Detak-detik jam malam berputar mengelilingi angka—menunjukan waktu untuk tidur. Kaki pun segera dicuci. Doa doa dipanjatkan lansung tanpa tangga. Dikala teridur, disusupi mimpi; berada di sebuah negri yang indah. Aku menamainya Negri Seribu Air.
Di sana, tiap pagi rakyat dimanja bagaikan bayi. Tiap bangun pagi dan mau tidur disuguhi roti dan susu segar, hasil perasan sapi yang makan dan cari rumput sendiri. Bahkan untuk mandi, air hangat atau dingin sekalipun disediakan oleh raja. Bahkannya lagi, mau tidur pun diberikan dongeng-dongeng para nenek moyang yang tangguh, dahulu.
Di Negri Seribu Air: Berita-berita asli dari televisi dan koran disuguhkan tidak berbelit seperti gurita yang punya senjata tinta yang memburamkan mata, tidak juga mengorek telinga sampi tembus. Singkatnya tidak pusing isi kepala.
Di Negeri Seribu Air: Para petani sibuk memanen buah-buahan dan sayuran yang melimpah ruah tanpa pernah menanam. Kebun-kebun rumah milik rakyat pun diurus oleh kerajaan. Hewan-hewan bebas berkeliaran tanpa hiraukan kotoran yang saban hari dibersihkan, masih oleh pihak kerajaan.
Membuat rakyat dapat menikmati makanan hewani. Bahkan di Negri Seribu Air, rakyat tidak ada yang menganggur. Warga dijadikan para pekerja kerajaan. Bahkan tidak ada yang melantur. Benar-benar Makmur. Penuh perhitungan yang terukur.
Di Negri Seribu Air: Sawah-sawah terbentang luas. Gunung-gunung menjulang tinggi, dan laut dipenuhi kapal-kapal berlayar yang dihiasi burung-burung camar, yang bebas menari di lengkung langit, seperti dalam lukisan lukisan klasik. Konon kataya di laut itu ikan-ikannya besar-besar, meski setiap hari dijaring.
Di Negeri Seribu Air: Sungai-sungainya jernih. Bahkan bisa diminum lansung berkhasiat menghilangkan dahaga, serta mampu menyembuhkan segala penyakit. Pepohonan menjulang tinggi besar-besar seperti di alam purbakala, menjadi rumah bagi ragam burung; memanjakan mata kala memandang ke sekitar.
Sayup-sayup rampak suara tarhim di Negeri Seribu Air. Udara terasa begitu dingin, memaksaku membuka mata. Niat cari sleeping bag, guna badan terasa hangat. Nyatanya Negeri Seribu Air itu terbawa ke alam nyata dengan beda rupa: Tenda terbawa terbang. Aku tidur beratapkan langit dengan kabut tebal atawa bisa dikata seribu air yang menjadi butir-butir rintik. Ingin rasanya turun gunung malam itu juga, tapi raga begitu kaku dan terasa beku.
Untungnya masih bisa berdiri. Mataku memandang sekitar, hendak meminta bantuan, tapi tak ada satu pun teman terlihat. Kalaku kedinginan yang didampingi imaji ketakutan, sambil kembali pejamkan mata, ternyata mereka masih berada di Negeri Seribu Air. Kenapa mereka bisa migrasi ke dalam mimpi, sementara aku kesepian?
Ruginya jadi yang mimpi, lebih baik yang diimpikan, sudah pasti nyaman dan nikmat makan. Ah, bagaimana kalau aku yang diimpikan ada di neraka: Rugi juga? Si-a-lan! []









