AJI SAKTI

petir

Lelaki kecil berambut panjang dan berkulit hitam yang tingginya 160 cm itu bernama Rasiman. Aku mencoba mengingat lagi, memoriku, ketika masih satu kelas dengannya.

Waktu itu ia berumur 13 tahun. Ia berkulit sawo matang, berlesung pipit, memiliki gigi kelinci yang aku inginkan. Sejak aku lebih memilih mengikuti ibu merantau ke Jakarta, aku tidak lagi berjumpa dengannya. Kini aku memilih hidup di desa, bercocok tanam dan bekerja di ladang. Hidup seperti ini justru membuat hatiku lebih tenang. 

Saat itu, hari telah senja. Kuperhatikan dari balik jendela, ia sedang merenung di depan rumahnya. Entah apa yang bergelayut di dalam pikirannya. Ingin sekali aku mengetahuinya, apakah ia akan mati suri lagi dan hidup kembali. Ah, sudahlah.

Bagiku, ia pria yang tangguh. Ia hidup sebatang kara, sejak ibu dan bapaknya ditemukan meninggal di ladang tebu. Rasiman adalah pria kecil, hitam, tapi berotot dan berdada bidang.

Kukira, kini ia bertumbuh seperti teman-temanku yang lain, yang mempunyai tinggi lebih dari 160 cm. Perhatianku seketika buyar ketika dari kejauhan aku mendengar salah satu warga berteriak,

“Bajingan! Asuuu koen, yoooo…. Tepak koen saiki, nang ngarep e omah,” pria itu menyeret Rasiman dengan membabi buta.

“Mbok apakno Tarmin sampek koyok ngunu?” Lelaki bertubuh kekar dan berkumis tebal itu mengamuk. Aku yang mempunyai nyali setipis tisu hanya menguping di balik jendela, melihat dua lelaki beradu otot. Aku takjub pada Rasiman. Dengan sigap, ia menangkis tangan Cokrek yang meninjunya. Kejadian itu mengingatkan aku pada aktor Jacky Chan yang sedang berlaga.

Cokrek marah, sebab Tarmin, sahabat karibnya meninggal 3 hari yang lalu dengan mengenaskan di rumahnya sendiri, sepulang dari ladang tebu. Perutnya tiba-tiba membusung, matanya melotot dan mengeluarkan darah. Tarmin mencakar-cakar tanah sampai jari-jarinya berdarah, sambil berkata,

“Koen gak iso mlayu nang endi-endi.” Begitulah kesaksian dari istrinya. Istrinya menjerit dan berlari keluar rumah untuk meminta pertolongan warga sekitar.

Kabar mencuat, bahwa Tarmin disantet oleh Rasiman. Hal itu dipicu lantaran Tarmin sering mengolok-olok Rasiman sebagai manusia jadi-jadian, dukun santet, murtad, sekaligus kafir. Rasiman memang tidak pernah terlihat sholat Jum’at di masjid desa. 

Di desa, siapa yang tak kenal Rasiman. Namanya melambung, lantaran dua kali ia mengalami mati suri. Kali pertama Rasiman mati suri akibat sambaran petir di ladang tebu miliknya, ketika angin berhembus kencang dan langit mendung gelap. Niat hati Rasiman ingin mengambil ponsel yang tertinggal di saung tempat ia biasa beristirahat. Tiba-tiba petir menyambarnya, hingga tubuhnya terbujur kaku. Denyut nadinya sudah tidak berdetak. Warga yang melihat kejadian tersebut membawa Rasiman pulang ke rumah. Pak Qosim selaku mudin setempat, memandikan jenazah Rasiman dan memasang kain kafan. Tiba-tiba Mudin Qosim tersentak, melihat alat vital Rasiman bergerak. Rasiman membuka matanya selayaknya ia bangun dari tidur.

“Ada apa ini, Wak Mudin? Mengapa saya ditidurkan di sini?” tanya Rasiman.

Mudin Qosim beberapa saat terdiam, kemudian menjawab pertanyaan Rasiman,

“Kamu habis tersambar petir, Nak,”

Warga yang turut hadir pun terkejut ketika Mudin Qosim memanggil untuk menyaksikan Rasiman bangun dari kematian.

Hari berikutnya Rasiman menjalani kehidupannya seperti biasa, sebagai petani yang sibuk di ladang. Pagi itu tanpa sengaja aku berpapasan dengannya. Ia tersenyum dan menyapaku,

“Arum, kapan balik?

Aku tersenyum,sembari menundukan kepala.

“Iya, Ras. Sudah dua minggu ini aku di rumah dan membantu bapak di ladang,” sahutku. Menuju ladang, perjalanan kami penuhi dengan bercerita dan sekedar basa-basi.

Setelah kejadian 3 minggu lalu itu, Rasiman mati suri kembali terulang. Untuk kali kedua ia mati suri lagi. Kali ini, ia terjatuh dari parit saat berangkat ke ladang. Motor yang dikendarainya tiba-tiba remnya blong dan Rasiman terjatuh ke dalam parit hingga tak sadarkan diri. Tubuh dan kakinya penuh luka, kepalanya bocor dan dada kirinya tertusuk kayu yang runcing. Warga membawa Rasiman ke rumah sakit. Di rumah sakit, dokter menyatakan Rasiman meninggal. Rasiman dibawa ambulan menuju rumah duka. Petugas ambulan meletakkan jenazahnya di meja ruang tamu. Para pelayat membacakan Surat Yasin dengan hikmat. Dan sekali lagi, Rasiman terbangun.

Aku yang duduk di sampingnya dan tengah membacakan do’a terkejut. Kusaksikan Rasiman terbangun seperti terjaga dari tidur yang nyenyak. Apakah ia punya ajian kebal, pikirku, sedang luka di tubuhnya masih basah.

Bibirku bergetar menyebut namanya.

” Ras, kamu baik-baik saja?”

Seingatku, aku terpeleset, Rum,” jawabnya. Aku menghela nafas panjang. Para pelayat saling berbisik, membicarakan kejadian yang baru saja mereka lihat. Para pelayat akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Besoknya, kukunjungi rumah Rasiman, sekedar ingin membantunya merawat luka. Kuketuk pintunya dan dia langsung menyahut dari dalam.

“Masuk, Rum!”

Di dalam rumah, di sisi kiri dan kanan kulihat perabotan rumah yang rapi tertata. Alangkah rajin seorang Rasiman, batinku.

Rasiman duduk menghadapi secangkir kopi dan sebatang rokok yang dijapit diantara dua jarinya.

“Ras, apakah tubuhmu tidak terasa sakit“

Tubuhku,? ia balas bertanya. Dahinya berkerut.

“Aku baik-baik saja, Rum. Kamu lihat, aku bahkan bisa menyeduh secangkir kopi sambil merokok” sambungnya.

Aku keheranan. Aku mendekatinya, duduk di hadapannya dan menyaksikan bola mata yang indah itu turut serta bercakap. Rasiman, lelaki bertubuh kecil yang kulitnya hitam, selegam nasibnya. Tapi aura kelelakian yang mahal kujumpai pada sosoknya.

“Ras, wirid atau lelaku apa yang sedang kamu jalani”hingga tubuhmu tak merasakan sakit dan kamu bisa hidup setelah mati?”

Rasiman tertawa, abu rokoknya dibuangnya ke dalam asbak bergambar kepala srigala.

” Aku hanya melaksanakan perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Semua laranganNya yang haram,” jawabnya.

Saat Rasiman berbicara, kuperhatikan bibirnya yang hitam. Bibir yang sempurna dan kucemaskan mampu melumat bibirku. []


Apakah artikel ini membantu?

Tulisan Lain dari Penulis :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *