NEED NOT TO KNOW

NTKUdo jpg scaled

Ran, aku tak pernah mencarinya. Bahkan aku juga tak pernah memperdulikannya. Aku percaya bahwa kemarin tak perlu diingat kembali, karena apalah artinya—tak berguna ini—sebab egoku yang terlampau bernafsu untuk memiliki.

Tapi ternyata, ada makna yang aku sulit melupakannya, yang kutemukan dari ucapanmu dahulu; Tentang aku. Tentang kita. Tentang cita. Tentang cinta. Tentang masa silam. Tentang masa depan. Tentang kesejatian, yang baru aku menyadari indahnya itu semua.

Ran, seperti mendung yang seolah tak perduli kepada matahari. Namun mereka begitu kompak disaat terciptanya hujan. Apakah kebahagiaan serumit egoku itu? Sementara gemintang dan rembulan, kenyataannya mereka menghiasi langit malam dalam kebersamaan laku cinta yang sangat indah—tanpa pernah kulihat bersedih akan tergantikan fajar esok hari.

Begitulah kiranya cerita, apakah dalamnya rindu demikian itu adanya? Ataukah lebih tinggi makokmya? Bahkan lebih luas ruang lingkupnya—hingga ada batas yang bisa kucapai sebagai manusia. Kemarin ada. Hari ini tiada. Esoknya lagi lebih rasanya.

Cerita cinta banyak kurasa, dan rindu semakin tak terhingga mendigdaya. Kiranya berbeda pendalaman. Puncak. Serta lingkup nuansanya tergantung apa yang hendak kujelajahi cintanya. Rinduku, hanya mampu kucapai dengan cinta yang berlinangan air mata. Lagi. Lagi dan lagi egoku yang terus memerankan cerita.

Aku kira engkau tak memperhatikanku. Namun perhatianmu lebih daripada aku memperhatikannya. Aku menyangka engkau menjauh. Namun ternyata engkau mendekat padaku sehingga tak berjarak denganku. Aku terka engkau meninggalkanku. Namun membuka—terbukanya ruang pada dimensi yang lebih dari sebelumnya.

Begitu asyiknya dan tak kubayangkan sebelumnya. Semakin jauh lagi yang kujelajahi. Semakin mendekat pada kesadaran yang bisa kufahami. Need Not To Know. Akan tetapi: Lebih indah dari yang kusangka. Lebih mewah dari yang kuduga. Lebih luas dari yang kubayangkan. Lebih tinggi dari yang kuharapkan. Lebih dalam dari yang kupikirkan.

Lebih baik, ini lebih baik Ran! Lebih baik aku tak mengingat masa lalu, sebab aku lebih tak kuasa menahan kerinduan yang tak ada obatnya. Ya, setelah obatnya aku makan, rindunya malah semakin bertambah—sehingga kemana lagi aku mencari dosis obat yang lebih lagi?

Ah. Semoga aku bisa mengistirahatkan rindu oleh tidurku sesaat. Namun aku terbangun, sebab dalam tidurku masih bisa kujumpai rindu ini. Mengapa engkau datang? Aku mau tidur dulu sebentar. Kemudian kubelai kembali rindu itu. Kuhitung kembali cinta kasihmu. Namun berantakan bilangannya.

Lalu, jemariku; aku sembunyikan, maka aku gantikan dengan Ingatan. Ingatanku pun menganggu kekhusyukan, maka aku gantikan dengan perasaanku saja. Biarlah. Semoga nantinya yang ada hanya saja yang ada. Sebab, semakin aku tidur nyenyak, yang rindu semakin cemburu. Cemburunya?

Karena aku tak boleh berlaku cinta pada yang lainnya. Musabab itulah, saat aku mengistirahtkan rindu, itulah obatnya. Namun itu dosis yang lebih tinggi—karena tidurnya itu serangkaian cintanya. Ya, sudahlah: Aku semakin jatuh cinta. Dan rindu semakin rindu.

Semoga saja aku tak keliru memahami rindu ini, Ran! Aku hanya khwatir ada selain dirimu dalam rindu ini. Dan kau tahu—yang bisa kupahami, bahwa rinduku kepadamu tak menyakitkan. Sebab dari itu kupejamkan mata lagi, bukan untuk menidurkan melainkan guna membangunkan kelembutan.

Ya, kelembutan itu semata hanya untuk manusia. Maka kalaplah mataku oleh bibirnya. Semata hanya untuk nafsunya. Maka musnahlah ambisiku olehnya. Akan tetapi, serasa itu lebih baik dan sangat manis. Maka rasaku itu pun pudar oleh pahitnya,

Sehingga semuanya sirna oleh yang lebih sejati daripada sangkaanku terhadap surga pikiranku. Iya begitu Ran. Kembali kucoba mendalami kembali ucapanmu; mengapa dahulu kau banyak ingatkan aku tentang ini? []

MELUKIS TAKDIR
Baca Tulisan Lain

MELUKIS TAKDIR


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *