam rumah tangga keluarga saya; tentu saja dalam pledoi, saya akan merasa ingin menang dan merasa benar sendiri, iya kan? Lagi-lagi kembali pada narasi rumah tak layak huni.

Mengerikan! []


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “RUMAH TAK LAYAK HUNI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *