Pagi-pagi saya maksain pergi bersama ibu saya melayad ke saudara yang meninggal dunia kemarin sorenya. Demikian itu saya lakukan karena saya tidak bisa melakukannya ketika dapet telpon kabar akan meninggalnya karena memang sudah malam dapat kabarnya. Terus lagi kondisi badan saya yang sedang tidak sehat betul kalau terkena angin perjalanan.
Dan ternyata memang terjadi, ketika sudah sampai di rumah saudara saya yang meninggal itu kondisi tubuh saya mulai tak enak. Saya cuma bisa duduk-duduk saja disamping ibu saya sembari mendengarkan lantunan pembacaan surat yaasin dari tamu yang datang melayad. Saya juga melewatkan sholat jenazah.
Saya cuma baca beberapa sholawat dan do’a. Seketika kemudian lutut saya merasa dinginnya seperti disentuhkan oleh batu es. Wah jangan-jangan ini ruhnya mendiang mendekati saya, saya dengan sigap mendo’akan beliau kembali semoga beliau diampuni dosa-dosanya, Alohummaghfirlahu warhamhu Wa’ afiihi Wa fu Anhu.
Beberapa saat kemudian saya mencari tempat untuk mengamankan lingkungan sekitar dari kondisi tubuh saya yang sakit ini. Saya pun mengistirahatkan tubuh saya disebuah kursi sembari menyulut rokok agar tenggorokan saya hangat. Namun tubuh mulai tak enak, seketika saya mengabari ibu saya menanyakan kembali waktu kunjungannya. Namun seketika ibu saya mendekati saya dan berpamitan pulang.
Dalam perjalanan, saya coba menenangkan kemudi motor saya. Tanpa disengaja, saya melihat ada tetangga saya sedang kuriak. Kemudian ibu saya berkata kepada saya dengan sikap empatinya. Namun saya dengan nada yang sedikit tinggi bilang, lah saya harus ngapain. Kan ada ini orang yang ngebantu. Lagian saya ini kondisinya seperti ini. Pas nyampai rumah, saya langsung ke kamar mandi kemudian ngambil wudhu dan tidur karena sudah tak kuat lagi.
Sebelum saya tidur, pikiran saya kembali teringat pada saudara saya meninggal dan rumah tetangga itu. Saya cuma bisa berdo’a saja.
**
Seuisai berjamaah isya saya duduk dikursi ruang tamu berbincang dengan bapak saya mengenai perkembangan teknik operasi. Diawali dari menceritakan kabar uwa saya yang baru saja pulang dari rumah sakit seusai menjalankan operasi. Loh ko cepet? Itu yang di lem? Kata bapak saya. Ya gatau juga saya.
Bagaimana ngelemnya yah? Kalau diperhatikan rada linu juga kalau operasi hanya di lem kaya gitu. Tapi anu soeh ku bedog bisa juga kali yah di lem kaya gitu? Kemudian bapak saya kembali bertanya. Saya kembali tidak tahu.
Yah pokoknya sama halnya kita menyebut ngeri bila mobil jungkit waktu nurunin pasir. Kan kalau saya yang ngebayangin mah pasti ga ngerti juga, tapi kalau bapa kan sudah biasa. Ada hal-hal yang di hitung bener-bener.
Kemudian bapak saya tersenyum. Tak lama berselang, tim ronda malam menghubungi saya. Laju saya bergegas pergi mendatangi pos jaga malam. Ritual pertama adalah makan liwet. Padahal saya sudah makan tapi yah saya menghormati yang sudah masak. Agenda kedua, gapleh.
Di temani dengan Nomor-nomor lagu yang dimainkan sheila on 7, Letto, Leo kristi, Joan Baez, musik puisi Umbu Landu, Gesang, Fiersa Besari, Iksan Skuter, Cupumanik, Jamal Mirdad, Koes Plus, Simple Gifts, Franky Sahilatua, TRIAD dan Sulis yang dimainkan dipenghujung Sesi.
Dan yang terakhir, ngalempengkeun cangkeng. Membaringkan badan sembari diiringi dengan sholawatan dari aransirnya kiakanjeng. Tak terasa waktu sudah pukul 02.30. Nampaknya pertemuan pada malam itu dilanjutkan kembali minggu depan.
**
Sebelum saya menggunakan identitas, saya melakukan berbagai hal di setiap identitas. Namun semua yang telah saya lakukan itu adalah pengangguran, begitulah mereka menyebut saya. Saya kemudian membuat suatu identitas sebagai upaya menggembirakan anggapan mereka, namun masih jug dianggap tidak melakukan apa-apa, karena identitas yang saya buat haruslah seperti anggapan mereka.
Kemudian saya memilih identitas yang mereka agungkan sebagai upaya saya menyampaikan apapun. Namun ternyata, setelah saya menggunakan identitas yang mereka pilihkan untuk saya, saya lebih banyak diam dan merenung.
Ternyata selama ini, saya telah berbuat bodoh dan tolol mengurusi yang tak pernah menginginkan saya urusi. Lantas saya ini hanya diperintahkan untuk menjalankan yang mereka mau dan inginkan.
Apakah saya ini? Saya menemukan istilah, Mulkan Nabiya, (Ya Raja Ya Nabi). Abdan Nabiya, (HambaNabi). Abdan Abdiya, Hamba yang MengHamba. Saya memang tak kuat seperti kekasih kita Muhammad yang sejak kecil harus ditinggal ibu bapaknya. Saya juga tak akan pernah kuat mempunyai keluarga sebagaimana Nuh.
**
Pada hari sabtu 12 September 2020 pemerintahan desa saya mempunyai petugas baru yang menggantikan petugas sebelumnya dikarenakan masa kerjanya yang sudah habis. Terpilihlah dua orang yang akan menggantikan itu berdasarkan hasil seleksi yang sangat rumit.
Saya sedih dan senang, dimana dalam kamus yang saya temukan, kata atikan itu berarti didikan. Duh saya suka sedih kalau mendengar kata Pendidikan. Karena pendidikan di kita kan hanya melatih siswanya untuk “pintar” saja, yang muatan tertingginya adalah kebenaran yang bersifat absolut.
Sementara puncak pendidikan manusia adalah menjadikan dirinya sebagai manusia. Setiap media pembelajaran yang dibuat hanyalah berkutat pada penyampaian wawasan yang banyak yang berarti menjadikan penghafalan tekstual dari setiap wacana dalam hal apapun.
Baru-baru ini sedang menjadi bahan perbincangan yang ramai mengenai model daring (dalam jaringan) yang memaksa siswa untuk menjalankan transfer wacana melalui internet. Para orangtua yang mulai gelisah dengan kondisi pembelajaran saat ini melakukan suatu musyawarah perihal mengembalikan keadaan sebagaimana sebelum pandemi ini ada.
Dalam hal ini sudah jelas bukan, jika masyarakat seneng bersilaturahmi dengan bertemu langsung. Silaturahmi itu tidak pernah disampaikan dalam pendidikan formal sebagai upaya menjalankan cinta segitiga hubungan sesama makhluk hidup (Allah-Muhammad-kita).
Komunikasi itu harus dijalankan, minimal memberi kabar entah itu senang maupun tidak.
**
Manusia indonesia memang juaranya kalau buat alat mempersatukan dan mengedepankan silaturahmi. Berapa langkah dilakukan: Alumnian. Seduluran. Komunitas. Sepakbola. Musik. Ebleg,
yang secara ruh keadaannya sangat mempersatukan dan semua yang saya rasakan kalau itu berjalan lancar berarti itu perlu dipertahankan.
Dulu kalau ada turnamen sepakbola, biasanya pasti ribut. Kalau ada dangdutan pasti juga rebut. Dan kini dalam acara itu jarang ribut tetapi masuk ruang lingkup komunitas agama, negara, ko malah ribut?
Pertanyaan saya ini pelakunya manusia yang dulu atau ruh manusianya yang disakiti boleh, tapi jangan sampai menyakiti tujuh belas delapan empat lima. Kalau memang darah saya, kematian saya, engkau butuhkan untuk melepaskan semua nafsu, ambisi, maka ambilah semuanya karena itu merupakan bentuk ibadah saya pada Allah.
**
Pagi-pagi saya mendapatkan telpon dari ibu saya. Saat itu ibu saya sedang menunggu kakak iparnya yang sedang sakit patah tulang iga kiri kanan.
Saya disuruh mengantarkan pakaian ganti kepadanya. Saya pun segera memilihkan pakaian untuk ibu saya di lemari miliknya.
Saya bergegas pergi. []









