PUISI Tatang R. Macan

trend 1

KEPADA PARA PENGKHIANAT BANGSA

Saudara-saudara—
Pernahkah kalian mendengar semboyan itu,
Verboden voor Honden en Inlander?
Tulisan di papan kayu yang sederhana itu,
namun membelah dada bangsa ini dengan belati sejarah.
Mereka mengucapkannya tanpa ragu,
seakan kehinaan adalah hak yang sah dimiliki penguasa.

Saudara-saudara—
Hari ini aku teringat Multatuli:
saksi zaman yang melihat bangsa ini tergadai nuraninya,
para penguasa bersekutu dengan mahkota,
ijazah palsu menjadi tangga menuju kekuasaan,
dan kini meja dinas menjelma altar kepentingan.
Lihatlah—
Para wakil rakyat menyentuh pundi yang bukan miliknya,
sementara pemimpin daerah melupakan tanah
yang kelak akan menjadi peristirahatan terakhir.

Saudara-saudara—
Bangsa ini kini menatap cermin sejarah
dan melihat wajahnya sendiri yang pudar.
Dengan dandanan kemegahan, dan wangi jabatan,
mereka bersumpah atas nama kekuasaan,
bukan atas nama rakyat yang lapar dan tersisih.
Sumpah jabatan pun perlahan menjadi gema hampa—
seperti nyanyian tanpa makna di tengah kesunyian nurani.

Saudara-saudara—
Aku teringat pesan Soekarno:
“Kami mudah melawan penjajah yang datang dari luar,
tetapi sulit bagi kalian melawan penjajahan yang tumbuh dari dalam diri sendiri.”
Karena itulah duri di dalam daging.
Maka lihatlah hari ini—
betapa beratnya melawan keserakahan yang berwajah sahabat,
melawan kebusukan di tengah jeritan rakyat.
Sumpah para pejabat seharusnya menjadi sumpah pengabdian dan doa,
bukan gema licik dari hati yang kering iman.
Mereka bersumpah,
namun sering hanya menjadi kabut
yang menutupi luka-luka di dada bangsa.

Padang Panjang, NKRI,
28 Oktober 2025

PUISI Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

PUISI Rachman Sabur


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *