Pengusaha yang Mengusahakan Apa Saja

istighfar

Manusia berjibaku, pagi siang, sore, malam hingga pagi lagi hanya untuk mencari rupiah. Benarkah?. Tak setuju ah. Yang lebih tepat, manusia setiap hari berusaha mengusahakan apa saja. Bisa dapat uang, bisa juga engga. Ada juga yang dibarengi berdoa. Di sebalik doa yang dilangitkannya, banyak tangan yang menanti dengan sinar mata penuh harap.

Sebagaimana istriku sempat memberikan kasih sayangnya padaku dengan kalimat. “Tak usah habis-habisan cari uang 1000 2000 perak, sebab kesehatan jauh lebih penting”. Hingga akhirnya tubuhku pun meriang. Asupan jamu kuminum guna menghangatkanku kembali. Dan terus berpkir, apalagi yang harus kuusahakan agar lebih efektif.

Kebutuhan harus terpenuhi. Beli susu anak, biaya makan, pekerjaan yang harus segera diselesaikan, bayar cicilan, serta aktivitas yang setiap harinya harus tetap dilakukan. Bersyukur meski dalam keadaan kesehatan tubuh yang tidak stabil, semangat terus tumbuh untuk melakukannya karena itu semua kebutuhanku. Badan memang sakit tapi selagi masih bisa dilakukan yah lakoni waelah.

Usaha sandang, pangan, dan papanku sedang mengalami penurunan omset. Selepas aku limpahkan atau dikelola oleh orang lain. “Setiap orang membawa rizkinya masing-masing”, kata istriku. Aku sempet gede hati. Berarti kalau aku nyuruh orang, bisa jadi akan nambah dong? Apa aku memang harus terus terlibat langsung dalam semua usaha yang aku buat itu.

Bisa jadi karena yang ngelola kurang telaten, atau aku yang tak fokus karena banyak percabangan kegiatan. “Kamu tinggal pilih,mau jadi pengusaha atau jadi pegawai pemerintah?. Kalau dengan kondisi kamu yang bercabang seperti itu bakalan riweuh”. Teringat ucapan temanku, tetangga penjual gorengan.

Sempat terbayang aku meninggalkan pekerjaan kepegawaianku di instansi pemerintah, tapi manakala hal itu terbesit. Panggilan tanggungjawab seketika datang. Entah yang nanyain bansos, ngurusin kegiatanlah, dan seterusnya. Oh, mungkin inilah yang harus ku tempuh. Ya sudah!

Selepas hujan reda, aku menyambangi restoku yang berjarak tiga kilo meter dari rumah. Meski kondisi tubuh yang tak begitu sehat, tak kuhiraukan. Sebab ini konsekuensi keistiqomahan yang harus dijaga.

Setibanya di restoku, dua orang pembeli baru saja meninggalkan kursi duduk, sehabis makan malam. Kemudian kusambangi saudaraku yang kupercayai untuk mengelola restoku itu.

Aku mencoba hendak bertanya padanya, mengenai keadaan pemasukan yang diharapkan ada omset yang terus meningkat dari ke harinya. Akan tetapi, dia berbicara sebelum aku tanya. “Duh tiiseun euy”. 

Hemh—ya sudah—sudah malam juga. “Kita tutup saja!” ucapku! []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *