PUASA CACING & BATU KALI
mengaji batu kali
aku menemukan keteguhan hati
basah dan lumutan membalut ketegaran
tersembul, terpendam atau tenggelam
tetap kokoh membatu diam
tawaduk dikepung arus
meski ditusuk-tusuk hingga tirus.
aku mengeja keteguhan
serupa ketabahan puasa darinya
mengaji pohonan hutan
aku menemukan ketinggian rindang
batang kukuh menjulang
cabang membentang, dahan melintang
menyerahkan dedaunan mlumah
yang pasrah telentang
demi menadah berkah ilahi
menjaring cahaya hayati
sambil kepada yang lain melindungi
sekalian akar menghunjam ke bumi.
darinya aku mendaras kekuatan rendah hati
selain makna puasa yang mengayomi
mengaji burung-burung
aku menemukan siul kala fajar dan petang
menjumpa penerbangan pagi hingga senja
pergerakan tanpa tapal batas area
demi menafkahi anak-anaknya
yang menunggu separuh penuh biji-bijian
hinggap pada reranting riang di tepi sarang.
aku membaca kesetiaan perjuangan kehidupan
serupa puasa menyayangi imsak dan buka
usai meminangnya dengan ibadah dan doa
juga kerja nan gembira
mengaji cacing tanah
aku menemu kotoran menyuburkan
hari-hari gelap yang terpendam
tapi ia terus menyelinap dengan perlahan
menerobos lapisan demi lapisan
melubangi bumi dengan goa-goa mungil
mengurai selang perjalanan tak lagi musykil
sembari mengisap butiran pasir, lumpur serta kerikil
memamah remah-remah daun dan hewan mati.
aku menemukan hakekat puasa
yang selalu berguna bagi sesiapa
mengaji diri di cermin kaca
semua ikhwal dunia semata
menghitung rugi laba
hingga transaksi surga-neraka.
maka puasa
selain memindah waktu makan cuma,
memperpanjang rihat, mengurangi kerja,
tak ada yang lebih utama
dari tamak, rakus, dan loba
ketika berbuka
mengaji puasa dari makhluk dan alam benda
puasaku tak lebih tinggi
dari puasa cacing dan batu kali
apalagi burung-burung dan pohonan
di hutan-hutan
mengaji puasa cacing dan batu kali
aku merasa malu sendiri
Sumber:
Kitab Puasa “Semesta Siam” (Sosiawan Leak)
Edisi komplit:




