Bangau Kertas

bangau kertas

Menjalani kehidupan sebagai seorang anak (yang mungkin tidak terlalu anak-anak) berusia 16 tahun adalah hal yang melelahkan. Kali ini dan seterusnya, aku tidak dibiarkan untuk bersantai dan mengambil napas lega kapan pun aku mau. Kehidupan semakin memaksaku untuk selalu bersikap baik-baik saja, seperti bunglon yang berubah warna menyesuaikan tempat ia berada.

Setiap waktu yang aku habiskan adalah suatu kebencian bagi ayah, terutama dalam memulihkan perasaanku. Ayah akan bersifat sinis dan tak segan untuk memaki atau memukul setiap kali aku melahirkan sebuah karya lukis yang aku kandung dari bertimbunnya badai dalam pikiran.

Melukis memang sudah mendarah daging sejak aku masih jadi bocah ingusan. Bangau kertas adalah tokoh utama semua ini. Aku menyukai dia karena menurut buku yang aku baca, bangau kertas adalah simbol umur panjang (yang artinya dia adalah simbol kebaikan) dan aku suka hal-hal baik. Maka dari itu, sulit rasanya menghentikan hal yang sudah menjadi belahan jiwa sejak lama terutama yang aku lakukan adalah sebuah kebaikan.

Alasan untuk tetap bertahan, mempersilahkan jari jemari bersuka ria di atas permukaan kanvas adalah fakta bahwa ayah adalah sebagian kecil (mungkin sama kecilnya dengan quark, partikel yang baru saja aku pelajari di mata pelajaran jam pertama) di antara sebagian besar orang yang turut bersuka ria melihat hasil karyaku. Mereka yang termasuk dalam sembilan puluh sembilan persen adalah orang-orang yang baik, meskipun bukan yang terbaik.

Bicara tentang kebiasaanku dalam memulihkan perasaan, bisa dibilang alat gambarku lah yang terbaik, karena mereka yang paling mengerti. Mereka yang membersamaiku dalam sunyinya lisan dan ramainya pikiran. Jika dia adalah sesuatu, mungkin kesetiaannya setara dengan seekor hachiko atau seperti seorang Roronoa Zoro.

Semua isi hati dan pikiran kutuangkan padanya, kadang sampai tak terbendung. Meskipun aku yang sekarang lebih bisa bebas merdeka dengan tidak perlu khawatir permukaan kanvasku akan semakin tebal seperti tembok. Aku mulai bisa menyisihkan uangku dari jerih payah menjual gambar di platform online dan sebagian penyisihan kompetisi berhadiah uang untuk memperbarui mereka.

Aku pernah mendengar bahwa orang bijak selalu berkata kalau hari sial di kalender hanyalah mitos. Sialannya hari sial itu menimpaku pada pertengahan minggu. Pada saat itu aku berniat untuk membeli lagi peralatan lukis yang sudah habis. Firasatku dalam perjalanan pulang sudah mengatakan bahwa aku sebaiknya balik badan. Namun perjalanan sudah kadung, aku memutuskan untuk tetap menapak kaki sampai pintu rumah. Benar saja, monster bengus itu (dengan bahasa halus adalah ayahku) sudah menginjakkan kaki busuknya lebih dulu.

Entah bagaimana dia bisa sampai lebih cepat dari perkiraan. Biasanya ia tiba saat pagi buta dengan bau alkohol menyengat dan lanturan yang menggaung, membuat aku, ibu, dan tetangga-tetangga merasa butuh parasetamol. Anehnya, saat itu batang hidung ibu tidak terlihat. Biasanya ibu menyambut kepulanganku dengan mata sembab dan tubuh yang terlihat lemah.

Aku berusaha menguatkan kedua kaki untuk melangkah masuk. “Assalamualaikum yah” aku berusaha meraih tangan ayah, karena aku masih ingin menghormati dia meskipun si monster itu telah banyak menyakitiku. “Pulang juga kau anak jalang?” ucapnya tanpa memandang wajahku, seolah aku adalah mahluk borok yang menjijikan. Tapi kenyataannya aku hanya bau busuk dan itu memang samar-samar terasa dari balik jaketku, mungkin asap knalpot saat perjalanan pulang adalah penyebabnya.

Aku tak bisa berkata jujur kalau telah membeli peralatan lukis, bisa saja kejadian selanjutnya adalah penyiksaan tak berujung terhadap cat dan kanvas. “Kegiatan sekolah” jawabku singkat. “Kau mau terlihat sok dihadapanku?” lagi-lagi dia bersikap bengis. Aku tak menjawab perkataannya dan segera membersihkan diri.

Bilik kamarku adalah saksi bisu dari imajinasi yang terbungkam. Meskipun temboknya tipis, atapnya berlubang, hawanya lembab, kasurnya jelek dan masih banyak lagi hal yang mungkin bisa dijadikan bahan bersyukur oleh kaum borjuis. Kadang aku masih bisa mendengar suara manusia berlalu lalang, atau suara bukan manusia berlalu lalang dari balik tembok. Tapi aku merasa nyaman saja meskipun kamar ini berdekatan dengan jalan, dan meskipun rumah ini berdekatan dengan selokan besar.

Tidak ada tempat untuk berlari jauh, berteriak kencang (kecuali pertengkaran rutin antara ayah dan ibuku ketika ada masalah, atau tetangga-tetanggaku ketika mereka bermasalah). Aku dan anak-anak di lingkungan ini memiliki satu kesamaan. Imajinasi kami terbungkam dalam bilik masing-masing.

Sudah beberapa hari berlalu aku jarang melihat ibu. Setiap kali bertanya; ayah, hanya berkata bahwa ibu bekerja. Mungkin pekerjaan asisten rumah tangga beberapa waktu ini cukup padat sehingga ibu pulang saat aku terlelap dan berangkat lagi sebelum aku terbangun. Namun curiga rasanya saat aku benar-benar tidak mendengar langkah kaki atau mencium bau keberadaan ibu.

Akhirnya aku memberanikan diri bertanya sekali lagi. “Ayah, ibu dimana?” tanyaku ragu-ragu ketika melihat ayah sedang meneguk kopi hitam. “Anak sialan sepertimu seharusnya tidak perlu banyak bertanya. Dasar perek tidak tahu diuntung. Jangan ganggu!” bentaknya.

Kali ini jawaban ayah membuatku tidak puas. “Kerja dimana? memang ibu jadi ART di berapa rumah sih sampai jarang pulang?” Aku melihat ekspresi ayah kikuk. Antara ingin marah dengan berkata jujur atau marah dengan berkata bohong. “Si jalang itu lagi cari duit lebih banyak biar cepet kaya.” jawabnya acuh tak acuh. “Palingan juga jadi lonte di kota.” Mataku membelalak tak percaya mendengar hal itu. “Ayah gila?! Suami mana yang tega jual istrinya sendiri ke kota demi uang yang gak seberapa?!”.

Ayah balik memandangku dengan amarah yang memuncak, seperti pembunuh yang haus darah. Dia meremas kerah baju sekolahku sampai aku terjinjit. “Persetan! Sudah berani melawan orang tua?! Dasar anak kurang ajar!” pipiku terasa sangat perih, konsekuensi dari mengganggu monster adalah dikejar dan terbunuh. Sama seperti mengganggu ayah, namun kali ini aku hanya mendapati lebam di sekujur tubuh.

Perlu aku jelaskan bahwa ibuku memang perempuan paling mempesona: bisa dibilang satu-satunya ditempatku tinggal. Nasibnya naas ketika ia harus melunaskan hutang kakekku dengan menikahi si bengis bau neraka (bahasa halusnya lagi adalah ayahku). Semua hutang yang lunas itu tidak menjamin kehidupan ibu selanjutnya menjadi lebih baik. Ayah yang sedari aku masih menjadi bayi merah sudah kecanduan dengan judi. Kemampuannya berjudi tidak lebih baik dan membuat semua yang dia miliki tergerus tak tersisa. Hal itu membuat hidupku dan ibu sengsara, mungkin selamanya.

Pagi hari terasa sangat cepat. Kemarin malam pikiranku terlalu bising sampai aku tidak sanggup melihat mentari esok hari. Bagaimana bisa aku hidup seorang diri dengan monster bengis itu. Bahkan aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan (yang sebenarnya tak sudi aku ucapkan) pada ibu. Tidak ada lagi yang menyambutku pulang, tidak ada lagi masakan mewah (meskipun itu hanya tahu dan tempe yang kaya rasa) dari dapur, tidak ada lagi yang menyemangatiku dari dekat. Raga dan jiwaku terasa berat sekali.

Namun hari ini aku terpaksa harus bangun dan pergi ke sekolah, berharap teman-teman mengucapkan selamat untuk tetap bertahan selama 17 tahun di dunia. Ucapan yang tidak lagi aku dapatkan dari rumah, karena satu-satunya yang peduli telah pergi meninggalkanku. Aku mengambil bongkahan es dari kulkas dan mencampurkannya dengan air, kutenggelamkan wajah yang rusak ini selama beberapa menit. Berharap teman-temanku tidak menaruh curiga, meskipun aku sangat mengharapkan belas kasihan.

Sorak sorai dalam kelas tertuju padaku. “Happy sweet seventeen Nina! Akhirnya bisa bikin KTP”. “Asik legal nih, dugem ga sih” celetuk sekelompok anak lelaki bangku belakang. Dengan tegas teman-teman perempuanku meneriaki mereka “Eh norak! Enak aja ngajak-ngajak Nina ketempat begituan!”.

“Lagian ya Nina tuh terlalu pinter buat bergaul sama kalian, gak level tau!” ledek anak perempuan yang lainnya. Sekelompok anak lelaki itu sama sekali tidak tersinggung dan hanya tertawa mengejek. Tiba-tiba saja mereka semua membawa sebuah kue tart dengan hiasan macaron yang manis.

“Nina, sekali lagi happy birthday ya! Sorry kita semua cuman mampu patungan beli kue ini … tapi kita yakin orang tuamu bisa kasih lebih dibanding kita” mendengar hal itu aku hanya bisa terdiam mematung. Penyamaranku selama 3 tahun ini ternyata membuahkan nir-empati yang mendalam.

Namun aku tidak menganggap itu sebuah hinaan, karena sejatinya mereka tidak mengetahui apapun. Karena tidak mau dianggap tidak tahu diri akhirnya aku berseru “Makasih semuanya! Ini bukan sekedar ‘cuman’. Lagipula orang tuaku juga sibuk sama kerjaan mereka hehehe.”

Waktu berlalu sampai bertubin. Saat sedang merasa kurang bersemangat akibat jam pelajaran terakhir, tiba-tiba sebuah notifikasi email masuk dalam ponselku. Seketika tubuh ini dingin berkeringat. Apakah hal yang aku tunggu telah tiba hilalnya? Aku memberanikan diri untuk membuka notifikasi itu. Rasanya seperti meminum 1000 suplemen vitamin, tubuhku mendadak mendapat kekuatan.

Setelah sebelumnya melalui lika-liku dalam membuat portofolio gambar untuk pendaftaran kampus, akhirnya aku diterima dan mendapatkan beasiswa penuh di kampus seni ternama impianku. Mengetahui hal itu, teman-temanku turut senang dan sudah menduga aku pasti bisa mendapatkannya. Satu hal yang menjadi pikiranku, bagaimana aku membawa kabar ini pada ibu.

Saat kembali ke bilik imajinasi adalah hal yang (setidaknya) menyenangkan. Aku teringat dengan cat dan kanvas baru yang belum kusentuh. Jari jemariku menari diatas kasarnya permukaan kanvas yang bersetubuh dengan lembutnya kilauan akrilik warna lembut. Saat sedang asyik menuangkan keluh kesahku tiba-tiba semua ruangan menjadi gelap. Aku bergegas mencari lilin dan menyalakannya. Dengan hati-hati menempatkan di beberapa sudut rumah supaya tidak temaram.

“Heh anak jalang, sehabis lulus sekolah langsung cari kerja di kota atau kawin saja dengan orang kaya, biar saya tidak perlu nanggung beban!” ungkapnya dengan gerutu. Hatiku tersayat mendengar ucapan ayah, ia seolah mematikan mimpiku yang belum saja aku tunjukkan. Dengan gugup aku mendekati keberadaan ayah.

Angin panas malam hari membuat sebagian orang kesal. Aku tahu bukan sebuah langkah tepat untuk memberi tahu ayah tentang pemberitahuan penerimaanku di Kampus Seni. Namun bagaimana pun, dia tetap orang tuaku. Dia berhak tau meskipun tidak peduli. “Tapi.. Nina diterima kuliah dan … dapat beasiswa penuh” dia menatapku dalam lalu tertawa terbahak-bahak. “Anak jalang tidak tahu malu ini bermimpi ingin kuliah? Kau sudah dewasa tak perlu berpikir tentang sekolah, cari duit sebanyak-banyaknya! Atau kalo kau pasrah jadi lonte aja ikuti si jalang yang kau sebut ibu itu!” ucapnya mengejek.

Aku sudah tidak tahan dengan apa yang dia ucapkan. Menurutku, kata-kata itu sudah diluar batas nalar manusia normal, atau bisa disebut tidak pantas seorang ayah berbicara seperti itu pada anaknya. Kata-kata orang dewasa sangat berisik. Hal itu yang membuatku benci menjadi dewasa karena aku juga akan menjadi semakin berisik. Hal lain yang membuatku semakin membenci menjadi dewasa adalah ayah akan semakin tua, dan aku harus berjuang untuk diriku sendiri dan menampung si tua bangka bengis karena dia yang semakin rapuh.

Perjuangan yang tak menuju ujung. “Ayah tega! Apa sih salah Nina selama ini? Sekali aja Nina pengen bahagia!” tangisku pecah. “Ayah rampas kebahagiaan Nina! Ayah ambil ibu dari Nina! Ayah kubur mimpi Nina yang satu- satunya bisa mengangkat hidup Nina!” amarahku memuncak disertai dengan isak tangis. “Bajingan!” teriaknya.

Tubuh ini dibuat lelah. Rasanya sudah tidak mampu mentolerir rasa sakit. Aku terbanting berkali-kali menyentuh ubin dan bilik. Dengan keadaan hampir sekarat aku masih sempat memikirkan ibu. “Bu, Nina diterima kuliah … ibu harus lihat Nina pakai jas almamater” dalam batinku berucap. Setidaknya aku sudah memberi tahu ibu perihal kabar ini, meskipun dalam hati.

Terdengar sayup-sayup suara ayah memaki seolah setan menguasai dirinya. Tak henti dia menghantam tulang-tulang keringku meskipun dia (mungkin) sadar aku sudah tidak berdaya. Seketika tempurung kepalaku menghantam sebuah benda keras, membuatnya mengeluarkan suara nyaring yang cukup lama. Semua mendadak gelap pekat, aku tidak bisa merasakan lagi lilin yang memancarkan cahayanya.

Saat berhasil membuka mata, kurasakan tubuh ini kaku dan dingin. Aku melihat sekeliling; namun nampak sedikit berkabut. Pergerakan terbatas yang hanya bisa kulihat tampak depan saja. Aku melihat ruangan asing, bukan seperti rumahku biasanya. Ruangan itu tampak cukup bersih dan mewah. Tiba-tiba seorang pria dengan perawakan ceking duduk di hadapanku.

Ia menghisap tembakau di sisi mulut kirinya dan memegang sebuah palet bercorak menyala. Dia angkat kuas-kuasnya itu lalu digoreskan pada tubuh ini. Aku bisa merasakan kehangatan dari setiap goresan yang terhubung satu-persatu, menciptakan sebuah lukisan bangau kertas yang penuh ikatan batin. Seperti melihat kaleidoskop, keberadaanku sebagai lukisan bangau kertas di sana membuatku menonton cuplikan kehidupan singkat dari penciptaku.

Dimulai dari pria itu yang tiba-tiba bersedih, mungkin karena merasa kehilangan segalanya. Lalu sesosok wanita lembut yang selalu ada disampingnya. Hari demi hari sang pria itu frustasi sehingga melampiaskan keputus asaannya terhadap alkohol. Pria itu semakin meluapkan amarahnya kepada wanita yang tidak bersalah.

Satu waktu, aku melihat sosok anak perempuan manis berusia 6 tahun yang tiba-tiba duduk menghampiriku. Matanya berbinar kagum melihat pancaran indah yang aku tampilkan. Anak perempuan itu mengambil sisa kuas yang sudah hampir sepenuhnya kering, sambil sesekali menoleh ke arahku.

Dia ingin melukisku juga pada permukaan bilik kosong sebelah kanvas. Mengetahui yang anak itu perbuat, tampaknya sang pria penciptaku murka dan mulai memukuli anak malang itu. Seketika semua cuplikan yang kulihat dibalik kanvas menjadi gelap seperti kaset yang sudah rusak.

Bangau kertas memiliki beberapa kesamaan denganku. Mereka melimpahkan pengharapan meskipun tidak peduli betapa sulitnya kami terbentuk. Satu hal yang membuatku sedikit kecewa pada bangau kertas. Angan untuk berumur panjang kini sudah menjadi debu yang tertiup angin. []

Enigma Hujan
Baca Tulisan Lain

Enigma Hujan


Apakah artikel ini membantu?

3 thoughts on “Bangau Kertas

  1. aaa such a beautiful (fckng hurt arghh) story. you did a great job for a beginner and i loooove to read more! ditunggu karya selanjutnya ya cantikkk🥹🫶🏻

  2. Cerita yang memaksa pembaca tetap membaca sampai akhir.. Ditambah Ujung cerita yang tak terduga… h

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *